Konten dari Pengguna

Ketika Dollar Menembus Rp18.000, Siapa yang Membayar?

Salwa Rayni

Salwa Rayni

Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salwa Rayni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dolar menembus Rp18.000 bukan sekadar angka di pasar, tetapi tekanan yang merambat ke harga, bisnis, daya beli, dan ekonomi Indonesia sehari-hari. (sumber:Generate AI)
zoom-in-whitePerbesar
Dolar menembus Rp18.000 bukan sekadar angka di pasar, tetapi tekanan yang merambat ke harga, bisnis, daya beli, dan ekonomi Indonesia sehari-hari. (sumber:Generate AI)

Angka Rp18.000 mungkin hanya terlihat seperti angka di layar perdagangan valuta asing. Namun, bagi masyarakat Indonesia, angka tersebut sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat: harga barang, biaya produksi, perjalanan ke luar negeri, hingga keputusan bisnis.

Pada 29 September 2026, nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Tekanan tersebut terjadi ketika imbal hasil US Treasury meningkat dan harga minyak dunia kembali naik, membuat dolar AS semakin diminati investor global.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar, “Mengapa rupiah melemah?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika dolar menembus Rp18.000, siapa yang sebenarnya membayar?

Nilai tukar sering kali terdengar seperti persoalan para ekonom, investor, atau pelaku pasar keuangan. Padahal, pergerakannya dapat merambat ke berbagai aktivitas ekonomi. Indonesia masih membutuhkan berbagai barang, bahan baku, mesin, energi, dan komponen dari luar negeri. Ketika rupiah melemah terhadap dolar, biaya untuk memperoleh barang-barang yang dibayar menggunakan dolar dapat meningkat dalam rupiah. Pada akhirnya, kenaikan biaya tersebut dapat diteruskan ke rantai produksi.

Produsen menghadapi biaya yang lebih tinggi. Distributor menghadapi biaya pengadaan yang meningkat. Pelaku usaha harus menyesuaikan strategi. Dan dalam kondisi tertentu, konsumen dapat menjadi pihak yang merasakan dampaknya melalui harga barang dan jasa. Artinya, pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan angka kurs. Ia dapat menjadi persoalan daya beli.

Namun, tidak semua harga otomatis naik, di sinilah kita perlu berhati-hati. Rupiah yang melemah tidak berarti semua harga barang akan langsung naik dengan persentase yang sama. Dampaknya bergantung pada seberapa besar suatu produk menggunakan bahan baku impor, kontrak pembelian yang dimiliki perusahaan, struktur biaya produksi, hingga kemampuan perusahaan menyerap kenaikan biaya.

Inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan, sedikit meningkat dari 3,19% pada Agustus dan masih berada dalam sasaran inflasi yang ditetapkan. Karena itu, melemahnya rupiah perlu dilihat sebagai salah satu tekanan dalam perekonomian, bukan sebagai satu-satunya penyebab kenaikan harga.

Mengapa rupiah bisa tertekan? Pergerakan rupiah tidak terjadi dalam ruang hampa. Ekonomi Indonesia terhubung dengan pasar global. Ketika imbal hasil aset Amerika Serikat meningkat, investor global dapat menjadi lebih tertarik menempatkan dana pada aset berdenominasi dolar. Pada saat yang sama, kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar bagi negara yang masih mengimpor energi.

Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Reuters melaporkan bahwa tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia meningkat seiring tingginya harga minyak dan imbal hasil US Treasury.

Dengan kata lain, sebagian tekanan rupiah berasal dari sesuatu yang berada di luar kendali langsung Indonesia. Tetapi justru di sinilah ketahanan ekonomi nasional diuji. BI tidak tinggal diam, bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75% dalam RDG September 2026. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan inflasi dalam sasaran. BI juga terus menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah dan menarik aliran modal ke Indonesia. Langkah tersebut penting. Namun, menjaga nilai tukar bukan hanya tugas bank sentral.

Ketahanan rupiah juga sangat berkaitan dengan kemampuan Indonesia menghasilkan devisa, meningkatkan ekspor bernilai tambah, menjaga daya saing industri, serta mengurangi kerentanan terhadap gejolak eksternal.

Data perdagangan Agustus 2026 sebenarnya memberikan gambaran yang cukup menarik. Ekspor Indonesia mencapai US$26,61 miliar, sementara impor sebesar US$23,06 miliar. Secara kumulatif Januari–Agustus 2026, Indonesia masih mencatat surplus perdagangan US$7,25 miliar. Namun, surplus perdagangan tidak otomatis membuat rupiah kebal terhadap tekanan global.

Siapa yang Membayar? jawabannya tidak sesederhana “masyarakat”. Pelaku usaha juga membayar melalui kenaikan biaya input. Importir membayar lebih mahal dalam rupiah. Perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar menghadapi beban yang lebih besar ketika harus mengonversi rupiah. Pemerintah pun harus memperhatikan dampaknya terhadap berbagai kebutuhan yang terkait dengan transaksi luar negeri.

Konsumen mungkin menjadi pihak yang paling mudah melihat dampaknya, tetapi sesungguhnya biaya pelemahan mata uang dapat tersebar ke banyak bagian dalam perekonomian. Karena itu, pertanyaan mengenai rupiah seharusnya tidak berhenti pada berapa angka kurs hari ini.

Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa kuat struktur ekonomi Indonesia ketika menghadapi perubahan ekonomi dunia?

Jangan Hanya Mengejar Rupiah yang Kuat

Ada kecenderungan melihat rupiah yang kuat sebagai satu-satunya tanda keberhasilan ekonomi. Padahal, nilai tukar hanyalah salah satu indikator. Yang lebih fundamental adalah bagaimana Indonesia membangun ekonomi yang tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal.

Indonesia perlu terus memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan nilai tambah ekspor, memperluas pasar ekspor, memperkuat sektor energi, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Dengan demikian, ketika dolar kembali menguat, Indonesia tidak hanya mengandalkan intervensi untuk meredam gejolak, tetapi memiliki fondasi ekonomi yang mampu menyerap tekanan tersebut. Pada akhirnya, Rp18.000 per dolar bukan hanya tentang sebuah angka.

Ia adalah pengingat bahwa keputusan ekonomi yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia dapat berakhir di meja makan, neraca perusahaan, dan keputusan belanja masyarakat Indonesia. Dunia semakin terhubung. Karena itu, ketahanan ekonomi Indonesia tidak cukup dibangun dengan menjaga rupiah hari ini, tetapi dengan membangun ekonomi yang lebih kuat menghadapi gejolak global esok hari.