Konten dari Pengguna

Terjebak Gengsi: Potret Perilaku Konsumtif Mahasiswa Masa Kini

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Malika Salafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mahasiswa dalam menghadapi tren belanja dan menentukan prioritas antara kebutuhan dan keinginan. Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI (OpenAI), 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa dalam menghadapi tren belanja dan menentukan prioritas antara kebutuhan dan keinginan. Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI (OpenAI), 2026.

Uang saku mahasiswa seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari makan, transportasi, hingga keperluan kuliah. Namun, di tengah derasnya tren media sosial dan kemudahan belanja daring, uang juga bisa habis untuk memenuhi keinginan sesaat. Barang yang awalnya tidak dibutuhkan tiba-tiba terasa penting hanya karena sedang populer atau dianggap menunjang penampilan.

Pakaian terbaru, skincare, dan barang-barang yang sedang viral sering kali menarik perhatian mahasiswa. Melihat orang lain memilikinya dapat menimbulkan keinginan untuk ikut membeli, bahkan ketika barang serupa masih tersedia di rumah. Pada titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar berbelanja, melainkan bagaimana tren dan gengsi mulai memengaruhi cara seseorang menggunakan uang.

Mahasiswa tentu berhak menikmati hasil yang dimiliki dan membeli barang yang disukai. Namun, mengikuti tren bukanlah kewajiban. Membeli barang hanya demi terlihat menarik atau tidak ingin ketinggalan zaman dapat menjadi masalah ketika uang untuk kebutuhan utama justru terpakai. Karena itu, kemampuan mengendalikan keinginan perlu menjadi bagian dari kedewasaan mahasiswa dalam mengelola keuangan.

Literasi Keuangan Penting bagi Mahasiswa

Persoalan gaya hidup konsumtif tidak boleh dianggap sepele hanya karena nilai pembeliannya terlihat kecil. Pengeluaran yang dilakukan berulang kali dapat menghabiskan uang tanpa disadari. Membeli minuman yang sedang populer, mengikuti diskon, atau membeli barang karena terpengaruh konten media sosial mungkin terasa biasa jika dilakukan sekali. Namun, ketika kebiasaan tersebut terus berulang tanpa perencanaan, uang yang seharusnya dapat digunakan untuk kebutuhan kuliah, tabungan, atau keperluan mendadak justru semakin berkurang.

Masalahnya bukan semata-mata pada mahal atau murahnya barang, melainkan pada alasan membeli dan kemampuan mengendalikan pengeluaran. Mahasiswa dengan uang saku terbatas perlu mampu menentukan prioritas. Jika keinginan selalu didahulukan, kebutuhan yang lebih penting berisiko terabaikan. Oleh karena itu, literasi keuangan tidak cukup dipahami sebagai kemampuan menabung, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan sebelum menggunakan uang.

Pentingnya literasi keuangan terlihat dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam laporan tersebut, indeks literasi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa tercatat sebesar 62,72%, sedangkan indeks inklusi keuangannya mencapai 92,76%. Data ini menunjukkan bahwa indeks inklusi keuangan kelompok tersebut lebih tinggi daripada indeks literasinya. Meskipun data ini tidak secara langsung mengukur perilaku konsumtif, hasilnya menjadi pengingat bahwa akses terhadap layanan keuangan perlu diimbangi dengan pemahaman tentang cara mengelola uang secara bijak.

Pembahasan ini sejalan dengan kajian Suyanto dkk. (2025) dalam Indonesian Journal of Economic and Business yang membahas gaya hidup mahasiswa, literasi keuangan, dan perilaku konsumtif. Kajian tersebut menyoroti kaitan gaya hidup yang mengikuti tren dengan perilaku konsumtif serta pentingnya literasi keuangan dalam pengambilan keputusan. Artinya, mahasiswa perlu membiasakan diri mempertimbangkan manfaat barang sebelum memutuskan membeli, bukan sekadar mengikuti keinginan sesaat.

Konsumsi dalam Perspektif Ekonomi Islam

Dalam perspektif ekonomi Islam, keputusan konsumsi tidak cukup dinilai dari kemampuan seseorang membeli barang atau dari status halal barang tersebut. Cara menggunakan harta dan tujuan pembeliannya juga perlu diperhatikan. Barang yang halal sekalipun dapat dibeli secara berlebihan jika seseorang tidak mampu mengendalikan keinginannya. Karena itu, Islam mengajarkan agar manusia menggunakan harta secara bertanggung jawab dan tidak berlebih-lebihan.

Prinsip tersebut sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-A’raf ayat 31 yang mengingatkan manusia agar makan dan minum, tetapi tidak berlebih-lebihan. Pesan ini relevan bagi mahasiswa yang sering dihadapkan pada promosi dan tren belanja. Membeli barang karena benar-benar diperlukan tentu berbeda dengan membeli hanya karena tergoda diskon, mengikuti teman, atau ingin terlihat mengikuti perkembangan zaman.

Dalam pandangan ekonomi Islam, harta merupakan amanah yang harus digunakan secara bertanggung jawab. Sikap sederhana bukan berarti seseorang tidak boleh membeli barang yang disukai atau menikmati hasil yang dimiliki. Sikap sederhana berarti mampu menentukan batas, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menggunakan uang sesuai kemampuan. Dengan demikian, konsumsi seharusnya memberikan manfaat dan tidak membuat seseorang mengabaikan kebutuhan yang lebih penting.

Membiasakan Belanja secara Bijak

Menghadapi gaya hidup konsumtif tidak berarti mahasiswa harus berhenti menikmati perkembangan zaman. Hal yang perlu diubah adalah cara mengambil keputusan sebelum membeli. Mahasiswa dapat memulai dengan menyusun anggaran bulanan dan memprioritaskan kebutuhan utama. Selain itu, pembelian yang tidak mendesak sebaiknya ditunda agar keputusan tidak hanya didasarkan pada dorongan sesaat.

Mahasiswa juga perlu lebih kritis terhadap diskon, promosi, dan barang yang sedang viral. Harga murah tidak selalu berarti harus dibeli, terutama jika barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan. Sebelum melakukan transaksi, mahasiswa dapat bertanya kepada diri sendiri: apakah barang ini benar-benar diperlukan, apakah masih sesuai dengan anggaran, dan apakah pembelian ini akan mengganggu kebutuhan lain? Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu mengendalikan pengeluaran.

Selain tanggung jawab pribadi, kampus juga dapat berperan melalui edukasi literasi keuangan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Edukasi tersebut tidak hanya membahas cara menabung, tetapi juga membantu mahasiswa memahami cara menyusun anggaran, menentukan prioritas, dan menerapkan prinsip konsumsi dalam ekonomi Islam. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya memahami teori keuangan, tetapi juga dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, keberhasilan mahasiswa tidak seharusnya diukur dari seberapa sering mereka mengikuti tren atau seberapa banyak barang yang dimiliki. Kemampuan mengendalikan keinginan dan menggunakan harta secara bijak justru menunjukkan kedewasaan dalam mengambil keputusan. Mahasiswa tidak harus menjauhi media sosial atau berhenti berbelanja, tetapi perlu menyadari bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi.

Gaya hidup konsumtif dapat dikendalikan ketika mahasiswa berani menempatkan kebutuhan di atas gengsi. Dengan menerapkan prinsip ekonomi Islam, kegiatan konsumsi diharapkan tidak hanya memenuhi keinginan, tetapi juga membawa manfaat dan menghindarkan diri dari pemborosan. Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa banyak barang yang berhasil dibeli, melainkan seberapa bijak uang digunakan.