Konten dari Pengguna

Pulau Sebesi dan Air yang Mengambang di Atas Laut

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Sapari Dwi Hadian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung. Foto: Saherio Hindami/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung. Foto: Saherio Hindami/Shutterstock

Di tengah Selat Sunda, hanya 13 kilometer dari Krakatau, ada sebuah pulau kecil bernama Sebesi. Pada 1883, letusan Krakatau menyapu pulau ini dan merenggut sekitar 3.000 jiwa. Pada 2018, tsunami Selat Sunda kembali menghantamnya. Namun hari ini Sebesi tetap dihuni ribuan orang yang bertani, memelihara ternak, dan menyekolahkan anak-anaknya. Sementara pulau-pulau tetangganya di gugusan Krakatau tetap kosong, gersang, dan tidak punya air tawar.

Pertanyaannya sederhana tetapi penting: bagaimana sebuah kerucut gunung api kecil yang terkurung laut, tanpa pipa dari daratan, bisa memberi minum penduduknya selama lebih dari seabad?

Jawabannya tidak terlihat dari permukaan. Ia tersimpan di dalam batuan gunung api itu sendiri.

Gunung yang Menjadi Menara Air

Puncak Sebesi menjulang 844 meter dan berbentuk kerucut yang hampir simetris. Bagi mata awam, itu hanya pemandangan indah. Bagi ahli hidrogeologi, kerucut itu adalah "corong" raksasa yang menangkap hujan. Batuan gunung api muda yang menyusun pulau ini abu gunung api, pasir, dan lava basalt bersifat berpori dan mudah dilewati air. Hujan yang jatuh di puncak tidak langsung mengalir ke laut, melainkan meresap ke perut pulau, disimpan, lalu dilepaskan perlahan lewat mata air dan sungai.

Itulah sebabnya Sebesi punya sungai yang mengalir sepanjang tahun, sesuatu yang tidak dimiliki pulau-pulau di sekitarnya. Kandungan bikarbonat dan mineral silika yang tinggi dalam air tanahnya menjadi bukti bahwa air itu telah "berbincang lama" dengan batuan gunung api diperkaya dan disaring secara alami. Gunung yang dulu membunuh, kini justru menjadi menara air bagi anak cucu para korban.

Air Tawar yang Mengambang

Di pulau kecil, air tawar tidak tersimpan seperti danau bawah tanah. Ia berbentuk lensa air tawar: lapisan tipis yang mengambang di atas air laut yang lebih berat, seperti minyak di atas air. Lensa ini hidup dan bernapas mengembang saat musim hujan, menyusut saat kemarau, dan langsung bereaksi setiap kali sumur baru dipompa terlalu dalam.

Karena tipis dan rapuh, lensa ini mudah rusak. Ambil air terlalu banyak, air laut akan naik mengisi kekosongan, dan sumur yang tadinya tawar berubah asin. Setelah asin, memulihkannya butuh waktu bertahun-tahun, kadang tidak pernah kembali. Di Sebesi, susunan berlapis antara abu dan lava membantu melindungi lensa ini dari serbuan air laut. Tetapi perlindungan alami itu punya batas, dan batas itu ditentukan oleh perilaku manusia di atasnya.

Warisan Geologi Bukan Sekadar Wisata

Selama ini istilah geoheritage atau warisan geologi sering dianggap urusan pariwisata: soal papan nama geopark, spot foto, dan festival. Sebesi menunjukkan sisi lain yang jauh lebih mendasar. Ketika kita memetakan situs-situs geologi di pulau ini kerucut gunung api, aliran lava, endapan piroklastik kita sebenarnya sedang memetakan tempat hujan meresap dan tempat air disimpan.

Dengan kata lain, melindungi lereng gunung api sebagai warisan geologi sama artinya dengan melindungi tandon air pulau itu. Setiap galian, penebangan, atau bangunan yang mengganggu daerah resapan di lereng atas akan terasa dampaknya di sumur-sumur pesisir beberapa tahun kemudian. Konservasi geologi di sini bukan gaya hidup, melainkan urusan hidup dan mati.

Ingatan Bencana sebagai Modal

Sebesi juga mengajarkan bahwa mengelola air bukan hanya soal geologi, tetapi soal ingatan bersama. Warga pulau ini menyimpan cerita turun-temurun tentang 1883 dan pengalaman langsung tentang 2018. Ingatan kolektif itu adalah modal sosial yang langka.

Jika cerita-cerita rakyat dan pengalaman warga dipadukan dengan data ilmiah, gunung api tidak lagi dipandang semata sebagai ancaman yang tertidur, melainkan sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga bersama. Ketika masyarakat sendiri yang memahami bahwa lensa air tawar mereka rapuh, mereka akan lebih rela mengatur pemompaan sumur, menjaga hutan lereng, dan ikut memantau kadar garam. Kerelaan seperti inilah yang membedakan sumur yang lestari dari sumur yang mati.

Batas Pulau Tidak Berhenti di Pantai

Temuan paling menarik datang dari penelitian di gunung api serupa di Hawaii. Pencitraan kelistrikan bawah laut menunjukkan bahwa air tawar dapat merembes melewati lapisan-lapisan gunung api hingga jauh ke bawah dasar laut, membentuk kantong-kantong air tawar lepas pantai. Artinya, "wadah" air sebuah pulau bisa jauh lebih besar dari daratan yang terlihat di peta.

Bagi Sebesi dan ribuan pulau kecil lain di Indonesia, ini mengubah cara kita menghitung ketahanan air. Wilayah sebuah pulau tidak berakhir di garis pasang tertinggi; ia menjulur ke lapisan geologi masa lalu dan ke kedalaman laut di sekelilingnya.

Pelajaran untuk Negeri Seribu Pulau

Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau, dan sebagian besar adalah pulau kecil dengan masalah air yang sama: hujan yang cepat lari ke laut, sumur yang mulai payau, dan permukaan laut yang terus naik. Sebesi adalah laboratorium alam yang menunjukkan bahwa jawabannya sering kali sudah ada di bawah kaki kita, asal kita mau membacanya.

Kebijakan air pulau kecil tidak cukup dengan membangun tandon dan mengirim kapal tangki saat kemarau. Ia harus dimulai dari memahami batuan yang menyimpan air, melindungi lereng yang menangkap hujan, dan melibatkan warga yang paling tahu perilaku sumurnya sendiri. Ilmu gunung api, kimia air tanah, dan konservasi geologi harus duduk satu meja dengan pemerintah daerah dan masyarakat.

Krakatau pernah menghapus kehidupan di Sebesi dalam sekejap. Namun batuan yang dimuntahkannya kini menjadi alasan pulau itu tetap hidup. Di situlah pelajaran terbesarnya: warisan geologi bukan hanya jendela untuk menengok masa lalu, melainkan bejana yang menopang masa depan kita jika kita cukup bijak untuk tidak memecahkannya.