Ketika Rencana Berubah, Mungkin Ada Cara Allah Menjaga Kita

Mengabdi pada Negara, Kanwil Ditjen Imigrasi Jatim sebagai Penelaah Teknis Kebijakan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Suhendi bin Suparlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Manusia selalu memiliki rencana.
Kita menyusun langkah, mempersiapkan kebutuhan, menghitung berbagai kemungkinan, dan berharap semua berjalan sesuai dengan apa yang telah dirancang.
Rencana membuat kita merasa lebih siap. Dengan rencana, kita merasa memiliki arah dan tujuan yang ingin dicapai.
Namun, semakin banyak pengalaman yang dilalui, semakin kita memahami bahwa manusia hanya mampu merencanakan, sementara Allah yang menentukan bagaimana sebuah perjalanan akan berjalan.
Ada hal-hal yang tidak pernah masuk dalam perhitungan kita. Ada kejadian yang datang secara tiba-tiba dan mengubah susunan yang sudah dibuat.
Pada awalnya, perubahan tersebut mungkin terasa sebagai kendala.
Tetapi terkadang, setelah semuanya berlalu, kita baru memahami bahwa ada pelajaran yang tersembunyi di balik sebuah peristiwa.
Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan amanah untuk melaksanakan perjalanan dinas ke Jakarta.
Seperti biasa, perjalanan tersebut telah dipersiapkan dengan baik. Rencana keberangkatan dan kepulangan menggunakan pesawat sudah disusun. Kebutuhan selama pelaksanaan tugas juga disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
Semuanya terlihat berjalan sesuai rencana.
Namun, pada waktu keberangkatan, terjadi kondisi yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Aktivitas gunung yang menyebabkan abu vulkanik berdampak terhadap operasional penerbangan. Bandara harus ditutup sementara sehingga perjalanan yang sebelumnya direncanakan menggunakan pesawat tidak dapat dilakukan.
Dalam kondisi tersebut, manusia kembali diingatkan bahwa ada banyak hal yang berada di luar kendalinya.
Tidak ada yang salah dengan rencana awal. Tidak ada yang salah dengan persiapan yang sudah dilakukan. Namun, keadaan menghadirkan jalan yang berbeda.
Akhirnya, perjalanan tersebut dilakukan menggunakan kereta api ekonomi.
Penginapan pun disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pelaksanaan tugas.
Semua terjadi begitu saja.
Bukan karena sejak awal ingin memilih perjalanan yang lebih sederhana. Bukan karena ada rencana tertentu untuk mengubah cara perjalanan.
Namun, keadaan membawa langkah tersebut menjadi pilihan yang harus dijalani.
Pada saat itu, saya hanya berpikir bahwa inilah kondisi yang harus diterima. Yang terpenting adalah tugas dapat dilaksanakan dengan baik.
Perjalanan berjalan lancar. Kegiatan selesai. Amanah dapat dilaksanakan.
Kemudian, setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, sesuatu yang menarik terjadi.
Bandara kembali dibuka. Aktivitas penerbangan kembali berjalan normal.
Sebuah kondisi yang sebelumnya mengubah seluruh rencana ternyata hanya berlangsung sementara.
Dari sinilah muncul sebuah perenungan.
Terkadang manusia baru memahami makna sebuah kejadian setelah semuanya berlalu.
Jika saat itu bandara tidak ditutup, mungkin perjalanan akan berjalan seperti rencana awal. Semua berlangsung biasa tanpa ada perubahan.
Namun, Allah menghadirkan sebuah keadaan yang membuat perjalanan tersebut berjalan dengan cara yang berbeda.
Mungkin ada alasan yang tidak kita ketahui.
Mungkin ada hal yang sedang Allah ajarkan kepada kita melalui sebuah kejadian sederhana.
Karena sering kali manusia hanya melihat apa yang tampak di depan mata, sementara Allah mengetahui sesuatu yang tidak mampu kita lihat.
Dari perjalanan tersebut, saya kemudian berpikir bahwa mungkin ada bentuk penjagaan Allah yang tidak selalu datang dalam keadaan yang kita harapkan.
Terkadang penjagaan itu hadir melalui perubahan rencana.
Bukan karena sesuatu yang kita inginkan, tetapi melalui sesuatu yang pada awalnya terasa sebagai hambatan.
Sebab manusia tidak pernah tahu apa yang mungkin terjadi apabila semua berjalan sesuai keinginannya.
Bisa jadi, sebuah pilihan yang terlihat biasa bagi kita dapat menimbulkan pandangan berbeda bagi orang lain.
Bisa jadi, sesuatu yang menurut kita tidak bermasalah dapat menimbulkan rasa kurang nyaman, prasangka, atau perasaan yang tidak pernah kita inginkan dari orang lain.
Bukan karena kita harus hidup mengikuti penilaian manusia.
Namun, karena sebagai manusia kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga hati dan perasaan sesama.
Terlebih ketika kita membawa sebuah amanah.
Sebuah perjalanan dinas bukan hanya tentang fasilitas yang digunakan atau kenyamanan yang diperoleh. Ada nilai tanggung jawab, kepantasan, dan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan dapat memberikan gambaran tentang bagaimana kita menghargai amanah tersebut.
Dari sini saya belajar bahwa tidak semua kesempatan harus selalu diambil hanya karena kita memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Ada kalanya Allah mengajarkan kita tentang batas.
Tentang kesederhanaan.
Tentang bagaimana menggunakan sesuatu sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti keinginan.
Perjalanan menggunakan kereta ekonomi pulang dan pergi tersebut bukanlah keputusan yang saya rencanakan.
Itu adalah rangkaian peristiwa yang terjadi di luar kendali manusia.
Namun, justru dari sesuatu yang tidak direncanakan tersebut muncul kesadaran baru.
Bahwa mungkin Allah sedang mengarahkan langkah kita menuju pilihan yang lebih baik bagi diri kita, sekaligus menjaga kita dari kemungkinan yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Karena Allah tidak hanya mengetahui apa yang kita inginkan.
Allah juga mengetahui apa yang kita butuhkan.
Pada akhirnya, manusia tetap harus membuat rencana.
Tetapi manusia juga perlu belajar menerima ketika rencana tersebut berubah.
Sebab terkadang, jalan yang tidak kita pilih justru menjadi jalan yang membawa kita pada pelajaran yang paling kita butuhkan.
Dan mungkin, di balik perubahan kecil dalam sebuah perjalanan, ada cara Allah mengingatkan kita untuk selalu menjaga hati, menjaga sikap, dan menjaga amanah yang telah diberikan.
