Mengapa Jurusan Ilmu Sejarah Kurang Diminati di Indonesia?

Iksan Rubeno
Seorang mahasiswa sejarah yang tertarik dengan sejarah kolonial, kontemporer, politik, militer, hingga sejarah peradaban Islam. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Konten dari Pengguna
9 Mei 2024 9:33 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Iksan Rubeno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi bangku perkuliahan. (Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bangku perkuliahan. (Pexels)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Setelah menempuh pendidikan di jenjang SMA, calon mahasiswa baru (camaba) mulai bergerak untuk menggali informasi seputar perguruan tinggi negeri, mulai dari ketersediaan daya tampung di setiap fakultas dan prodi, prospek kerja yang didapat setelah lulus dari bangku kuliah, rating dari suatu perguruan tinggi negeri, dan lain-lain. Semakin tinggi rating yang didapat, maka akan meningkatkan prestige seseorang di mata orang lain.
ADVERTISEMENT
Sebagai contoh, ada seorang mahasiswa UI yang tentunya memiliki rating yang sangat tinggi di antara PTN-PTN lainnya, dan dibandingkan dengan temannya yang merupakan mahasiswa UPNVJ. Apabila dilihat berdasarkan rating, maka mahasiswa UI-lah yang justru dipuji-puji setinggi langit. Padahal, kualitas suatu perguruan tinggi tidak menjamin kelulusan dan kepintaran seseorang.
Selain mempertimbangkan rating perguruan tinggi, prospek kerja yang dihasilkan tentu menjadi sebuah bahan pertimbangan tersendiri. Biasanya, beberapa fakultas ataupun program studi di setiap perguruan tinggi negeri menawarkan prospek kerja yang cukup mentereng dan banyak tersedia. Sebut saja fakultas ekonomi, hukum, FISIP (ilmu komunikasi/jurnalistik, ilmu politik, dan sejenisnya), teknik, FMIPA, dan lain-lain. Lulusan FEB dapat dilirik perusahaan-perusahaan besar menjadi akuntan, teller di bank, atau pekerjaan sejenis, begitupun lulusan FH yang tentunya dapat membuka kantor pengacara dan memiliki uang yang cukup banyak.
ADVERTISEMENT
Lalu, bagaimana dengan jurusan sejarah? Hal tersebut ternyata berbanding 180 derajat dengan jurusan-jurusan maupun fakultas yang lain. Walaupun termasuk dalam rumpun ilmu sosial-humaniora dan sangat berperan penting dalam peradaban manusia, namun minat untuk memperdalam ilmu sejarah di kalangan generasi muda (terutama generasi Z) sangat sedikit.
Di Universitas Indonesia misalnya, ketika SNBP maupun SNBT tahun 2024, jumlah pendaftar yang akan masuk ke program studi pendidikan dokter lebih banyak dibandingkan ilmu sejarah. Apabila dibandingkan, jumlah camaba SNBP yang mengambil prodi pendidikan dokter pada tahun 2023 mencapai 1.854 orang dengan persentase keketatan sekitar 2.7% dengan daya tampung sekitar 55 orang. Adapun untuk program studi ilmu sejarah, hanya 115 orang yang mendaftar melalui jalur SNBP.
ADVERTISEMENT
Ironisnya, Indonesia merupakan negara yang kaya akan sejarah, bahkan ada beberapa sejarah yang sengaja disembunyikan demi nasionalisme dan patriotisme suatu negara, seperti yang pernah disinggung oleh Louis Gottschalk dalam bukunya yaitu Mengerti Sejarah. Mulai dari zaman pra-aksara, Hindu-Buddha, Islam, kolonial, dan kontemporer, dalam hal peninggalan sejarah, tentunya sangat banyak dijumpai di seluruh wilayah Indonesia.
Namun, mengapa jurusan ilmu sejarah sangat jarang diminati oleh banyak orang?
