Menkes: 70 Juta Warga RI Idap Penyakit Hati Kronis, Indonesia Peringkat 3 Dunia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan jumlah penderita penyakit hati kronis di Indonesia mencapai sekitar 70 juta orang. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan beban penyakit hati terbesar ketiga di dunia setelah China dan India.

“Data yang saya pegang ada sekitar tujuh puluh jutaan yang terkena penyakit hati kronis ini. Dan kita ranking tiga dunia sesudah Cina, India, sama Indonesia seperti biasa,” kata Budi dalam dialog kesehatan Bicara Tentang Hati: Solid Habit, Strong Liver di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (2/6).

Budi menjelaskan, secara global penyakit hati kronis menjadi masalah kesehatan serius dengan jumlah penderita lebih dari 300 juta orang di dunia dan menyebabkan sekitar dua juta kematian setiap tahun.

“Di dunia lebih dari tiga ratus juta orang yang terkena penyakit kronis hati. Meninggalnya setahun dua juta,” ujarnya.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, di acara dialog kesehatan "Bicara Tentang Hati: Solid Habit, Steong Liver" di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (2/6/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Ia bahkan menyebut, jika dihitung rata-rata, kematian akibat penyakit hati dapat mencapai hampir empat orang per menit di dunia.

“Jadi kalau setahun dua juta, bagi tiga ratus enam puluh lima, bagi dua puluh empat, bagi enam puluh, tadi saya hitung semenit empat orang, hampir tiga koma sembilan,” kata Budi.

Menurutnya, lebih dari 50 persen kematian tersebut disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B dan C. Sementara sisanya dipicu oleh faktor lain seperti konsumsi alkohol dan gangguan metabolisme tubuh.

“Nah dari kematian yang dua juta itu, memang lebih dari lima puluh persen disebabkan karena virus. Hepatitis B sama hepatitis C,” ujarnya.

Budi juga menyoroti meningkatnya kasus gangguan hati akibat faktor metabolik, yang umumnya berkaitan dengan obesitas dan kadar gula berlebih dalam tubuh.

“Nah lima belas persenan yang peningkatannya paling dini itu karena metabolisme lainnya, biasanya obesitas atau gula,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan besar karena banyak kasus tidak terdeteksi sejak awal. Selain itu, Indonesia juga dinilai masih menghadapi keterbatasan dalam pencatatan data penyakit hati secara nasional.

“Di Indonesia datanya ada, cuma datanya kalau lihat sumber-sumbernya beda-beda juga dan nyatanya juga agak lebih asal-asalan. Indonesia kita masih harus lebih rapi mencatat datanya,” kata Budi.

Meski demikian, Budi menyebut beban pembiayaan kesehatan untuk penyakit hati masih berada di bawah penyakit tidak menular lain seperti jantung, stroke, dan kanker, meskipun jumlah kasusnya cukup besar.

“Tapi BPJS-nya surprisingly kalau saya lihat enggak terlalu tinggi klaimnya. Masih jauh di bawah jantung, stroke, sama kanker,” katanya.

Ia menegaskan perlunya penguatan deteksi dini dan pencegahan untuk menekan angka kasus penyakit hati kronis di Indonesia, mengingat sebagian besar kasus baru ditemukan saat kondisi sudah lanjut.