Eropa Terbakar, Dunia Ditagih
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Namun, seperti banyak peristiwa besar dalam sejarah, makna yang paling penting sering kali tidak berada pada apa yang tampak di permukaan.
Kebakaran hutan di Eropa bukan hanya cerita tentang api. Ia adalah cerita tentang sebuah peradaban yang mulai berhadapan dengan konsekuensi dari pilihan-pilihannya sendiri.
Selama lebih dari satu abad, dunia modern dibangun di atas keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah ukuran utama kemajuan. Negara dianggap berhasil ketika ekonominya tumbuh. Kota dianggap maju ketika gedung-gedungnya menjulang tinggi. Perusahaan dianggap sukses ketika produksinya meningkat dari tahun ke tahun.
Dari keyakinan itu lahir revolusi industri, kemajuan teknologi, perdagangan global, dan berbagai pencapaian yang mengubah kehidupan manusia secara luar biasa. Jutaan orang berhasil keluar dari kemiskinan. Harapan hidup meningkat. Pendidikan dan layanan kesehatan menjadi lebih mudah dijangkau.
Tidak ada yang salah dengan kemajuan.
Masalah muncul ketika kemajuan hanya diukur dari seberapa banyak yang mampu diproduksi, dikonsumsi, dan diekstraksi dari alam.
Dalam perlombaan itu, manusia berhasil menaklukkan banyak hal, tetapi gagal memahami satu kenyataan sederhana: bumi memiliki batas.
Selama bertahun-tahun, dunia menghitung keuntungan ekonomi dengan sangat rinci. Kita mengetahui angka pertumbuhan, investasi, ekspor, dan produktivitas. Namun pada saat yang sama, kita jarang menghitung nilai hutan yang hilang, sungai yang tercemar, udara yang memburuk, dan iklim yang perlahan berubah.
Ekonom Inggris Nicholas Stern pernah menyampaikan peringatan yang hingga kini terasa semakin relevan:
"Climate change is the greatest market failure the world has ever seen." Perubahan iklim adalah kegagalan pasar terbesar yang pernah disaksikan dunia.
Kalimat itu menjelaskan satu kenyataan penting: dunia terlalu lama menghitung keuntungan tanpa menghitung seluruh biaya yang ditimbulkannya.
Kita menikmati manfaat pembangunan hari ini, sementara sebagian kerugiannya diwariskan kepada generasi yang belum lahir.
Kini, tagihan itu mulai datang.
Banyak orang masih memandang perubahan iklim sebagai isu lingkungan. Padahal sesungguhnya ia adalah cermin dari sesuatu yang lebih mendasar: cara manusia memandang hubungan antara dirinya dan alam.
Dalam cara pandang modern, alam sering diposisikan sebagai objek. Hutan dipandang sebagai sumber kayu. Laut sebagai sumber ikan. Gunung sebagai sumber mineral. Sungai sebagai sumber air.
Nilai alam diukur berdasarkan manfaat ekonominya.
Cara pandang ini memang menghasilkan pertumbuhan yang luar biasa. Namun pada saat yang sama, ia melahirkan ilusi bahwa sumber daya bumi tidak memiliki batas.
Padahal setiap pertumbuhan memiliki konsekuensi.
Setiap eksploitasi memiliki harga.
Dan setiap harga pada akhirnya harus dibayar.
Mungkin yang sedang terbakar bukan hanya hutan. Mungkin yang sedang terbakar adalah keyakinan lama bahwa manusia dapat terus mengambil dari alam tanpa harus mengubah cara hidupnya.
Karena itu, kebakaran di Eropa seharusnya tidak dibaca semata sebagai bencana alam. Ia adalah pengingat bahwa ada sesuatu yang mulai retak dalam cara dunia memahami kemajuan.
Yang sedang diuji bukan hanya kemampuan memadamkan api.
Yang sedang diuji adalah kemampuan manusia mengoreksi arah.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut perubahan iklim sebagai threat multiplier atau pengganda ancaman. Istilah ini penting karena menunjukkan bahwa dampak iklim tidak berhenti pada lingkungan.
Ketika kekeringan meningkat, produksi pangan menurun. Ketika produksi pangan menurun, harga naik. Ketika harga naik, tekanan sosial membesar. Ketika tekanan sosial membesar, stabilitas politik ikut terpengaruh.
Dalam dunia yang saling terhubung, krisis lingkungan dapat berubah menjadi krisis ekonomi. Krisis ekonomi dapat berkembang menjadi krisis sosial. Dan krisis sosial dapat berujung pada krisis keamanan.
Dengan kata lain, perubahan iklim bukan lagi persoalan cuaca. Ia telah menjadi persoalan ketahanan nasional.
Bagi Indonesia, pelajaran ini menjadi sangat penting.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia termasuk wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim. Kenaikan muka air laut mengancam kawasan pesisir. Cuaca ekstrem memengaruhi produksi pangan. Perubahan pola hujan menyulitkan petani menentukan musim tanam. Abrasi menggerus ruang hidup masyarakat pantai.
Di Pantai Utara Jawa, misalnya, sejumlah wilayah mengalami abrasi yang terus menggerus daratan dari tahun ke tahun. Di berbagai daerah pertanian, petani semakin sulit membaca musim. Banjir dan kekeringan datang silih berganti dengan pola yang semakin sulit diprediksi.
Semua itu menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi cerita tentang masa depan.
Ia sudah hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar agenda konservasi. Ia adalah investasi untuk menjaga stabilitas ekonomi, sosial, dan keamanan pada masa depan.
Peraih Nobel Ekonomi Amartya Sen pernah menulis:
"Development is a process of expanding the real freedoms that people enjoy." Pembangunan adalah proses memperluas kebebasan nyata yang dinikmati manusia.
Kebebasan yang dimaksud Sen bukan hanya soal pendapatan. Kebebasan juga berarti memiliki udara yang layak dihirup, air yang aman diminum, pangan yang cukup, dan lingkungan yang memungkinkan manusia hidup dengan bermartabat.
Dalam pengertian itu, pembangunan yang merusak fondasi ekologis sesungguhnya sedang mengurangi kebebasan generasi yang akan datang.
Filsuf Jerman Hans Jonas bahkan mengingatkan:
"Act so that the effects of your action are compatible with the permanence of genuine human life." Bertindaklah sedemikian rupa sehingga dampak tindakanmu tetap memungkinkan keberlangsungan kehidupan manusia yang sejati.
Pesan itu terasa semakin relevan di zaman ketika dunia begitu terpesona oleh kecepatan. Kita berlomba menciptakan teknologi yang lebih canggih, kecerdasan buatan yang lebih pintar, dan ekonomi yang lebih besar. Namun sering kali lupa bertanya apakah semua kemajuan itu benar-benar membuat masa depan menjadi lebih aman.
Kebakaran di Eropa sesungguhnya memaksa dunia mengajukan kembali pertanyaan yang selama ini dihindari.
Apakah kemajuan yang kita banggakan selama ini benar-benar kemajuan?
Ataukah ia hanya cara yang lebih canggih untuk menghabiskan sumber daya yang terbatas?
Di tengah asap yang membumbung ke langit Eropa, dunia sedang menerima pelajaran yang mahal: kemajuan tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang mampu kita ambil dari bumi, melainkan oleh seberapa lama kita mampu hidup selaras dengannya.
Sebab pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari gedung tertinggi yang berhasil dibangun, teknologi tercanggih yang berhasil diciptakan, atau kekayaan terbesar yang berhasil dikumpulkan.
Peradaban diukur dari kebijaksanaannya menjaga kehidupan ketika ia memiliki kekuatan untuk merusaknya.