Jawaban yang paling mendekati, tentunya karena lulusan jurusan ilmu sejarah sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan (di luar lembaga pemerintahan seperti ANRI, Perpusnas, maupun Kemendikbud) di perusahaan-perusahaan swasta, yang gajinya cukup besar dan lebih bergengsi. Padahal, apabila para lulusan ilmu sejarah memiliki skill di luar kurikulum (seperti graphic design maupun copywriting), mereka bisa diperbantukan di perusahaan-perusahaan ternama, tidak melulu dari fakultas-fakultas yang dinilai sangat mudah mendatangkan rupiah.
ADVERTISEMENT
Kemudian, inilah jawaban yang sangat miris: sejarah tidak mendatangkan manfaat apa-apa di dunia kerja, apabila dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain seperti ilmu ekonomi, hukum, matematika, sains, dan lain-lain. Sejarah hanya dianggap sebagai hafalan-hafalan yang selalu diulang-ulang dalam bangku sekolah. Memang realitanya demikian: sejarah yang mengglorifikasi tokoh-tokoh tertentu selalu ditanam di otak anak-anak sekolah, sebut saja Soekarno, Soeharto, Jenderal Soedirman, KH. Agus Salim, dan lain-lain.
Apabila stigma tersebut ditanamkan dari generasi ke generasi, tentu tidak akan ada lagi orang-orang yang mengerti sejarahnya sendiri. Tidak akan ada lagi orang-orang yang memiliki spesialisasi di bidang ilmu sejarah dan turunan-turunannya, seperti arkeologi dan preservasi cagar budaya. Hal tersebut tentunya akan menggusur aset-aset warisan budaya dan digantikan dengan bangunan-bangunan pencakar langit yang lebih banyak mendatangkan rupiah.
ADVERTISEMENT
Kedua jawaban tersebut, apabila dirangkum, berakar dari kurangnya sosialisasi dan mispersepsi orang-orang tentang jurusan ilmu sejarah, yang dianggap tidak memberi manfaat maupun kontribusi di dunia kerja serta hanya berdiam diri di depan 'gunung arsip' berbahasa Belanda. Secara umum, branding tentang ilmu sejarah di setiap PTN memang ada, namun tidak semasif fakultas-fakultas maupun program studi lainnya.
Maka tidak heran, para orang tua yang memiliki anak lulusan FEB, FT, FMIPA, FH, dan lain-lain, sangat membanggakan anaknya di depan keluarga besarnya apabila dibandingkan dengan jurusan lain, termasuk ilmu sejarah.
Akan tetapi, pada kenyataannya, jurusan ilmu sejarah juga memiliki keuntungannya tersendiri. Menjadi sejarawan juga tidak kalah bergengsi apabila dibandingkan dengan pengacara maupun teller di bank, apalagi Indonesia saat ini sangat membutuhkan sejarawan-sejarawan muda yang sudah sepantasnya meneruskan perjuangan para sejarawan yang sudah 'sepuh' seperti Ong Hok Ham, Sartono Kartodirdjo, Kuntowijoyo, AB Lapian, hingga Taufik Abdullah.
ADVERTISEMENT
Selain itu, para jurusan ilmu sejarah juga bisa menjadi content creator yang berperan dalam edukasi sejarah kepada masyarakat awam dengan metode yang sangat kekinian, yaitu melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok, yang sangat digandrungi generasi Z. Sebut saja platform Historia.id yang dimiliki oleh Bonnie Triyana, yang mampu mengedukasi sejarah kepada masyarakat awam melalui pengemasan konten yang kekinian. Atau akun Neo Historia Indonesia, yang rajin mengunggah meme sejarah di Instagram, mampu meningkatkan kesadaran sejarah melalui sesuatu yang menghibur namun sarat akan nilai kesejarahan.
Dengan demikian, sejarah di era sekarang bukanlah sekedar hafalan, hafalan, dan hafalan serta tidak memberi kontribusi dalam dunia kerja, justru lulusan ilmu sejarah dapat berkompetisi di dunia kerja seperti fakultas-fakultas lainnya. So, siapkah untuk menjadi calon sejarawan muda?
ADVERTISEMENT