Konten dari Pengguna

"Martani": Peta Nama, Harapan, dan Jejak Kehidupan di Utara Yogyakarta

Rusydan Fauzi Fuadi

Rusydan Fauzi Fuadi

Jurnalis dan Penulis Lepas. Mahasiswa Studi Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Fokus Studi Kajian Budaya dan Sosial Humaniora.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rusydan Fauzi Fuadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ruas Jalan Cangkringan, Argomulyo, Cangkringan, Sleman, D.I Yogyakarta. (Foto: R. Fauzi Fuadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ruas Jalan Cangkringan, Argomulyo, Cangkringan, Sleman, D.I Yogyakarta. (Foto: R. Fauzi Fuadi)

Saat saya menuju rumah kolega saya di Jogja Utara via Kalasan, saya melihat di Maps bahwa saya akan melewati beberapa daerah. Nama-nama daerah itu unik, tapi ada sedikit kesamaan yang membuat saya berhenti sejenak: akhiran –martani.

Ya, nama-nama daerah itu bertoponimi –martani seperti Purwomartani, Tirtomartani, Tamanmartani, Selomartani, Wedomartani, hingga Umbulmartani.

Saya kemudian tertarik dengan toponimi unik ini. Kenapa begitu banyak wilayah di Sleman, khususnya bagian utara, memakai akhiran yang sama? Dan apakah ia sekadar kebetulan atau menyimpan kisah lebih dalam tentang manusia, ruang, dan harapan?

Martani: Jejak lama yang menyiratkan kehidupan

Di banyak wilayah Jawa, penamaan suatu daerah tak pernah benar-benar netral. Selalu ada doa yang disisipkan, harapan yang dititipkan, atau penanda yang ingin diwariskan. Kata “martani” dalam nama-nama desa di Sleman memantulkan hal serupa, sebuah penanda tentang kehidupan, kemakmuran, dan sumber penghidupan.

Dalam tradisi Jawa, terutama pada masa ketika wilayah-wilayah itu mulai dibentuk dan diberi identitas, nama bukan sekadar label administratif. Ia semacam mantra yang ditiupkan ke tanah, agar tanah itu subur, airnya berkah, dan agar manusia yang tinggal di atasnya hidup bahagia dan tenteram.

“Martani” kemungkinan besar berakar dari bahasa Jawa lama yang mengandung makna urip, hidup, yang menghidupi, atau sesuatu yang menjadi poros dalam kelangsungan hidup. Maka, ketika ia digabungkan dengan pelbagai kata seperti Tirto, Purwo, Sindu, Widodo, atau Wedo, ia melahirkan frasa-frasa dengan makna yang kuat dan simbolis.

Tirtomartani misalnya, secara bahasa bisa berarti “air kehidupan”. Purwomartani dapat dibaca sebagai “awal kehidupan”, cikal bakal dari sebuah wilayah yang diharapkan tumbuh subur. Widodomartani membawa gagasan “kehidupan yang sejahtera dan selamat”, sementara Sindumartani menunjuk pada “sungai sebagai sumber kehidupan”.

Penamaan ini jelas bukan asal-asalan. Ia adalah pernyataan sosial, kultural, bahkan ekologis yang mengikat masyarakat dengan tanah tempat mereka hidup.

Sleman Utara: ruang yang basah, subur, dan hidup

Fenomena banyaknya akhiran –martani di Sleman Utara bukan terjadi di sembarang lokasi. Wilayah ini sejak lama dikenal sebagai kawasan dengan aliran sungai yang stabil, tanah yang subur karena limpahan material vulkanik Merapi, hingga sumber air yang relatif melimpah. Sebagian kawasan itu dulunya penuh mata air (umbul), ladang, persawahan, dan kebun.

Artinya, penamaan dengan imbuhan 'kehidupan' ini bukan sekadar metafora. Ia lahir dari kondisi ekologis yang nyata. Air di sini bukan hanya simbol, ia benar-benar menyangga kehidupan yang ada di sekitarnya.

