Konten dari Pengguna

Vicarious Trauma: Pengertian, Ciri, dan Peran Dukungan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Vicarious Trauma. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Vicarious Trauma. Foto Unsplash.

Vicarious trauma sering dialami orang yang sehari-hari bekerja mendampingi korban kekerasan, bencana, atau penyakit berat. Mereka tidak mengalami kejadian traumatis secara langsung, namun terus mendengar kisah sulit yang menguras emosi. Kondisi ini bisa mengubah cara mereka memandang dunia, pekerjaan, bahkan diri sendiri jika tidak disadari sejak awal.

Apa Itu Vicarious Trauma?

Dalam konteks kerja membantu orang lain, vicarious trauma menggambarkan perubahan batin yang muncul setelah terpapar cerita trauma klien atau pasien secara berulang.

Menurut Amal Khalid Alqablan dan Maha Saad Almahboub dalam artikel jurnal ilmiah “Vicarious Trauma in Public Health Workers: Role of Social Workers in Prevention,” vicarious trauma merujuk pada perubahan merugikan dalam ranah emosional dan kognitif akibat paparan tidak langsung terhadap pengalaman traumatis klien. Kondisi ini dapat berdampak pada identitas, citra diri, spiritualitas, worldview, rasa aman, kepercayaan, dan harapan, sehingga mengenali gejalanya penting untuk intervensi tepat waktu dan perlindungan kesehatan mental penyedia layanan.

Definisi, Mekanisme, dan Perbedaannya dengan Stres Biasa

Secara sederhana, vicarious trauma terjadi ketika empati yang terus menerus diberikan pada korban membuat beban emosional ikut menumpuk. Paparan tidak langsung terhadap detail kasus kekerasan, kemiskinan ekstrem, atau kematian perlahan memengaruhi cara seseorang berpikir dan merasakan.

Berbeda dengan stres kerja biasa yang biasanya mereda setelah istirahat, dampak vicarious trauma cenderung lebih dalam dan bertahan lama. Kondisi ini juga tidak sama dengan burnout yang fokus pada kelelahan fisik dan mental, karena vicarious trauma lebih menonjol pada perubahan cara pandang terhadap diri, orang lain, dan dunia.

Faktor Risiko dan Konteks Pekerjaan Kesehatan Masyarakat

Kelompok yang rentan antara lain petugas kesehatan masyarakat, tenaga medis garis depan, konselor, pekerja sosial, dan relawan bencana. Mereka sering berhadapan dengan kisah hidup yang berat, sehingga akumulasi emosinya bisa sangat besar.

Di sisi individu, empati yang sangat tinggi, riwayat trauma pribadi, dan keterampilan koping yang terbatas membuat risiko semakin meningkat. Sedangkan di level organisasi, beban kerja berlebihan, kurang supervisi, minim dukungan psikososial, serta budaya kerja yang menganggap lelah sebagai hal wajar dapat mempercepat munculnya vicarious trauma.

Ciri-Ciri Vicarious Trauma dan Pentingnya Peran Dukungan

Ciri vicarious trauma kadang samar karena tampak seperti kelelahan biasa. Namun, jika diperhatikan, ada perubahan emosi, pikiran, dan perilaku yang cukup jelas. Di sinilah peran dukungan dari rekan kerja, atasan, dan tenaga profesional menjadi sangat menentukan agar kondisi tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.

Gejala Emosional, Kognitif, dan Perilaku yang Perlu Diwaspadai

Secara emosional, seseorang bisa merasa sedih berkepanjangan, mudah tersinggung, atau justru mati rasa seolah tidak mampu merasakan apa pun. Rasa bersalah karena merasa “tidak cukup menolong” juga sering muncul dan menggerogoti kepercayaan diri.

Dari sisi kognitif, pandangan tentang dunia bisa berubah menjadi lebih gelap, misalnya merasa dunia tidak aman, sulit percaya orang lain, atau pesimis terhadap masa depan. Sementara itu, gejala perilaku dan fisik dapat berupa menarik diri dari lingkungan sosial, gangguan tidur, kelelahan kronis, serta kesulitan memisahkan urusan kerja dan kehidupan pribadi.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, vicarious trauma dapat terlihat dari kombinasi gangguan emosional dan kognitif, seperti rasa sedih, cemas, mudah marah, sulit berkonsentrasi, sinisme, negativitas, serta perubahan pada sistem keyakinan dasar dan cara pandang terhadap dunia.

Peran Pekerja Sosial, Organisasi, dan Strategi Pencegahan

Pekerja sosial memiliki peran penting dalam mencegah vicarious trauma di lingkungan kesehatan dan layanan kemanusiaan. Mereka dapat mengedukasi tim tentang risiko yang mungkin muncul, menyusun program dukungan sebaya, melakukan asesmen risiko, dan membantu proses rujukan ke layanan kesehatan mental bila dibutuhkan.

Di sisi lain, organisasi perlu menyusun kebijakan beban kerja yang realistis, menyediakan supervisi rutin, mengadakan sesi debriefing setelah menangani kasus berat, serta memberi pelatihan tentang self-care dan resiliensi.

Pada level individu, langkah pencegahan mencakup menjaga batasan profesional yang sehat, melakukan refleksi diri melalui journaling atau supervisi, aktif mencari dukungan sosial, dan memberi ruang untuk istirahat serta aktivitas yang menenangkan.

Kesimpulan

Vicarious trauma mengingatkan bahwa mendengarkan cerita sulit orang lain terus menerus punya konsekuensi bagi kesehatan mental. Kondisi ini bukan sekadar lelah bekerja, melainkan perubahan cara memandang dunia yang muncul dari paparan trauma orang lain dalam jangka panjang. Mengenali gejala sejak dini membantu tenaga kesehatan, pekerja sosial, dan relawan tetap bisa menolong tanpa mengorbankan diri sendiri.

Dengan dukungan yang tepat dari individu, rekan kerja, dan organisasi, risiko vicarious trauma dapat diminimalisir. Pendekatan yang menggabungkan edukasi, kebijakan kerja yang manusiawi, serta kebiasaan perawatan diri membuat lingkungan kerja lebih aman secara emosional. Pada akhirnya, penolong yang sehat secara mental akan lebih mampu memberikan pendampingan yang berkualitas bagi orang-orang yang sedang berjuang pulih dari pengalaman traumatis.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Healing: Proses Pulih dan Berdamai dengan Diri