Konten dari Pengguna

Teori Dollard dan Miller: Konsep, Karier, Implikasi Memahami Perilaku Agresif

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perilaku Agresif. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perilaku Agresif. Gambar: Pexels.

Pemahaman tentang perilaku agresif dalam psikologi sangat dipengaruhi oleh teori-teori belajar. Salah satu pendekatan yang sering dibahas adalah hipotesis frustrasi-agresi yang dikembangkan oleh Dollard, Doob, Miller, Mowrer, dan Sears, serta teori pembelajaran sosial (social learning theory) yang dipelopori oleh Miller dan Dollard. Pendekatan ini menawarkan penjelasan mengenai bagaimana pengalaman hidup dan proses pembelajaran dapat membentuk respons agresif pada seseorang.

Konsep Utama Teori Dollard dan Miller

Teori Dollard dan Miller banyak dirujuk dalam studi perilaku, khususnya terkait hubungan antara frustrasi dan agresi.

Dasar Teori Dollard dan Miller

Menurut Badrun Susantyo dalam Memahami Perilaku Agresif: Sebuah Tinjauan Konseptual, perspektif frustrasi-agresi atau hipotesis frustrasi-agresi (frustration-aggression hypothesis) berandaian bahwa bila usaha seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami hambatan, akan timbul dorongan agresif yang pada gilirannya akan memotivasi perilaku yang dirancang untuk melukai orang atau objek yang menyebabkan frustrasi (Dollard, Doob, Miller, Mowrer, dan Sears, dalam Brigham, 1991, dikutip dalam Susantyo, 2011).

Menurut formulasi ini, agresi bukan dorongan bawaan, tetapi karena frustrasi merupakan keadaan yang cukup universal, agresi tetap merupakan dorongan yang harus disalurkan. Lebih jauh, Dollard dkk. mengemukakan bahwa walaupun frustrasi menimbulkan perilaku agresif, tetapi perilaku agresif dapat dicegah jika ada hukuman terhadap pelaku (Susantyo, 2011). Dalam kenyataannya, tidak setiap perilaku agresif dapat diarahkan pada sumber frustrasi, sehingga orang akan mengarahkan pada sasaran lain (Worchel & Cooper, 1986, dalam Susantyo, 2011).

Penting dicatat bahwa hipotesis ini merupakan karya kolaborasi lima tokoh: John Dollard, Leonard Doob, Neal E. Miller, O.H. Mowrer, dan Robert Sears, yang diterbitkan dalam Frustration and Aggression (Yale University Press, 1939) — bukan semata karya dua orang saja.

Teori Pembelajaran Sosial

Dari sudut pandang psikologi, Susantyo (2011) mencatat bahwa teori social learning dipelopori oleh Neil Miller dan John Dollard, yang meyakini bahwa perilaku agresif merupakan perolehan dari hasil belajar yang dipelajari sejak kecil dan dijadikan sebagai pola respons. Dalam perkembangan selanjutnya, Bandura dan Walters (1959, 1963) mengusulkan perbaikan atas gagasan Miller dan Dollard tentang belajar melalui peniruan, dengan menyarankan bahwa kita belajar banyak perilaku melalui peniruan bahkan tanpa adanya penguatan (reinforcement) sekalipun — proses pembelajaran ini disebut observational learning atau pembelajaran melalui pengamatan (Susantyo, 2011).

Teori pembelajaran sosial yang kemudian dikembangkan lebih luas oleh Albert Bandura meyakini bahwa perilaku agresif merupakan perilaku yang dipelajari dari pengalaman masa lalu melalui pengamatan langsung (imitasi), pengukuh positif, dan stimulus diskriminatif. Perilaku agresif dapat dipelajari melalui modeling dalam keluarga, lingkungan kebudayaan setempat, atau melalui media massa (Bandura, 1973, dalam Susantyo, 2011).

Perjalanan Karier Dollard dan Miller

John Dollard dan Neal E. Miller merupakan sosok penting dalam psikologi modern. Keduanya dikenal luas berkat kontribusi di bidang teori belajar sosial dan perilaku.

Biografi Singkat John Dollard

John Dollard (1900–1980) adalah psikolog dan sosiolog Amerika yang mengembangkan minat pada hubungan antara budaya, kepribadian, dan perilaku sosial. Ia merupakan profesor di Universitas Yale dan dikenal atas karyanya dalam mengintegrasikan teori psikoanalisis dengan teori belajar. Bersama Miller dan kolega, ia mempublikasikan Frustration and Aggression (1939) yang menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam psikologi sosial abad ke-20.

