Konten dari Pengguna

BTS, Grammy, dan Politik Legitimasi Musik Global

Sarah Novianti

Sarah Novianti

Dosen Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta

·waktu baca 14 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sarah Novianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BTS saat tampil di karpet merah Grammy Awards 2022 di Las Vegas. Panggung utama musik Barat yang kini mulai dikritisi oleh para musisi Global South. (Foto: Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
BTS saat tampil di karpet merah Grammy Awards 2022 di Las Vegas. Panggung utama musik Barat yang kini mulai dikritisi oleh para musisi Global South. (Foto: Getty Images)

Beberapa dekade Grammy Awards telah diposisikan sebagai salah satu simbol legitimasi tertinggi dalam industri musik global. Sebagai penghargaan yang diselenggarakan oleh Recording Academy di Amerika Serikat, Grammy tidak sekadar memberikan penghargaan terhadap karya musik, tetapi juga berperan dalam menentukan siapa, karya apa, dan jenis musik seperti apa yang memperoleh pengakuan simbolik di tingkat internasional. Grammy dapat dipahami bukan hanya sebagai sebuah acara penghargaan, melainkan sebagai salah satu institusi yang ikut membentuk hierarki legitimasi dalam industri musik global.

Namun, klaim bahwa Grammy merupakan arena yang sepenuhnya universal, meritokratis, dan bebas dari struktur kekuasaan patut dipertanyakan. Pertanyaan pentingnya bukan semata-mata mengapa seorang musisi tertentu memenangkan atau tidak memenangkan penghargaan, melainkan siapa yang memiliki otoritas untuk menentukan standar legitimasi musik global.

Pertanyaan tersebut memperoleh relevansi baru setelah BTS, grup musik asal Korea Selatan yang telah menjadi salah satu aktor budaya paling berpengaruh di dunia, mengumumkan pada 29 Juli 2026 bahwa mereka tidak akan mengajukan karya untuk dipertimbangkan dalam Grammy Awards 2027. Ketujuh anggota BTS menyampaikan melalui akun media sosial masing-masing bahwa mereka berharap musik dapat didengar dan dicintai sebagai musik, bukan dibedakan berdasarkan wilayah atau bahasa.

Keputusan tersebut muncul tidak lama setelah Recording Academy memperkenalkan kategori baru, Best Asian Pop Music Performance, untuk Grammy ke-69 pada 2027. Kategori tersebut ditujukan untuk memberikan pengakuan terhadap musik pop yang berasal dari atau dikenal luas di pasar Asia, termasuk K-pop, J-pop, dan C-pop, dengan persyaratan adanya penggunaan bermakna dari satu atau lebih bahasa Asia.

Secara formal, pembentukan kategori tersebut dapat dipandang sebagai langkah menuju representasi yang lebih inklusif. Recording Academy sendiri menjelaskan bahwa musik Asia merupakan salah satu kekuatan paling signifikan dan berkelanjutan dalam industri musik global dan bahwa kategori tersebut dimaksudkan untuk mengakui pertumbuhan, skala, serta pengaruhnya. CEO Recording Academy Harvey Mason Jr. juga menegaskan bahwa keberadaan kategori Asian Pop tidak menutup kemungkinan seorang artis untuk tetap memperoleh nominasi dalam kategori umum Grammy.

Namun, keputusan BTS memperlihatkan adanya persoalan yang lebih mendasar. Jika sebuah institusi yang secara historis menjadi pusat legitimasi musik global harus menciptakan kategori khusus untuk mengakui musik dari kawasan tertentu, apakah hal tersebut selalu merupakan bentuk inklusi? Ataukah kategorisasi geografis justru dapat mereproduksi batas antara musik yang dianggap universal dan musik yang dianggap regional?

Artikel ini berargumen bahwa keputusan BTS untuk tidak mengajukan karya pada Grammy 2027 dapat dibaca sebagai bentuk counter-hegemonic resistance terhadap struktur legitimasi musik global yang masih sangat dipengaruhi oleh institusi dan standar budaya Barat. Dengan menggunakan perspektif Teori Kritis Hubungan Internasional, khususnya pemikiran Robert W. Cox dan konsep hegemoni Antonio Gramsci, artikel ini tidak bermaksud membuktikan bahwa Recording Academy secara eksplisit atau sadar melakukan diskriminasi rasial terhadap BTS. Sebaliknya, artikel ini mempertanyakan bagaimana suatu struktur institusional dapat menghasilkan hierarki budaya bahkan ketika kebijakan yang dihasilkannya secara formal dimaksudkan untuk menciptakan inklusivitas.

Dengan demikian, persoalan BTS dan Grammy bukan semata-mata persoalan mengenai sebuah piala. Persoalan yang lebih fundamental adalah siapa yang memiliki kekuasaan untuk memberikan legitimasi terhadap musik dalam tatanan budaya global.

Teori Kritis dan Politik Legitimasi Budaya

Teori Kritis dalam Hubungan Internasional berangkat dari keberatan terhadap pendekatan yang menerima struktur dunia sebagaimana adanya. Salah satu pemikir paling berpengaruh dalam tradisi ini, Robert W. Cox, membedakan antara problem-solving theory dan critical theory. Teori pemecahan masalah menerima struktur kekuasaan yang ada sebagai titik awal dan berusaha membuat struktur tersebut berfungsi lebih efektif. Sebaliknya, Teori Kritis mempertanyakan struktur tersebut: bagaimana ia terbentuk, siapa yang memperoleh keuntungan darinya, dan bagaimana kemungkinan perubahan terhadap struktur tersebut dapat dibayangkan.

