Hidup di Kota Panas: Kenapa Jakarta Tak Lagi Nyaman?

Mahasiswa Aktif Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sagita Seftiany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya lahir dan besar di Jakarta. Dulu, sore hari adalah waktu yang menyenangkan bermain sepeda di gang sempit, duduk di teras sambil ngobrol, atau sekadar menikmati semilir angin. Sekarang, keluar rumah pukul empat sore saja rasanya seperti berdiri di depan oven. Gerah, lengket, dan membuat kepala pening.
Tapi ini bukan sekadar perasaan. Data dari BMKG menunjukkan bahwa suhu rata-rata Jakarta meningkat signifikan dalam dua dekade terakhir. Bahkan, indeks panas di kota ini gabungan suhu dan kelembapan—sudah menyentuh ambang yang membahayakan kesehatan. Ini bukan hanya tentang cuaca, tapi tentang arah pembangunan yang mengabaikan kenyamanan warganya.
Efek Pulau Panas Kota
Jakarta kini menjadi contoh ekstrem dari urban heat island—fenomena di mana kota menjadi jauh lebih panas dibanding daerah sekitarnya karena beton, aspal, dan minimnya ruang hijau. Pohon-pohon ditebang untuk memperlebar jalan, taman digantikan ruko, dan ruang terbuka berubah jadi parkiran. Kota dibangun untuk kendaraan, bukan manusia.
Perubahan iklim memperburuk semuanya. Ketika suhu global naik, kota-kota besar seperti Jakarta menanggung beban dua kali lipat: dari atmosfer dan dari tanahnya sendiri.
Yang Paling Rentan
Ibu saya seorang pedagang sayur keliling. Ia keluar rumah sebelum matahari terbit dan pulang saat matahari sudah tinggi. Belakangan, ia sering mengeluh pusing dan kelelahan karena panas. Ia tidak sendiri. Ribuan pekerja informal di Jakarta pengojek, pedagang, pemulung terpaksa menghadapi panas ekstrem setiap hari. Mereka tidak punya pilihan. Tidak bisa bersembunyi di balik AC seperti kita yang bekerja di ruangan.
Anak-anak dan lansia juga ikut terdampak. Sekolah tanpa ventilasi memadai jadi tempat yang menyiksa. Rumah-rumah sempit dan padat tidak memberi ruang untuk bernapas, apalagi berteduh.
Apakah Kita Hanya Akan Menyesuaikan Diri?
Saya tidak ingin menyerah dan mengatakan, “Ya memang Jakarta panas, ya sudah.” Tidak. Kota seharusnya membuat hidup lebih baik, bukan menambah penderitaan.
Jakarta bisa berubah. Tapi itu butuh kesadaran kolektif dan keputusan politik. Kita perlu menanam pohon, bukan baliho. Kita perlu ruang hijau, bukan hanya ruang parkir. Dan yang paling penting: kita perlu pemimpin yang paham bahwa kenyamanan hidup bukan soal pendingin ruangan, tapi soal keberlanjutan.
Saya mulai dari langkah kecil: menanam pohon di rumah, menggunakan transportasi umum, berbicara soal iklim di media sosial. Tapi saya juga tahu, perubahan tak bisa diserahkan pada individu saja. Kita butuh kebijakan yang berpihak pada warga, bukan investor saja.
Karena Ini Rumah Kita
Jakarta bukan sekadar ibu kota. Ia adalah rumah bagi jutaan orang—yang ingin hidup nyaman, sehat, dan aman. Jika kita membiarkan kota ini terus dibangun tanpa arah yang ramah lingkungan, maka yang kita wariskan bukan lagi kota, tapi krisis permanen.
Kita tidak bisa terus tinggal di kota yang membakar kita perlahan. Sudah waktunya Jakarta menjadi kota yang layak ditinggali, bukan hanya layak dijual.