Biografi Singkat Neal E. Miller

Neal E. Miller (1909–2002) adalah psikolog eksperimental Amerika yang kariernya berpusat di Yale University dan kemudian Rockefeller University. Ia dikenal atas riset tentang motivasi, konflik, dan pembelajaran — termasuk studi tentang kondisioning instrumental dan umpan balik biologis (biofeedback). Miller mendapat penghargaan bergengsi termasuk National Medal of Science (1964) dari Presiden AS. Bersama Dollard, ia mempublikasikan Social Learning and Imitation (1941) dan Personality and Psychotherapy (1950), yang menjadi landasan teori kepribadian berbasis belajar.

Kolaborasi dan Karya Penting

Kerja sama Dollard dan Miller menghasilkan dua karya monumental. Pertama, Frustration and Aggression (Dollard, Doob, Miller, Mowrer, & Sears, 1939, Yale University Press) yang memperkenalkan hipotesis frustrasi-agresi sebagai rujukan penting dalam psikologi perilaku. Kedua, Social Learning and Imitation (Miller & Dollard, 1941, Yale University Press) yang meletakkan dasar teori pembelajaran sosial berbasis stimulus-respons. Menurut Susantyo (2011), teori social learning yang dipelopori Neil Miller dan John Dollard ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Albert Bandura menjadi kerangka pembelajaran sosial yang dikenal hingga kini.

Implikasi Teori Dollard dan Miller dalam Studi Perilaku Agresif

Konsep yang dikembangkan oleh Dollard dan Miller terus digunakan untuk menganalisis perilaku agresif di masyarakat. Teori ini membantu menjelaskan mengapa seseorang bisa merespons frustrasi dengan cara yang berbeda-beda.

Analisis Agresi Berdasarkan Teori

Seperti dijelaskan oleh Susantyo (2011), teori pembelajaran sosial memandang perilaku agresif sebagai perilaku yang dipelajari dari pengalaman masa lalu melalui imitasi, pengukuh positif, dan stimulus diskriminatif. Setiap individu dapat mengembangkan pola agresi yang berbeda bergantung pada pengalaman masa lalu dan penguatan yang diterima dari lingkungan.

Perilaku agresi yang disertai pengukuh positif akan meningkatkan kecenderungan perilaku agresi; pengukuh positif dalam konteks sehari-hari seringkali diekspresikan dengan persetujuan verbal dari orang-orang di sekelilingnya (Wiggins, Wiggins & Zanden, 1994, dalam Susantyo, 2011). Sebaliknya, perilaku agresif dapat dicegah melalui hukuman yang konsisten terhadap perilaku tersebut (Dollard dkk., dalam Susantyo, 2011).

Studi Kasus dan Aplikasi

Penerapan teori Dollard, Miller, dkk. banyak ditemukan dalam dunia pendidikan dan konseling. Hipotesis frustrasi-agresi membantu menjelaskan mengapa siswa yang mengalami kegagalan berulang dalam pencapaian tujuan akademik dapat menunjukkan perilaku disruptif. Konsep pembelajaran melalui pengamatan (observational learning) dari Bandura — yang merupakan pengembangan dari teori Miller dan Dollard — diterapkan secara luas dalam program intervensi perilaku agresif pada anak, baik melalui penggunaan model peran positif maupun pengelolaan lingkungan media (Bandura, 1973, dalam Susantyo, 2011).

Kesimpulan

Teori Dollard, Doob, Miller, Mowrer, dan Sears memberikan pemahaman yang kuat tentang mekanisme di balik perilaku agresif melalui hipotesis frustrasi-agresi: hambatan terhadap pencapaian tujuan memunculkan dorongan agresif yang dapat diarahkan pada berbagai sasaran. Sementara itu, teori pembelajaran sosial yang dipelopori Miller dan Dollard menegaskan bahwa perilaku agresif bukan bawaan biologis semata, melainkan juga hasil proses belajar yang dapat dipengaruhi oleh pengukuh dan model dari lingkungan. Pengembangan kedua teori ini oleh Bandura melalui observational learning memperluas kerangka pemahaman perilaku agresif hingga menjadi salah satu teori psikologi sosial paling berpengaruh di abad ke-20.