Kumparan Logo

Baskara Putra-Perunggu Berperan Besar di Balik Lahirnya Album Baru Bernadya

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penyanyi Bernadya saat konferensi pers album berjudul Bernama Semoga Hanya Di Mimpi di kawasan Cilandak, Jakarta, Jumat, (26/6/2026). Foto: Agus Apriyanto
zoom-in-whitePerbesar
Penyanyi Bernadya saat konferensi pers album berjudul Bernama Semoga Hanya Di Mimpi di kawasan Cilandak, Jakarta, Jumat, (26/6/2026). Foto: Agus Apriyanto

Bernadya mengungkapkan proses kreatif di balik album keduanya, Semoga Hanya di Mimpi, tak lepas dari peran sejumlah musisi yang terlibat sebagai penulis lagu maupun produser. Di antaranya adalah Baskara Putra alias Hindia dan band Perunggu.

Baskara menjadi salah satu sosok pertama yang membantu Bernadya menemukan benang merah album tersebut. Bernadya mengaku sempat kebingungan menentukan arah cerita yang ingin dibawa hingga akhirnya mendapat masukan dari Baskara.

Kala itu, Baskara justru meminta Bernadya menulis tentang kehidupan yang terlalu tenang.

“Tulis saja soal hidupmu yang terlalu tenang,” kenang Bernadya menirukan saran Baskara saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan.

Musisi band Hindia, Daniel Baskara Putra Foto: econusa

Dari percakapan tersebut lahirlah lagu “Laut yang Tenang”, yang kemudian menjadi titik awal sekaligus pondasi narasi album Semoga Hanya di Mimpi. Lagu itu menggambarkan ketakutan seseorang bahwa ketenangan yang dimiliki suatu saat akan hilang.

Menariknya, Bernadya mengaku sempat merasa lirik lagu tersebut seperti doa buruk. Ia bahkan pernah menyampaikan kekhawatirannya kepada Baskara.

“Aku pernah bilang ke Bas, ‘Lirik-liriknya kok serem ya, aku takut ini jadi kejadian,” tutur bernadya.

Penyanyi Bernadya saat konferensi pers album berjudul Bernama Semoga Hanya Di Mimpi di kawasan Cilandak, Jakarta, Jumat, (26/6/2026). Foto: Agus Apriyanto

Namun, Baskara menenangkan pelantun “Satu Bulan” dan mengatakan bahwa jika semua penulis lagu berpikir demikian, maka tak akan ada yang berani menulis cerita. Ketakutan yang dituangkan dalam “Lautan yang Tenang” kemudian menjadi benang merah yang berlanjut ke lagu-lagu berikutnya dalam album tersebut.

Sementara itu, nuansa nostalgia era 2000-an yang terasa kuat di album juga lahir dari kolaborasi Bernadya bersama Perunggu.

Saat menggarap lagu “Peluk Aku Sekarang!”, Bernadya dan personel Perunggu awalnya hanya ingin membuat lagu yang menggambarkan pasangan yang saling menelepon untuk menceritakan hari mereka.

Obrolan tersebut berkembang menjadi ide tentang komunikasi jarak jauh di era awal 2000-an, ketika wartel dan telepon rumah masih menjadi bagian dari keseharian.

Band Perunggu gelar tur di 5 kota. Foto: Dok. Istimewa

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan lewat detail-detail kecil di lagu, seperti suara dering telepon yang membuka lagu hingga percakapan “halo” yang sengaja dimasukkan sebagai bagian dari pengalaman mendengarkan.

Perunggu juga membantu Bernadya menerjemahkan referensi musik era 2000-an. Mereka menjadikan acara musik seperti Clear Top 10 sebagai acuan, lalu menyusun playlist lagu-lagu populer pada masa itu untuk mendapatkan nuansa yang diinginkan.

Bernadya sendiri mengakui banyak detail musikal yang sebelumnya tak terpikirkan olehnya.

“Bunyi teleponnya, bunyi piano-pianonya, itu lagunya Perunggu banget,” kata Bernadya.

Kolaborasi dengan Baskara Putra dan Perunggu pun akhirnya menjadi dua elemen penting yang membentuk identitas Semoga Hanya di Mimpi. Baskara membantu membangun fondasi cerita album, sementara Perunggu memperkuat atmosfer nostalgia 2000-an yang terasa di beberapa lagu.