Peneliti UPN Yogya Gunakan Geolistrik untuk Ungkap Kebakaran Misterius di Sleman

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tim peneliti UPN "Veteran" Yogyakarta mengerahkan alat geolistrik untuk memetakan lapisan batuan di sekitar lokasi kebakaran misterius yang terjadi puluhan kali di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Rabu (3/6/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Tim peneliti UPN "Veteran" Yogyakarta mengerahkan alat geolistrik untuk memetakan lapisan batuan di sekitar lokasi kebakaran misterius yang terjadi puluhan kali di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Rabu (3/6/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Tim peneliti UPN "Veteran" Yogyakarta mengerahkan alat geolistrik untuk memetakan lapisan batuan di sekitar lokasi kebakaran misterius yang terjadi puluhan kali di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Rabu (3/6).

Alat ini dipasang di sisi timur atau belakang rumah, sekitar 30 meter dari bangunan tersebut.

Peralatan tersebut berupa kabel yang dibentangkan sepanjang 200 meter. Sejumlah patok kecil berbahan logam ditancapkan di permukaan tanah.

"Jadi ini kami akan mencoba untuk melakukan identifikasi untuk sub-surfacenya. Artinya kita mau mencoba melihat lapisan-lapisan bawah permukaannya ini seperti apa begitu," kata Koordinator Tim Peneliti Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN "Veteran" Yogyakarta, Ardian Novianto, saat ditemui di lokasi, Rabu (3/6).

"Ini kita coba melihat, kemarin kan kita sudah melihat singkapan di sisi timur di sungai itu. Nah kita kepengin melihat apakah sebarannya seperti apa untuk stratigrafi di bawah permukaannya. Jadi dengan metode geofisika. Kurang lebih itu yang saat ini kita coba lakukan begitu," katanya.

Tim peneliti UPN "Veteran" Yogyakarta mengerahkan alat geolistrik untuk memetakan lapisan batuan di sekitar lokasi kebakaran misterius yang terjadi puluhan kali di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Rabu (3/6/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Ardian mengatakan penelitian tidak hanya dilakukan di satu titik. Tim peneliti berencana melakukan pengukuran di sekitar lima hingga enam lintasan lain di sisi timur rumah.

"Jadi tidak hanya di lintasan ini saja. Kita akan lakukan di beberapa lintasan. Harapannya nanti dapat beberapa area yang lebih luas begitu. Tapi pengukuran yang kita lakukan hanya pada lintasan-lintasan yang nanti sudah kita tetapkan begitu," katanya.

Dia menjelaskan, alat geolistrik bertugas membaca resistivitas batuan sehingga diharapkan dapat memperlihatkan pola-pola lapisan batuan di bawah permukaan.

"Utamanya kita pengin melihat lapisan-lapisan batuannya. Cuma kita juga kepengin apakah nanti bisa melihat adanya struktur atau fracture atau apa pun lah yang bisa kita analisis selain dari segi lapisannya," katanya.

Tim peneliti UPN "Veteran" Yogyakarta mengerahkan alat geolistrik untuk memetakan lapisan batuan di sekitar lokasi kebakaran misterius yang terjadi puluhan kali di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Rabu (3/6/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Menurut Ardian, salah satu lapisan batuan diduga menjadi tempat akumulasi gas metana.

"Kantongnya. Jadi artinya lapisan yang bisa menyimpan si gas tadi. Nah terkait dengan strukturnya, interpretasi awal, struktur itu sebagai jalur untuk keluarnya si gas tadi. Jadi kita pengin mengidentifikasi itu," katanya.

Hingga kini proses penelitian masih berlangsung sehingga belum ada kesimpulan yang dapat diambil secara komprehensif. Berbagai data yang dikumpulkan para peneliti nantinya akan dikombinasikan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh.

"Jadi dari beberapa pengukuran memang selama ini yang kemarin ada indikasi metana begitu ya. Namun pada saat diukur dari ESDM kemarin membawa alat ternyata memang ada metana tapi minor," katanya.

"Nah apakah ada yang lain karena kemarin dari instansi yang lain juga mencoba mengukur, cuma kita belum tahu hasilnya hingga saat ini apa. Kalau teman-teman media (menyebut) hidrogen ya bisa jadi karena kita belum tahu pasti. Nah nanti kita mungkin akan bertemu bareng untuk menyimpulkan gitu," pungkasnya.