Tanah di wilayah itu bukan hanya “baik”, ia betul-betul menghidupi ratusan keluarga dalam sistem pertanian yang masih berlangsung hingga kini.

Maka tak heran bila nama-nama seperti Umbulmartani, Selomartani, dan Tirtomartani bertebaran di sepanjang jalan kala kita melintasi Kalasan atau Ngemplak. Ia adalah arsip linguistik dari masa ketika manusia memberi nama berdasarkan apa yang mereka lihat, rasakan, dan harapkan dari alam di sekeliling mereka.

Toponimi sebagai doa dan identitas

Kajian toponimi di Nusantara menunjukkan bahwa masyarakat Jawa gemar menggunakan akhiran seperti –tani, –mulyo, –arum, atau –martani untuk menegaskan karakter moral atau ekologis dari sebuah wilayah. Nama-nama ini kemudian memperlihatkan hubungan masyarakat dengan alam sebagai mitra, bukan sekadar ruang yang dihuni.

Dalam konteks “martani”, harapan itu sangat eksplisit: tempat ini diharapkan hidup, subur, aman, dan memberikan rezeki bagi siapa pun yang menetap di dalamnya.

Jadi ada semacam kesadaran halus dalam penamaan ini, bahwa manusia adalah bagian dari lanskap, bukan penguasa tunggalnya. Bahwa hidup tak bisa dilepaskan dari air, tanah, sungai, dan ritme wilayah yang mereka tempati.

Penamaan itu, dalam cara yang sederhana namun puitis, mengajarkan kita bahwa ruang bukan sekadar lokasi, melainkan ekosistem ingatan.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa nama dapat menjadi doa, doa menjadi identitas, dan identitas menjadi memori kolektif masyarakat setempat.

Mengapa Martani bertahan?

Kendati kota berubah, gedung bertambah, dan jalanan makin riuh, “martani” tak pernah redup. Ia bertahan menjadi penanda administratif, tetapi jauh lebih penting bahwa ia bertahan menjadi penanda rasa.

Nama-nama itu kini hidup berdampingan dengan dunia modern; perumahan baru, kafe, kampus, dan toko daring. Tetapi di akar, nama itu tersimpan memori panjang, tentang ladang yang pernah dibajak, aliran irigasi yang dibuka, hingga mata air yang menjadi tempat seseorang menimba kehidupan.

Ini menegaskan bahwa masih ada wilayah agraris yang tak bisa sepenuhnya dihapus oleh beton, atau oleh ambisi pemodal yang datang dengan proposal investasi, janji kesejahteraan instan, dan janji kemakmuran yang kerap mengikis ruang hidup.

Akhir yang tak pernah usai

Ketika saya tiba di rumah kolega, saya membawa serta sebuah kesadaran baru, bahwa nama di peta bukan cuma petunjuk arah. Di Jogja Utara, ia adalah lembaran budaya yang dibentangkan oleh para leluhur.

Kita memang bisa tiba di Purwomartani hanya dengan mengikuti rute Maps. Tapi untuk benar-benar tiba, untuk memahami kenapa wilayah ini bernama demikian, maka kita harus menelusuri makna yang tertanam dalam nama itu; harapan, doa, dan hubungan manusia dengan alam yang menghidupi mereka.

Dan dalam sepotong jalan menuju sebuah rumah, saya merasa seperti sedang membaca peta yang lebih tua dari GPS mana pun, sebuah peta yang ditulis dengan bahasa tanah dan air, peta yang menyimpan doa dan harapan para pendahulu agar kehidupan selalu punya ruang untuk tumbuh.

Arkian, di Yogyakarta, rupanya nama bukan sekadar nama, pun bukan sekadar koordinat di peta, melainkan tentang ikatan manusia dengan ruang hidup yang mereka jaga dengan bahagia dan penuh suka cita.[*]