Friendship Breakup dan Kenyataan bahwa Tidak Semua Pertemanan Bertahan Selamanya

English Literature Student at Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Salsabilla Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menurut saya, perpisahan dalam pertemanan atau friendship breakup terkadang sama menyakitkannya dengan putus cinta. Bedanya, perpisahan dengan teman sering kali datang tanpa penjelasan yang jelas atau tanpa adanya kata perpisahan secara langsung.
Saya pernah memiliki seorang teman yang dulunya sangat dekat dengan saya. Kami berbagi banyak cerita, banyak waktu, dan banyak kenangan bersama. Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan kami mulai berubah dan perlahan menjauh.
Terkadang, kehilangan seorang teman terasa seperti kehilangan bagian dari masa hidup kita sendiri.
Pada akhirnya saya mengetahui bahwa kami ternyata memiliki perasaan terhadap orang yang sama. Saya sendiri sudah mengetahui bahwa teman saya juga menyukai laki-laki tersebut.
Namun, pada akhirnya laki-laki itu memilih untuk menjalin hubungan dengan saya. Saya tidak pernah merasa telah mengkhianatinya, karena sejak awal perasaan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksa atau ditentukan oleh siapa pun.
Meskipun kami sama-sama memiliki perasaan yang sama terhadap orang yang sama, keputusan tetap berada di tangan orang tersebut mengenai siapa yang ingin dipilihnya.
Sayangnya, keadaan setelah itu tidak lagi sama seperti sebelumnya. Kadang-kadang yang merusak sebuah hubungan bukanlah kebencian, melainkan keadaan yang tidak pernah dipilih oleh siapa pun.
Semakin bertambah usia, saya mulai menyadari bahwa lingkaran pertemanan memang akan semakin kecil. Tidak semua orang yang hadir di masa tertentu akan tetap bersama kita di masa depan.
Ada orang-orang yang memang hadir untuk menemani suatu fase dalam hidup, kemudian pergi ketika fase tersebut berakhir. Ada pula hubungan yang harus dijaga, dan ada juga hubungan yang akhirnya harus dilepaskan demi ketenangan dan kewarasan diri sendiri.
Karena itu, saya mulai memahami bahwa memilih siapa yang tetap ada dalam hidup kita dan siapa yang perlu dilepaskan merupakan bagian dari proses menjadi dewasa.
Menjadi dewasa sering kali bukan tentang menambah banyak teman, tetapi tentang mengetahui siapa yang benar-benar ingin kita pertahankan.
Meski saya sering mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan hidup harus terus berjalan, sebenarnya ada satu hal yang sampai sekarang masih saya rasakan.
Saya masih berharap suatu hari nanti kami bisa berbicara seperti dulu, bercanda seperti dulu, dan kembali menjadi teman seperti sebelum semuanya berubah. Namun entah mengapa, semakin waktu berjalan, semakin sulit rasanya untuk kembali seperti sedia kala.
Mungkin beberapa hubungan memang tidak berakhir dengan pertengkaran besar atau kebencian, tetapi hanya berubah menjadi kenangan yang sesekali masih kita rindukan.
Tidak semua orang yang pergi berhenti kita sayangi, dan tidak semua hubungan yang berakhir berhenti kita rindukan.
Pada akhirnya, friendship breakup mengajarkan saya bahwa kehilangan teman merupakan bagian dari proses bertumbuh. Tidak semua hubungan bisa bertahan selamanya, dan tidak semua perpisahan memiliki pihak yang salah.
Kadang-kadang dua orang hanya dipisahkan oleh keadaan, waktu, dan pilihan hidup yang berbeda.
Dan mungkin, bentuk kedewasaan terbesar adalah menerima bahwa beberapa orang memang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari cerita kita, bukan akhir dari cerita kita.
