Konten dari Pengguna

Mengapa Air Laut Asin? Ini Penjelasan Ilmiahnya

R

Ruang Informasi

Membahas berbagai informasi dari beragam topik.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mengapa air laut asin. Foto: Unsplash.com/Pamela Heckel
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mengapa air laut asin. Foto: Unsplash.com/Pamela Heckel

Mengapa air laut asin sering menjadi pertanyaan yang muncul ketika memandang hamparan samudra luas yang menutupi sebagian besar permukaan bumi.

Rasa asin tersebut telah dikenal sejak manusia pertama kali berlayar dan memanfaatkan laut sebagai jalur transportasi maupun sumber pangan.

Fenomena kimia alami di lautan berlangsung sangat lama sehingga membentuk komposisi air laut yang berbeda dibandingkan air tawar di sungai atau danau.

Mengapa Air Laut Asin

Ilustrasi Mengapa air laut asin. Foto: Unsplash.com/Sean Oulashin

Mengapa air laut asin? Dikutip dari oceanservice.noaa.gov, hal ini berkaitan dengan proses alam yang berlangsung selama jutaan tahun, melibatkan batuan daratan, aliran sungai, aktivitas dasar laut, serta reaksi kimia di dalam samudra.

Salah satu sumber utama garam di laut berasal dari daratan. Air hujan yang turun ke permukaan bumi sebenarnya memiliki sifat sedikit asam karena bercampur dengan karbon dioksida di atmosfer.

Keasaman ringan tersebut mampu melarutkan mineral dari batuan di darat melalui proses pelapukan kimia. Batuan yang tererosi melepaskan berbagai ion mineral seperti natrium, klorida, kalsium, magnesium, dan kalium.

Ion-ion tersebut kemudian terbawa oleh air menuju sungai, lalu mengalir ke muara hingga akhirnya mencapai lautan. Proses ini berlangsung terus-menerus selama jutaan tahun sehingga jumlah garam di laut semakin meningkat.

Sebagian ion yang masuk ke laut dimanfaatkan oleh organisme laut. Fitoplankton, alga, hingga hewan laut tertentu menggunakan beberapa mineral terlarut untuk membentuk cangkang atau struktur tubuh.

Akan tetapi, tidak semua ion digunakan oleh makhluk hidup. Ion yang tidak terserap organisme tetap berada di dalam air laut dan konsentrasinya terus bertambah seiring waktu.

Sumber garam laut juga berasal dari aktivitas di dasar samudra. Di beberapa wilayah terdapat ventilasi hidrotermal atau celah pada dasar laut tempat air laut masuk ke dalam retakan kerak bumi.

Air tersebut dipanaskan oleh magma dari dalam bumi sehingga memicu reaksi kimia dengan batuan sekitarnya.

Air yang dipanaskan kemudian kembali keluar melalui ventilasi hidrotermal dengan membawa berbagai mineral logam seperti besi, seng, dan tembaga.

Proses ini menambah kandungan zat terlarut di lautan dan ikut mempengaruhi komposisi kimia air laut. Aktivitas vulkanik bawah laut juga berperan dalam menyumbangkan mineral ke lautan.

Letusan gunung api di dasar samudra dapat melepaskan berbagai unsur kimia langsung ke dalam air laut. Mineral yang larut dari proses tersebut ikut memperkaya kandungan garam.

Selain itu terdapat struktur geologi yang dikenal sebagai kubah garam atau salt dome. Struktur ini merupakan endapan garam besar yang terbentuk selama jutaan tahun dan dapat ditemukan di bawah daratan maupun di bawah laut.

Beberapa wilayah seperti landas kontinen di bagian barat laut Teluk Amerika memiliki banyak kubah garam yang turut mempengaruhi salinitas air laut di sekitarnya.

Komposisi garam dalam air laut didominasi dua jenis ion utama, yaitu klorida dan natrium. Kedua ion tersebut menyusun sekitar 85 persen dari seluruh zat terlarut di lautan.

Magnesium dan sulfat menyumbang sekitar 10 persen dari total kandungan ion, sementara sisanya terdiri dari berbagai unsur lain dalam jumlah sangat kecil.

Kadar garam laut dikenal dengan istilah salinitas. Rata-rata salinitas air laut sekitar 35 bagian per seribu. Nilai tersebut berarti sekitar 3,5 persen berat air laut terdiri dari garam yang terlarut di dalamnya.

Salinitas tidak sama di seluruh wilayah lautan. Daerah khatulistiwa dan wilayah kutub biasanya memiliki salinitas lebih rendah karena curah hujan tinggi atau pencairan es.

Daerah lintang menengah cenderung memiliki salinitas lebih tinggi akibat penguapan yang lebih kuat.

Secara keseluruhan, mengapa air laut asin akhirnya dapat dipahami sebagai hasil akumulasi mineral dari daratan, aktivitas geologi dasar laut, serta proses kimia yang berlangsung sangat lama.

Kombinasi berbagai proses alam tersebut membentuk karakteristik unik lautan yang berbeda dari sumber air lain di bumi. (Suci)

Baca Juga: Apa Saja Manfaat Virus dalam Kehidupan Manusia? Ini Penjelasannya