Konten dari Pengguna

Teori Identitas Sosial: Konsep, Pencetus, dan Implikasinya

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Identitas Sosial. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Identitas Sosial. Gambar: Pexels.

Teori identitas sosial menjadi landasan penting dalam memahami bagaimana seseorang merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu. Konsep ini sering digunakan untuk menjelaskan dinamika kelompok, baik di dunia nyata maupun di komunitas virtual.

Pengertian Teori Identitas Sosial

Berdasarkan jurnal Hubungan antara Identitas Sosial dan Konformitas pada Anggota Komunitas Virtual Kaskus Regional Depok, sebuah teori identitas sosial dari perilaku kelompok dan hubungan individu-kelompok diperkenalkan, dan dari teori tersebut berasal teori lebih lanjut dari pengaruh sosial dan polarisasi kelompok (Fransisca Nurmalita Hapsari Utami & Betty Yuliani Silalahi, 2013). Hal ini menunjukkan bagaimana teori identitas sosial dari perilaku kelompok, pengaruh sosial, dan polarisasi kelompok secara eksplisit mengasumsikan interaksi fungsional antara proses psikologis dan sosial (Utami & Silalahi, 2013, mengutip Turner & Oakes, 2011).

Definisi Teori Identitas Sosial

Menurut Tajfel (1982) sebagaimana dikutip Utami & Silalahi (2013), identitas sosial adalah bagian dari konsep diri seseorang yang berasal dari pengetahuan mereka tentang keanggotaan dalam suatu kelompok sosial bersamaan dengan signifikansi nilai dan emosional dari keanggotaan tersebut. Identitas sosial merupakan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang anggota kelompok atas kelompoknya yang dianggap sesuai dengan identitas yang ada pada dirinya; keberadaannya pada kelompok akan membentuk ikatan emosi antara dirinya dan kelompoknya (Utami & Silalahi, 2013).

Elemen-elemen Utama dalam Teori Identitas Sosial

Hogg dan Abram (2002) sebagaimana dikutip Utami & Silalahi (2013) menambahkan bahwa rasa keterikatan, peduli, serta bangga yang berasal dari pengetahuan seseorang dalam berbagai kategori keanggotaan sosial dengan anggota yang lain, bahkan tanpa perlu memiliki hubungan personal yang dekat, merupakan bagian inti dari identitas sosial. Turner (2006) sebagaimana dikutip Utami & Silalahi (2013) menjelaskan dalam hal pengoperasian proses perbandingan sosial antara kelompok berdasarkan kebutuhan akan identitas ingroup positif — perbandingan ini menimbulkan proses diferensiasi bersama antara kelompok-kelompok yang dapat dianalisis sebagai bentuk persaingan sosial.

Pencetus Teori Identitas Sosial

Henri Tajfel dikenal sebagai pelopor teori identitas sosial. Ia merumuskan bahwa identitas sosial memengaruhi cara seseorang mempersepsikan dirinya di tengah kelompok. Teori ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh John C. Turner dan kawan-kawan, yang menjelaskan bagaimana identitas sosial memandu perilaku kelompok, pengaruh sosial, dan polarisasi kelompok (Utami & Silalahi, 2013).

Penerapan Teori Identitas Sosial dalam Komunitas Virtual

Komunitas virtual menjadi arena baru penerapan teori identitas sosial. Di lingkungan daring, identitas kelompok dapat terbentuk melalui interaksi antar anggota dan simbol-simbol tertentu.

Studi Kasus Komunitas Virtual Kaskus Regional Depok

Pengguna Kaskus yang awalnya bertemu secara online atau lewat dunia maya lambat laun membentuk komunitas berdasarkan daerah atau domisili pengguna tersebut tinggal, yang disebut Komunitas Kaskus Regional (KKR). Setelah masuk dalam keanggotaan, akan dibentuk pengurus dan anggota yang memiliki pembagian kerja tertentu (Utami & Silalahi, 2013). Interaksi yang terdapat di komunitas ini berupa online dan offline (Utami & Silalahi, 2013).

Hubungan Identitas Sosial dan Konformitas di Komunitas Virtual

Hasil penelitian Utami & Silalahi (2013) terhadap 50 anggota komunitas Kaskus Regional Depok menemukan terdapat hubungan yang signifikan antara identitas sosial dengan konformitas. Arah korelasinya adalah negatif — semakin tinggi identitas sosial maka akan semakin rendah konformitas pada komunitas Kaskus Regional Depok, sedangkan semakin rendah identitas sosial maka akan semakin tinggi konformitas (Utami & Silalahi, 2013). Dengan kata lain, anggota yang memiliki identitas sosial kelompok yang kuat justru cenderung lebih mandiri dalam bersikap.

Konformitas itu sendiri muncul karena adanya kesamaan minat, nilai, dan norma yang dianut oleh anggota kelompok, serta adanya interaksi yang terus-menerus dalam suatu kelompok tertentu (Utami & Silalahi, 2013, mengutip Sarwono, 2002).

Kesimpulan

Teori identitas sosial memberi pemahaman mendalam tentang bagaimana seseorang membangun rasa kebersamaan di tengah kelompok, termasuk di komunitas virtual. Penelitian pada komunitas Kaskus Regional Depok menunjukkan bahwa identitas sosial dan konformitas memiliki hubungan yang signifikan namun bersifat negatif — sehingga pemahaman tentang teori ini perlu memperhatikan arah hubungan tersebut agar tidak menyesatkan dalam interpretasi dinamika kelompok daring.