Konten dari Pengguna

Pola Tidur Yang Tidak Tepat, Mempengaruhi pada Kesehatan Mental

Maslul

Maslul

Profesi Ners dan Peneliti PUSAD ( Studi Anti-Korupsi dan Demokrasi ) Universitas Muhammadiyah Surabaya

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maslul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi depresi, sumber : pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi depresi, sumber : pixabay.com

Hubungan antara tidur dan kesehatan mental, ternyata sangat erat dan saling mempengaruhi. Kurang tidur dapat memengaruhi kondisi psikologis dan kesehatan mental seseorang.

Sebaliknya, seseorang yang mengalami masalah dengan kesehatan mental seringkali mengalami gangguan tidur. Kualitas tidur yang cukup tak hanya ditentukan oleh durasi tidur yang diperoleh, tetapi juga oleh kualitasnya. Kekurangan tidur berkualitas dapat langsung memengaruhi suasana hati dan kondisi tubuh kita. Contohnya, hal ini dapat menghasilkan dampak negatif psikologis seperti menurunnya konsentrasi, mudah tersinggung, serta meningkatkan perasaan sedih, marah, atau stres lebih dari biasanya.

Bagaimana Tidur Memengaruhi Kesehatan Mental?

Gangguan tidur, seperti insomnia, telah lama diidentifikasi sebagai salah satu gejala yang muncul akibat sebagian besar masalah kesehatan mental. Selain itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa masalah tidur sebenarnya dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan mental. Bahkan, gangguan tidur diyakini memiliki kontribusi yang signifikan.

Saat memasuki proses tidur, tubuh melewati empat tahap yang berbeda sebelum mencapai tidur yang mendalam. Saat tubuh bersiap untuk tidur, suhu tubuh akan menurun, otot akan rileks, dan detak jantung serta pernapasan akan melambat. Tahap terdalam dari fase tidur ini menghasilkan perubahan fisiologis yang penting yang mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh.

Masalah tidur dalam jangka panjang juga dapat memperparah kondisi kesehatan mental, seperti depresi atau kecemasan, dengan penelitian menunjukkan bahwa dampaknya melebihi depresi sebesar 69% dari waktu ke waktu dan kecemasan sebesar 27% dari waktu ke waktu. Kekurangan tidur meningkatkan kemungkinan individu mengalami pikiran negatif yang intens atau merasa rentan secara emosional.

Dampak Kurang Tidur Terhadap Kesehatan Mental

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kaitan antara kurang tidur dengan kesehatan mental cenderung kompleks, karena keduanya saling berkaitan satu sama lain. Dampak negatif kurang tidur bagi kesehatan mental, begitu sangat signifikan.

  • Berpengaruh pada emosi. Saat kurang tidur, bagian otak yang bernama amygdala mengalami peningkatan aktivitas hingga 60%. Tingginya aktivitas amygdala ini memengaruhi kemampuan otak dalam mengendalikan emosi.

  • Depresi. Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan kurang tidur, tapi juga mungkin disebabkan karena kurang tidur.

  • ADHD alias gangguan hiperaktivitas dan defisit atensi. Kondisi ini dialami anak-anak maupun orang dewasa. Gejala ADHD mirip dengan kurang tidur, dan sering terjadi bersamaan, seperti hiperaktif, ngantuk pada siang hari, sulit konsentrasi, dan kondisi emosi yang labil.

  • Gangguan bipolar. Kondisi ini rentan memperburuk episode mania yang dialami pengidap, serta memicu kelelahan ekstrim yang membuat durasi tidur menjadi lebih panjang saat fase depresi berlangsung.

  • Gangguan kecemasan. Merupakan penyebab berkurangnya waktu tidur yang berkontribusi pada serangan panik dan mimpi buruk. Pada pengidap gangguan kecemasan, kurang tidur memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi.

Untuk mencegah kondisi kesehatan mental semakin memburuk, langkah awal yang dapat diambil adalah mengatasi gangguan tidur. Pengobatan gangguan tidur dapat membantu mengurangi gejala masalah kesehatan mental. Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah mengubah pola hidup. Secara mendasar, gaya hidup yang sehat dapat meningkatkan kualitas tidur seseorang, yang pada gilirannya menjaga kesehatan mental.

Menerapkan gaya hidup sehat dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, melakukan olahraga secara teratur, mengurangi asupan gula dengan menghindari camilan manis, mengelola stres, dan menetapkan jadwal tidur yang teratur. Selain itu, mematikan lampu kamar dan menghindari penggunaan gadget sebelum tidur juga dapat meningkatkan kualitas tidur dan mencegah terjadinya insomnia.