Konten dari Pengguna

Meneladani dari Tokoh Jacques Maritain untuk Terus Berkarya di Masa Pandemi

Ryan Azali

Ryan Azali

Sedang menempuh studi S1 di Universitas Airlangga

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ryan Azali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tokoh Jacques Maritain
zoom-in-whitePerbesar
Tokoh Jacques Maritain

Di masa pandemi COVID-19 sekarang ini tentu telah menyebabkan banyak perubahan drastis, mulai dari kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan masih banyak lagi. Pada era pandemi ini, justru harus menjadi batu loncatan kita semua untuk harus terus produktif dan berkarya. Maka dari itu, yuk kita simak dan belajar bersama-sama bagaimana cara kita bisa terus produktif dan berkarya dari sosok inspiratif Jacques Maritain yang mungkin bisa diterapkan juga di masa pandemi COVID-19 ini.

Jacques Maritain lahir di Paris, Prancis pada tanggal 18 November 1882 dan meninggal pada tanggal 28 April 1973 di Toulouse, Prancis. Pada tahun 1910, beliau menyelesaikan kontribusi pertamanya untuk filsafat modern, sebuah artikel berjudul "Reason and Modern Science" yang diterbitkan di Revue de Philosophie (edisi Juni). Dalam artikelnya, dia memperingatkan bahwa sains menjadi keilahian dan metodologinya merampas peran akal dan filsafat; pada gilirannya, ilmu pengetahuan menggantikan kemanusiaan yang penting. Dari tahun 1912 hingga 1914, beliau juga mengajar filsafat di College Stanislas. Pada tahun 1914, ia diangkat menjadi ketua sejarah filsafat modern di Institut Catholique, juga melanjutkan pengajarannya di College. Untuk Pengantar Filsafat (1921), ia dianugerahi gelar doktor ad honorem oleh Kongregasi Studi di Roma. Pada tahun 1913, buku pertamanya, Bergsonian Philosophy and Thomism, diterbitkan. Dalam buku Maritain dengan keras mengkritik mentor awalnya Bergson dari perspektif Thomistik dari master barunya. Diikuti oleh karya keduanya, Seni dan Skolastik, pada tahun 1920.

Pada tahun-tahun berikutnya, Maritain sangat produktif sebagai guru, dosen, penulis, pengkaji, editor, dan penyelenggara studi Thomistik, serta seorang filsuf politik dan pejuang keadilan sosial. Hingga dan selama Perang Dunia II, Maritain memprotes kebijakan pemerintah Vichy saat mengajar di Institut Kepausan untuk Studi Abad Pertengahan di Kanada. Di New York, Maritain terlibat dalam kegiatan penyelamatan, membantu membawa para intelektual ke Amerika, banyak dari mereka adalah orang Yahudi. Setelah perang, dia mendorong Paus untuk berbicara tentang masalah anti-Semitisme (anti Yahudi - Red.) dan kejahatan Holocaust. Pada tahun 1945, Maritain berpartisipasi dalam penyusunan Deklarasi Universal HAM PBB di San Francisco. Banyak karya-karya dari Maritain dipegang oleh Universitas Notre Dame, yang mendirikan Jacques Maritain Center (1957).

Implementasi Teladan Jacques Maritain pada Masa Pandemi COVID-19

Tetap Produktif walaupun #DiRumahAja

Jacques Maritain mengajak kita secara tidak langsung untuk terus produktif berkarya dan memanfaatkan berbagai kesempatan yang ada selama kita masih hidup supaya bisa memberi manfaat kepada orang lain walaupun ada permasalahan seperti pandemi COVID-19 saat ini. Meskipun selama PSBB saat pandemi COVID-19 ini kita hanya #DiRumahAja, kita tetap bisa produktif dan berkarya seperti Jacques Maritain dari rumah, lho! Gunakanlah masa COVID-19 seperti sekarang untuk terus berkarya dan membantu orang banyak. Di samping itu, tidak lupa juga untuk selalu bersyukur, mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah perjalanan, dan menerapkan hidup yang penuh dengan cinta kasih. Banyak yang bisa kita lakukan selama #DiRumahAja, seperti menjadi penulis yang tentunya bisa dilakukan di era pandemi COVID-19 ini, atau bisa juga menjadi pejuang keadilan sosial yang dimulai dari hal-hal kecil atau yang berada di sekitar kita saja terlebih dahulu.

Semoga dapat menjadi motivasi sekaligus inspirasi bagi kita semua setelah membaca karya, teladan, dan implementasi dari tokoh Jacques Maritain di atas untuk terus-menerus produktif dan membuat karya-karya yang bermanfaat bagi orang lain. Selalu menanamkan sifat tidak mudah menyerah, berani, dan mau terus belajar/berkarya ke dalam diri kita masing-masing, tidak peduli dengan seberapa berat kondisi yang sedang kita jalani. Tetap semangat dan salam sehat bagi kita semua!

*Oleh: Ryan Azali / Mahasiswa Semester 1 Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, Surabaya