Konten dari Pengguna

Paylater di Kalangan Anak Muda: Solusi Keuangan atau Jebakan Konsumsi?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsa Audri Febrianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Paylater menawarkan kemudahan membeli barang sekarang dan membayarnya kemudian. Namun, pertumbuhan penggunaannya membuat kemampuan mengatur keuangan dan memahami risiko kredit menjadi semakin penting.

Belanja online kini tidak hanya soal memilih barang dan membayar. Berbagai metode pembayaran digital membuat transaksi semakin mudah, salah satunya Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai paylater.

Bagi anak muda, paylater dapat menjadi pilihan ketika membutuhkan barang atau jasa tetapi belum memiliki uang yang cukup saat itu. Namun, kemudahan tersebut juga perlu diimbangi dengan kemampuan mengatur keuangan. Sebab, transaksi yang terasa ringan ketika dilakukan satu per satu dapat berubah menjadi beban ketika tagihan menumpuk.

Fenomena ini semakin menarik karena penggunaan BNPL di Indonesia terus tumbuh.

Ilustrasi anak muda menggunakan layanan paylater untuk berbelanja. Kemudahan transaksi digital perlu diimbangi dengan kemampuan mengelola keuangan dan memahami kewajiban pembayaran. Kamis, 17 September 2026, dok : Salsa Audri F (mahasiswa)

Paylater Makin Banyak Digunakan

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa per Juli 2026, baki debet kredit BNPL perbankan mencapai Rp31,56 triliun. Nilai tersebut tumbuh 31,22 persen secara tahunan, dengan jumlah rekening mencapai 33,50 juta. Pada sektor perusahaan pembiayaan, pembiayaan BNPL juga tumbuh lebih tinggi, yaitu 54,65 persen secara tahunan menjadi Rp13,62 triliun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa BNPL telah menjadi bagian dari perkembangan layanan keuangan digital di Indonesia. Namun, angka pertumbuhan tersebut tidak berarti seluruh pengguna berada dalam kondisi bermasalah. Pertumbuhan kredit hanya menunjukkan semakin luasnya penggunaan produk tersebut.

Di sinilah persoalan sebenarnya muncul:

apakah paylater digunakan sebagai alat pembayaran yang terencana atau justru mendorong masyarakat membeli sesuatu yang sebenarnya belum mampu mereka bayar?

Ketika paylater menjadi solusi, pada dasarnya, paylater tidak selalu identik dengan perilaku konsumtif.

Dalam kondisi tertentu, fasilitas ini dapat membantu pengguna mengatur waktu pembayaran. Misalnya, seseorang membutuhkan barang yang memang diperlukan dan sudah memperhitungkan kemampuan membayar cicilan dari pendapatan bulan berikutnya.

Dari sisi ekonomi, layanan seperti BNPL juga memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan. Konsumen dapat melakukan transaksi secara digital tanpa harus membayar seluruh harga barang pada saat transaksi.

Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada bagaimana fasilitas tersebut digunakan.

Paylater menjadi kurang sehat apabila digunakan berulang kali untuk memenuhi keinginan konsumsi tanpa mempertimbangkan pendapatan dan kewajiban yang sudah dimiliki.

Kemudahan Transaksi Bisa Mendorong Konsumsi

Salah satu daya tarik paylater adalah proses transaksi yang relatif mudah. Harga barang yang terlihat mahal dapat terasa lebih ringan ketika dibagi menjadi beberapa pembayaran.

Masalahnya, cara melihat harga seperti ini dapat membuat seseorang lebih fokus pada besarnya cicilan daripada total kewajiban yang harus dibayar.

Misalnya, seseorang memiliki beberapa transaksi paylater sekaligus. Masing-masing cicilan mungkin terlihat kecil, tetapi ketika digabungkan, jumlahnya dapat menjadi cukup besar dan mengurangi uang yang tersedia untuk kebutuhan lain.

