Konten dari Pengguna

Nada dari Desa dan Pelajaran Besar tentang Ekonomi Indonesia

Pengrajin bernama We'ong saat menyelesaikan pembuatan ukulele di bengkel kerjanya di Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang. Foto dokumen pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Pengrajin bernama We'ong saat menyelesaikan pembuatan ukulele di bengkel kerjanya di Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang. Foto dokumen pribadi.

Di Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, seorang pengrajin bernama Subarto—yang lebih dikenal dengan panggilan We'ong—menghabiskan hari-harinya merakit ukulele. Dengan tangan yang terbiasa menghaluskan kayu dan memasang senar, ia menghasilkan alat musik yang kemudian menemukan jalannya sendiri menuju berbagai kota. Dari Purwokerto, Yogyakarta, Solo hingga Bandung, karya-karyanya mengalun jauh melampaui batas desa tempat ia bekerja.

Bagi sebagian orang, kisah ini mungkin hanya tentang seorang perajin yang mencari nafkah dari keterampilannya. Namun jika dicermati lebih dalam, kisah We'ong sesungguhnya menyimpan pelajaran penting tentang wajah ekonomi Indonesia yang sering luput dari perhatian.

Selama ini pembicaraan mengenai pembangunan ekonomi lebih banyak dipenuhi istilah besar: investasi, hilirisasi, kawasan industri, transformasi digital, hingga kecerdasan buatan. Semua itu memang penting. Namun di balik angka-angka besar tersebut, ada jutaan pelaku usaha kecil yang setiap hari bekerja dalam senyap untuk menjaga roda ekonomi tetap berputar. Mereka tidak tampil dalam laporan keuangan perusahaan raksasa, tetapi kontribusinya nyata dalam kehidupan masyarakat.

We'ong adalah salah satu di antaranya. Ia tidak memiliki pabrik besar, jaringan distribusi nasional, atau modal yang melimpah. Yang ia miliki adalah keterampilan, ketekunan, dan keyakinan bahwa sebuah karya yang dibuat dengan sungguh-sungguh akan menemukan pembelinya sendiri. Dari bengkel kecil itulah lahir nilai ekonomi yang menopang kehidupan keluarga sekaligus menghidupkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Kisah semacam ini sesungguhnya tidak langka di Indonesia. Dari Aceh hingga Papua, ribuan perajin, petani, nelayan, pedagang kecil, dan pelaku UMKM menjalani perjuangan serupa. Mereka bekerja dengan sumber daya yang terbatas, tetapi menghasilkan manfaat yang besar. Data pemerintah menunjukkan bahwa UMKM menyumbang lebih dari 60 persen produk domestik bruto nasional dan menyerap sebagian besar tenaga kerja Indonesia. Angka itu menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia tidak hanya bertumpu pada perusahaan-perusahaan besar, tetapi juga pada usaha-usaha rakyat yang tumbuh dari bawah.

Ironisnya, kontribusi besar tersebut sering kali tidak sebanding dengan dukungan yang mereka terima. Masalah permodalan, akses pasar, biaya produksi, hingga persaingan dengan produk massal masih menjadi tantangan sehari-hari. Banyak pelaku usaha kecil memiliki produk berkualitas, tetapi kesulitan memperluas pasar karena keterbatasan akses dan jaringan.

Dalam konteks inilah kisah We'ong menjadi relevan. Persoalannya bukan sekadar tentang seorang pengrajin ukulele yang membutuhkan modal untuk berkembang. Persoalannya adalah bagaimana negara dan masyarakat memandang sektor usaha kecil. Apakah mereka hanya dianggap pelengkap ekonomi, atau justru diposisikan sebagai pilar utama pembangunan yang layak memperoleh perhatian lebih besar?

Ekonom Inggris E.F. Schumacher pernah menulis dalam bukunya Small is Beautiful bahwa pembangunan yang baik harus menempatkan manusia sebagai pusatnya. Gagasan itu terasa semakin penting di era sekarang. Ketika dunia berlomba membangun industri besar dan teknologi canggih, jangan sampai perhatian terhadap manusia yang menciptakan nilai ekonomi dari tingkat paling bawah justru terabaikan.

Desa-desa di Indonesia sesungguhnya menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa. Kreativitas tidak hanya lahir di pusat kota atau kawasan industri. Ia juga tumbuh di rumah-rumah produksi sederhana, di bengkel kerajinan, di lahan pertanian, dan di sudut-sudut desa yang jauh dari sorotan. We'ong membuktikan bahwa sebuah karya dari desa mampu menjangkau pasar yang lebih luas ketika dikerjakan dengan kualitas dan ketekunan.

Lebih dari itu, kisahnya mengajarkan bahwa pembangunan ekonomi bukan hanya soal menciptakan pertumbuhan, tetapi juga menciptakan kesempatan. Ketika seorang perajin mampu mengembangkan usahanya, manfaatnya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia berpotensi membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan keluarga lain, dan menggerakkan ekonomi lokal. Efeknya mungkin tidak langsung terlihat dalam angka triliunan rupiah, tetapi dampaknya nyata bagi masyarakat.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan terhadap daya beli masyarakat, dan persaingan pasar yang semakin ketat, Indonesia membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat. Fondasi itu tidak hanya dibangun melalui proyek-proyek besar, melainkan juga melalui keberlangsungan jutaan usaha kecil yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Mereka adalah lapisan ekonomi yang paling dekat dengan rakyat dan sering kali menjadi yang paling tangguh saat krisis datang.

Karena itu, kisah We'ong seharusnya tidak dibaca hanya sebagai cerita inspiratif tentang seorang pengrajin desa. Ia adalah pengingat bahwa masa depan ekonomi Indonesia tidak semata ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk atau tingginya pertumbuhan ekonomi yang tercatat. Masa depan itu juga ditentukan oleh sejauh mana negara memberi ruang kepada rakyat biasa untuk tumbuh melalui keterampilan dan kerja keras mereka.

Peter Drucker pernah mengatakan, "The best way to predict the future is to create it." We.ong mungkin tidak pernah membayangkan dirinya sedang menciptakan masa depan Indonesia. Ia hanya membuat ukulele demi menghidupi keluarganya. Namun justru dari tangan-tangan seperti itulah masa depan ekonomi bangsa perlahan dibangun.

Dari sebuah bengkel sederhana di desa, We'ong mengingatkan kita bahwa kekuatan terbesar Indonesia bukan hanya terletak pada sumber daya alam atau investasi besar, melainkan pada manusia-manusia yang terus berkarya meski jauh dari pusat perhatian. Selama mereka masih diberi kesempatan untuk tumbuh, harapan tentang ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan akan selalu memiliki nada untuk dimainkan.