Teknik Cognitive Restructuring: Pengertian dan Langkah-langkah Praktisnya
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memiliki pola pikir yang sehat sangat berpengaruh terhadap motivasi dan keseharian seseorang, terutama dalam proses belajar. Salah satu teknik yang kini banyak digunakan untuk membantu mengelola pikiran negatif adalah cognitive restructuring.
Apa Itu Cognitive Restructuring?
Menurut Latifatus Sholekah, Rosalia Dewi Nawantara, dan Setya Adi Sancaya dalam makalah Penerapan Teknik Cognitive Restructuring untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa, teknik cognitive restructuring (CR) menurut Ellis (dalam Nursalim, 2013) memusatkan perhatian pada upaya mengidentifikasi dan mengubah pikiran maupun pernyataan diri negatif atau irasional menjadi pikiran-pikiran yang positif dan rasional. Sholekah, Nawantara, dan Sancaya juga mengutip Oemarjoedi (dalam Nurrohmah, 2019) yang menjelaskan bahwa CR adalah teknik CBT yang bertujuan menata kembali pikiran serta menghilangkan keyakinan irasional yang menyebabkan ketegangan dan kecemasan.
Sholekah, Nawantara, dan Sancaya menyimpulkan bahwa CR adalah teknik yang mengubah pola pikir, asumsi, dan keyakinan siswa dari negatif menjadi positif, mengajarkan siswa untuk berpikir positif dan logis tentang pengalaman mereka sehingga memiliki pemikiran yang lebih rasional. Teknik ini merupakan salah satu teknik dalam pendekatan Cognitive Behavior Therapy (CBT), yang melibatkan penerapan prinsip-prinsip belajar pada pikiran untuk mencapai respons emosional yang lebih baik (Erford, 2015).
Langkah-langkah Cognitive Restructuring
Sholekah, Nawantara, dan Sancaya, mengutip Saputra (2017), merinci lima tahap penerapan teknik cognitive restructuring:
Rasional perlakuan — konselor menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan konseling dengan teknik cognitive restructuring.
Identifikasi pikiran negatif pada situasi masalah — konselor melakukan analisis terhadap pikiran-pikiran siswa dalam situasi yang mengandung tekanan dan menyebabkan turunnya motivasi belajar.
Pengenalan serta perpindahan dari pikiran negatif ke coping thought — konselor mengenalkan coping thought dan melatih siswa berpindah dari pikiran yang menurunkan motivasi belajar ke pikiran yang menanggulangi.
Pengenalan dan latihan penguatan diri — konselor mengajari siswa cara memberikan penguatan diri untuk setiap keberhasilan yang dicapai.
Tugas rumah dan tindak lanjut — konselor memberikan kesempatan kepada siswa mempraktikkan penguasaan coping thought dalam situasi yang sebenarnya.
Motivasi Belajar dan Ciri-cirinya
Sholekah, Nawantara, dan Sancaya, mengutip Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2013), menjelaskan ciri-ciri siswa dengan motivasi belajar rendah: tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatian tidak tertuju pada pelajaran, suka mengganggu teman di kelas, dan sering meninggalkan pelajaran yang berakibat pada kesulitan belajar. Sebaliknya, mengutip Sardiman (2011), ciri-ciri siswa dengan motivasi belajar tinggi meliputi: tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan, tidak cepat puas dengan prestasi yang dicapai, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini, dan senang memecahkan soal-soal.
Cognitive Restructuring untuk Meningkatkan Motivasi Belajar
Sholekah, Nawantara, dan Sancaya menjelaskan bahwa penerapan CR diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa — bukan hasil yang telah terbukti secara empiris dalam makalah ini. Alasan penggunaan teknik CR adalah karena motivasi belajar berkaitan dengan pola pikir individu yang kurang berusaha atau tidak yakin dengan kemampuannya sendiri, sehingga jenis konseling yang cocok adalah yang berkaitan dengan kognitif — yaitu teknik cognitive restructuring, yang membantu siswa mengubah pemikiran salah dan mendasar menjadi pemikiran yang lebih rasional, realistis, dan positif.
Kesimpulan
Cognitive restructuring merupakan strategi konseptual dari pendekatan CBT untuk mengubah pola pikir negatif menjadi lebih positif melalui lima tahap terstruktur: rasional perlakuan, identifikasi pikiran negatif, pengenalan coping thought, latihan penguatan diri, dan tugas rumah. Berdasarkan Sholekah, Nawantara, dan Sancaya, teknik ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang rendah, meski makalah ini bersifat kajian konseptual dan belum menyajikan bukti empiris dari penerapan langsung.