Karena itu, keputusan menggunakan paylater seharusnya tidak hanya didasarkan pada pertanyaan, “Apakah cicilannya sanggup saya bayar?,” tetapi juga “Apakah pembelian ini memang perlu dan apakah total kewajiban saya masih sesuai dengan kemampuan keuangan?”

Literasi Keuangan Menjadi Kunci

Persoalan paylater tidak bisa dilepaskan dari literasi keuangan. Masyarakat perlu memahami bukan hanya cara menggunakan layanan keuangan digital, tetapi juga risiko, biaya, kewajiban pembayaran, dan konsekuensi apabila terjadi keterlambatan.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan OJK, BPS, dan LPS menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 69,57 %, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 %. Artinya, akses masyarakat terhadap layanan keuangan jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat pemahamannya mengenai keuangan.

Pada kelompok usia 18–25 tahun, indeks literasi keuangan tercatat 73,32 persen, sedangkan inklusi keuangannya mencapai 95,69 %. Sementara kelompok usia 15–17 tahun memiliki indeks literasi 56,04 persen dan inklusi 89,13 % .

Data tersebut memang tidak secara khusus menunjukkan tingkat penggunaan paylater oleh anak muda. Namun, data tersebut memberikan gambaran bahwa akses terhadap layanan keuangan dan kemampuan memahami produk keuangan merupakan dua hal yang berbeda.

Semakin mudah akses terhadap layanan keuangan, semakin penting pula kemampuan masyarakat memahami produk yang digunakan.

Pemerintah Mulai Memperkuat Aturan

Pertumbuhan BNPL juga diikuti dengan penguatan regulasi. OJK telah menerbitkan POJK Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Beli Sekarang Bayar Nanti (BNPL) yang berlaku sejak 15 Desember 2025.

Aturan tersebut mencakup antara lain karakteristik BNPL, perlindungan konsumen, keterbukaan informasi, penagihan, pelaporan, serta penyelenggaraan BNPL oleh bank umum dan perusahaan pembiayaan.

Untuk BNPL yang diselenggarakan perusahaan pembiayaan, OJK juga menetapkan sejumlah ketentuan terkait calon pengguna. OJK sebelumnya menjelaskan bahwa pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan diarahkan kepada nasabah berusia minimal 18 tahun atau telah menikah dan memiliki pendapatan minimal Rp3 juta per bulan, dengan pemenuhan ketentuan tersebut untuk akuisisi nasabah baru dan/atau perpanjangan pembiayaan paling lambat 1 Januari 2027.

Penguatan aturan ini menunjukkan bahwa perkembangan layanan keuangan digital perlu berjalan bersamaan dengan perlindungan konsumen dan pengelolaan risiko.

Jadi, Solusi atau Jebakan?

Jawabannya tidak bisa disamaratakan.

Paylater dapat menjadi alat pembayaran yang membantu jika digunakan secara terencana, tetapi dapat menjadi beban jika digunakan untuk memenuhi konsumsi di luar kemampuan keuangan.

Bagi anak muda, persoalannya bukan sekadar boleh atau tidak menggunakan paylater. Yang lebih penting adalah memahami konsekuensi dari setiap transaksi.

Sebelum menggunakan paylater, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, berapa total pembayaran yang harus dikeluarkan, apakah masih ada cicilan lain, dan apakah pendapatan yang tersedia cukup untuk memenuhi seluruh kewajiban.

Pada akhirnya, teknologi keuangan memang membuat transaksi menjadi lebih mudah. Tetapi kemudahan dalam membeli tidak selalu berarti kemampuan untuk membayar juga meningkat.

Paylater hanyalah sebuah fasilitas keuangan. Cara seseorang menggunakannya yang menentukan apakah fasilitas tersebut menjadi solusi pembayaran atau justru menambah beban keuangan.

Dengan meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital, literasi keuangan menjadi semakin penting. Bukan agar anak muda takut menggunakan layanan keuangan, tetapi agar mereka dapat menggunakannya dengan lebih sadar, terukur, dan sesuai kemampuan.