Konten dari Pengguna

Teori Disonansi Kognitif: Konsep, Perkembangan, dan Implikasinya

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Teori Disonansi Kognitif. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Teori Disonansi Kognitif. Gambar: Pexels.

Teori disonansi kognitif merupakan salah satu teori paling berpengaruh dalam psikologi sosial yang menjelaskan bagaimana manusia berusaha menjaga konsistensi antara keyakinan dan perilakunya. Di tengah derasnya arus informasi digital, pemahaman mengenai bagaimana seseorang menyesuaikan diri saat menghadapi informasi yang saling bertentangan menjadi semakin relevan untuk membangun ketahanan psikologis

Apa Itu Teori Disonansi Kognitif?

Teori ini awalnya dikembangkan oleh Leon Festinger untuk menjelaskan reaksi psikologis ketika seseorang memiliki elemen kognisi yang tidak sejalan

Menurut Aliyah Nur’aini Hanum, Dewi Utami, dan Widha Anistya Suwarso dalam dokumen Disonansi Kognitif Masyarakat Kalimantan Barat Akibat Banjir Informasi COVID-19, disonansi muncul sebagai bentuk ketidaknyamanan batin. Menurut Festinger (dalam West dan Turner, 2013:137 dikutip dalam Hanum dkk.) disonansi kognitif yaitu perasaan yang dimiliki oleh orang ketika mereka menemukan diri mereka dalam sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Proses ini menimbulkan rasa tidak nyaman karena terjadi ketidakseimbangan antara apa yang ia inginkan dan apa yang ia ketahui.

Perkembangan Teori dalam Konteks Modern

Meskipun prinsip dasarnya tetap sama, penerapan teori ini dalam konteks modern menekankan pada pengaruh media dan lingkungan sosial yang masif. Jika pendekatan awal lebih fokus pada konflik internal individu, studi terbaru menyoroti bagaimana teknologi mengubah cara informasi memicu disonansi. Aliyah Nur’aini Hanum dkk. menjelaskan pengaruh media baru tersebut: "Sebagai akibat dari adanya media sosial dengan segala fiturnya inilah lalu lintas informasi tidak lagi dapat dibendung. Informasi menghantam masyarakat dari segala penjuru, dari sekian banyak sumber. Akhirnya, yang terjadi adalah banjir informasi"

Faktor Penyebab dan Mekanisme Penyesuaian

Disonansi kognitif dapat dipicu oleh ketidaksesuaian antara informasi baru dengan keyakinan yang sudah lama dipegang, atau tekanan dari lingkungan. Untuk mengurangi ketidaknyamanan tersebut, individu biasanya melakukan rasionalisasi atau penyesuaian kognitif. Berdasarkan Disonansi Kognitif Masyarakat Kalimantan Barat Akibat Banjir Informasi COVID-19, terdapat tiga cara utama pengurangan disonansi: "Pengurangan disonansi dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu: mengubah elemen tingkah laku, mengubah elemen kognitif lingkungan, dan menambah elemen kognitif baru" .

Selain itu, individu juga menggunakan proses persepsi selektif untuk menjaga stabilitas mentalnya. Sebagaimana dijelaskan dalam penelitian Hanum dkk.: "Teori disonansi kognitif berkaitan dengan proses persepsi yang meliputi selective exposure, selective attention, selective interpretation, dan selective retention. Hal ini dikarenakan teori disonansi kognitif memprediksi bahwa orang akan menghindari informasi yang akan menambah disonansi"

Studi Kasus: Masyarakat Kalimantan Barat Selama Pandemi COVID-19

Fenomena ini terlihat nyata ketika masyarakat menghadapi banjir informasi mengenai pandemi COVID-19 yang sering kali saling bertentangan. Banyak individu mengalami kebingungan dalam memilah informasi yang akurat dari sumber resmi dengan berita bohong (hoaks) yang beredar di media sosial. Hanum dkk. mencatat temuan mereka sebagai berikut: "Hasil penelitian menunjukkan masyarakat yang mempersepsikan informasi mengenai pandemi COVID-19 sebagai hal yang bertentangan dengan kepercayaannya berada dalam rentang penolakan informasi, dan mengalami disonansi kognitif yang bervariasi tingkatannya sesuai dengan latar belakang dirinya dan nilai-nilai yang dia anut".

Pentingnya Literasi Informasi

Dalam menghadapi tantangan kognitif ini, literasi informasi menjadi kunci utama untuk mengurangi dampak negatif disonansi. Masyarakat perlu didorong untuk melakukan verifikasi terhadap informasi yang diterima agar tidak terjebak dalam pengambilan keputusan yang kurang tepat akibat kebingungan informasi

Kesimpulan

Teori disonansi kognitif memberikan kerangka penting untuk memahami reaksi manusia terhadap informasi yang bertentangan di era digital. Dengan mengenali mekanisme penyesuaian diri seperti paparan selektif dan rasionalisasi, individu dapat lebih adaptif dalam mengelola konflik internal. Kesadaran akan pentingnya sumber informasi yang kredibel merupakan nutrisi esensial bagi kesehatan mental masyarakat modern.