Konten dari Pengguna

Tangan Ibu, Tangan Kita

Sabrina Aisya R

Sabrina Aisya R

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sabrina Aisya R tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tangan ibu yang selalu diulurkan pada kita (Sumber : unsplash.com)
zoom-in-whitePerbesar
Tangan ibu yang selalu diulurkan pada kita (Sumber : unsplash.com)

Saat kaus kakimu hilang sebelah, apa yang kamu cari? Bukan, bukan kaus kaki itu. Kamu, atau mungkin kita semua akan mencari dan meneriakkan satu nama. “Bu!”, “Ma!”, “Bun!”, atau sebutan-sebutan yang lain. Ia akan kita andalkan untuk mencari satu kaus kaki yang hilang itu. Dan benar saja, dalam sekejap kaus kaki itu akan ia temukan.

Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, panggilan itu selalu mengudara. Hal-hal sepele seperti menyiapkan bahan-bahan untuk tugas prakarya di sekolah, menanyakan takaran gula pasir dalam secangkir teh hangat, dan banyak hal lain tanpa kita sadari selalu membutuhkan keikutsertaannya.

Apalagi di masa pandemi COVID-19 ini, seluruh anggota keluarga menjalani aktivitasnya di dalam rumah. Bisa dibayangkan, berapa banyak panggilan “Ma!” yang dilontarkan setiap harinya. Dan berapa banyak jawaban “iya” yang keluar dari mulutnya.

Setiap anggota suatu keluarga tentu memiliki rasa ketergantungan satu sama lain. Sadar atau tidak, mungkin lebih dari separuh ketergantungan itu kita letakkan di pundaknya, di pundak ibu. Namun, tangan itu tetap siap dijulurkan pada kita kapan saja.

Dengan pundak yang penuh rasa percaya dari orang-orang tercintanya, senyum di bibir dan uluran tangannya akan terus mengiringi setiap langkah kita bersama.

Happy Mother’s Day to all mothers in the universe!