Usaha yang Tidak Sia-Sia

Politeknik Negeri Jakarta (PNJ)
Tulisan dari Salma Sita Rosulina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siang itu cuaca cukup cerah. Hangatnya matahari menyelimuti seluruh penjuru kota ini. Anak-anaknya telah berangkat menuju sekolah pagi tadi, suaminya juga sudah menuju tempat kerja sejak subuh tadi dan kini tersisa ia sendiri.
Dalam diam ia merasa sepi, terlebih anak-anaknya sudah mulai beranjak dewasa. Di dalam benaknya terbesit untuk mencari kesibukan lain ketimbang hanya menjadi seorang Ibu sekaligus istri yang berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Ijazah sarjananya menganggur lama di dalam lemari.
Ia menyadari usahanya menuntut ilmu di Perguruan Tinggi rasanya akan sia-sia bila tidak ia gunakan untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Sejak saat itu ia mantap untuk mencari pekerjaan, terlebih lagi izin dari suaminya yang menambah semangat tersendiri baginya. Belum lagi biaya anak-anaknya yang sudah bertambah dewasa semakin besar tentu membuat perasaan semangat itu semakin tumbuh.
Ia mulai mempersiapkan segalanya mulai dari berkas-berkas hingga persiapan diri telah dilakukan. Ia sibuk mencari setiap info lowongan pekerjaan. Bersusah payah kesana kemari bertanya kepada setiap orang yang ia kenali. Mengetuk pintu demi pintu rumah teman-temanmu, menghubungi setiap kontak yang ada di handphone-mu.
Namun tidak semuanya membuahkan hasil dan jawaban. Ada yang tidak memberikan informasi, ada yang pura-pura tidak tahu, bahkan ada pula yang dengan sengaja tak ingin dihubungi. Tetapi ia terus berusaha dan tidak lupa juga melibatkan-Nya dalam setiap langkah.
Ia tahu betul bahwa Tuhan sangat senang apabila hambanya meminta dan memohon kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Serta diikuti dengan usaha dan proses pendekatan pada-Nya dengan hati yang ikhlas dan tulus. Ia memperkuat ibadah kepada-Nya memohon dan meminta sepanjang waktu untuk dibukakan jalan untuk mendapatkan pekerjaan.
Bukan sehari dua hari atau seminggu dua minggu ia lakukan itu. Sudah tak tahu berapa hari dan berapa minggu ia berjuang karena ternyata mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Seringkali usahanya tidak menghasilkan apa-apa namun semangatnya tetap membara.
Sampai pada suatu hari terbesit rasa ingin menyerah dengan pencarian ini. Usaha dan doa tetap ia lakukan namun hatinya pasrah terhadap apa yang memang sudah menjadi garis hidup. Pencarian memang tidak ia hentikan seluruhnya namun merasa lelah dan pasrah bukankah hal yang wajar?
Hingga sampai pada suatu hari, teleponnya berdering dan terdengar suara tak asing baginya ternyata ia pamannya yang membawa kabar gembira untuknya. Menawarkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya yaitu menjadi seorang Guru.
Kau bersama keluarga merasa sangat bahagia. Berkali-kali ucapan syukur terlontar dari mulutnya dan hatinya karena usaha yang dilakukan selama ini membuahkan hasil yang indah. Ia kini menjadi seorang Guru meneruskan perjuangan ibunya untuk mendidik anak bangsa menjadi seseorang yang berhasil dan sukses di masa depan.
