Universalitas dalam Psikologi: Pengertian dan Teori Universalitas
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemahaman tentang universalitas menjadi salah satu fondasi penting dalam dunia psikologi pendidikan. Konsep ini berkaitan erat dengan pencarian pola atau prinsip yang berlaku umum pada manusia, sehingga sangat membantu dalam memahami perilaku individu di berbagai lingkungan. Universalitas juga menjadi acuan saat merancang pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan secara luas.
Pengertian Universalitas dalam Psikologi
Universalitas dalam psikologi mengacu pada prinsip atau karakteristik yang berlaku untuk semua manusia. Dalam buku Psikologi Pendidikan, dirumuskan bahwa walaupun setiap individu dikatakan unik, namun aspek-aspek individu mereka adalah sama, sebab aspek-aspek jiwa ini dikembangkan sendiri oleh para ahli (Hidayah dkk., 2017). Para ahli membagi jiwa itu menjadi tiga fungsi yaitu afeksi, kognisi, dan psikomotor (Hidayah dkk., 2017).
Aspek-aspek individu yang bersifat universal tersebut mencakup: (1) rohani, yang meliputi agamis, perasaan, kemauan, pikiran, kemasyarakatan, dan cinta tanah air; dan (2) jasmani, yang mencakup keterampilan, kesehatan, dan keindahan tubuh (Hidayah dkk., 2017). Konsep ini memudahkan pemahaman tentang perilaku manusia yang cenderung serupa di berbagai tempat dan waktu.
Teori Universalitas dalam Psikologi
Penjelasan tentang teori universalitas dalam psikologi berangkat dari upaya menemukan prinsip-prinsip pendidikan yang berlaku luas
Ciri-ciri Universalitas Psikologi
Hidayah dkk. (2017) menggambarkan universalitas melalui konsep perlengkapan peserta didik sebagai subjek. Perlengkapan tersebut secara garis besar dibagi menjadi lima kelompok yang berlaku umum pada setiap individu: (1) watak; (2) kemampuan umum (inteligensi); (3) kemampuan khusus/bakat; (4) kepribadian; dan (5) latar belakang (Hidayah dkk., 2017). Kelima aspek ini merupakan komponen universal yang dapat dijumpai pada seluruh peserta didik, meskipun dengan kadar yang berbeda-beda.
Selain itu, dokumen sumber menyebutkan bahwa menurut konsep pendidikan di Indonesia, individu manusia harus berkembang secara total membentuk manusia yang berkembang seutuhnya, dan perkembangan seutuhnya adalah perkembangan individu yang memenuhi tiga kriteria yakni: (1) semua potensi berkembang secara proporsional, berimbang, dan harmonis; (2) berkembang secara optimal; dan (3) berkembang secara integratif (Hidayah dkk., 2017). Ketiga kriteria ini berlaku secara universal bagi semua peserta didik.
Aspek universal lain yang dibahas dokumen sumber adalah motivasi. Faktor-faktor yang menentukan motivasi adalah: (1) minat dan kebutuhan individu; (2) persepsi kesulitan akan tugas-tugas; dan (3) harapan sukses (Hidayah dkk., 2017). Motivasi sebagai penggerak belajar berlaku universal pada seluruh peserta didik.
Contoh Penerapan Universalitas dalam Psikologi Pendidikan
Dalam praktik pendidikan, universalitas terlihat pada ciri-ciri motivasi yang mendorong untuk berprestasi, yang meliputi: (1) mengejar kompetensi; (2) usaha mengaktualisasi diri; dan (3) usaha berprestasi (Hidayah dkk., 2017) — pola motivasi ini berlaku universal di berbagai latar belakang budaya dan kondisi siswa.
Dokumen sumber juga menegaskan bahwa setiap pendidik harus mengetahui dan memahami perkembangan psikologi peserta didik, agar proses belajar mengajar bisa berjalan dengan optimal serta menambah wawasan peserta didik untuk bisa diterapkan di masa yang akan datang dan bersifat permanen (Hidayah dkk., 2017). Ini menegaskan bahwa prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang universal dapat diterapkan secara lintas konteks.
Pentingnya Universalitas untuk Studi Psikologi Pendidikan
Universalitas memiliki peran sentral dalam pengembangan strategi pembelajaran yang inklusif. Dengan memahami aspek-aspek universal — mulai dari aspek afeksi, kognisi, dan psikomotor, hingga lima komponen perlengkapan peserta didik — para pendidik dapat menyesuaikan pendekatan agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik di berbagai lingkungan.
Dokumen sumber menegaskan bahwa dengan bantuan pendidik diharapkan aspek-aspek pada individu itu dapat berkembang dan berbentuk sebagaimana mestinya secara wajar (Hidayah dkk., 2017) Kesembilan aspek yang disebutkan semula merupakan potensi-potensi berkala yang menjadi dasar pertumbuhan individu. Pemahaman ini mendukung pengembangan pendidikan yang berkeadilan dan efektif.
Dalam literatur internasional, Triandis (1994) dalam Culture and Social Behavior (McGraw-Hill) mengemukakan konsep "cultural universals" — aspek-aspek perilaku manusia yang ditemukan secara lintas budaya, seperti kebutuhan afiliasi, penghargaan diri, dan motivasi berprestasi — yang selaras dengan prinsip universalitas dalam psikologi pendidikan. Piaget (1952) dalam The Origins of Intelligence in Children (Norton) juga mengidentifikasi tahapan perkembangan kognitif yang bersifat universal — mulai dari sensorimotor, praoperasional, operasional konkret, hingga operasional formal — sebagai kerangka universalitas paling berpengaruh dalam psikologi pendidikan.
Kesimpulan
Universalitas dalam psikologi pendidikan merujuk pada aspek-aspek individu — afeksi, kognisi, dan psikomotor — serta pola perkembangan dan motivasi yang berlaku umum pada seluruh peserta didik. Berdasarkan buku Psikologi Pendidikan Hidayah dkk. (2017), walaupun setiap individu unik, aspek-aspek jiwa mereka adalah sama dan bersumber dari pengembangan ilmiah yang telah mapan. Pemahaman tentang universalitas ini membantu para pendidik merancang strategi pembelajaran yang inklusif, relevan, dan dapat diterapkan secara luas, tanpa mengabaikan keberagaman individual peserta didik.