Dalam formulasi Cox yang terkenal, “theory is always for someone and for some purpose.” Dengan kata lain, teori tidak pernah sepenuhnya terlepas dari konteks historis, sosial, dan politik tempat teori tersebut dibentuk. Cox menggunakan perspektif tersebut untuk mengungkap asumsi-asumsi yang sering kali dianggap netral dalam tatanan internasional, padahal sebenarnya dapat berfungsi untuk mempertahankan struktur kekuasaan tertentu.

Kerangka tersebut dapat diterapkan pada industri musik global. Musik sering dipandang sebagai produk budaya yang bersifat universal dan relatif terpisah dari politik. Namun, siapa yang menentukan genre, kategori, standar kualitas, mekanisme penghargaan, serta bentuk musik yang memperoleh legitimasi internasional merupakan persoalan yang memiliki dimensi kekuasaan.

Dalam perspektif Gramscian yang dikembangkan Cox, hegemoni tidak hanya berlangsung melalui paksaan. Hegemoni juga bekerja melalui pembentukan common sense: suatu keadaan ketika standar dan aturan yang dibentuk oleh struktur dominan dianggap normal, alamiah, dan universal.

Dalam konteks musik global, pertanyaannya kemudian berubah. Mengapa Grammy dipahami sebagai salah satu ukuran utama keberhasilan seorang musisi global? Mengapa kategori tertentu disebut sebagai kategori umum atau General Field, sementara musik berdasarkan kawasan geografis dapat ditempatkan dalam kategori yang lebih spesifik? Dan mengapa institusi penghargaan yang berbasis di Amerika Serikat memperoleh otoritas simbolik yang demikian besar untuk menentukan apa yang dianggap sebagai pencapaian musik global?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memungkinkan Grammy dianalisis bukan hanya sebagai acara hiburan, melainkan sebagai bagian dari struktur legitimasi budaya global.

Grammy Awards sebagai Institusi Legitimasi

Recording Academy memiliki kekuasaan yang berbeda dari kekuasaan politik konvensional. Ia tidak memiliki angkatan bersenjata, tidak membuat hukum internasional, dan tidak menguasai wilayah teritorial. Namun, institusi seperti Grammy memiliki apa yang dapat disebut sebagai kekuasaan simbolik, yakni kemampuan untuk menentukan siapa yang memperoleh pengakuan, visibilitas, dan status dalam suatu bidang tertentu.

Dalam industri musik global, nominasi dan kemenangan Grammy dapat menghasilkan modal simbolik yang besar. Penghargaan tersebut dapat digunakan oleh artis, label, media, dan industri hiburan sebagai indikator prestasi dan legitimasi internasional.

Persoalannya muncul ketika otoritas simbolik tersebut berada dalam struktur institusional tertentu. Recording Academy bukanlah institusi global yang dibentuk oleh seluruh komunitas musik dunia. Ia merupakan institusi yang lahir dan berkembang dalam konteks industri musik Amerika Serikat. Karena itu, standar dan kategorisasi yang digunakan oleh institusi tersebut tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari sejarah industri musik Barat.

Hal ini tidak berarti bahwa setiap keputusan Recording Academy otomatis bersifat diskriminatif. Namun, perspektif Teori Kritis mengajak kita untuk melihat bahwa institusi dapat menghasilkan konsekuensi struktural yang tidak selalu identik dengan niat formal pembentuknya. Inilah yang membuat kontroversi mengenai kategori Best Asian Pop Music Performance menjadi penting.

Recording Academy menjelaskan kategori baru tersebut sebagai pengakuan terhadap pertumbuhan dan pengaruh musik Asia. Secara formal, kategori tersebut merupakan bentuk representasi. Bahkan aturan Grammy menyatakan bahwa gaya musik menjadi faktor penentu kelayakan, bukan etnisitas atau kewarganegaraan artis. Tetapi dari perspektif kritis, pertanyaan yang lebih penting adalah: apa konsekuensi politik dari kategorisasi tersebut?

Best Asian Pop Music Performance: Inklusi atau Kategorisasi?

Kategori Best Asian Pop Music Performance merupakan perkembangan penting dalam sejarah Grammy. Kategori tersebut secara khusus mengakui musik pop yang berasal dari atau dikenal luas dalam pasar Asia, termasuk K-pop, J-pop, dan C-pop. Rekaman yang diajukan harus memiliki penggunaan bermakna dari satu atau lebih bahasa Asia; karya yang seluruhnya berbahasa Inggris tidak memenuhi syarat untuk kategori tersebut dan tetap dapat diajukan ke kategori lain yang sesuai.

Dari saru sisi, kebikajan tersebut dapat dilihat sebagai bentuk koreksi terhadap ketidakseimbangan representasi. Pertumbuhan K-pop, J-pop, C-pop, serta berbagai bentuk musik populer Asia telah mengubah peta industri musik global. Dengan demikian, menyediakan ruang penghargaan khusus dapat dipandang sebagai upaya institusional untuk mengejar perubahan realitas industri.

Recording Academy sendiri menggunakan logika tersebut. Harvey Mason Jr. menjelaskan bahwa kategori Asian Pop dibuat karena pengaruh musik Asia telah berkembang secara signifikan dalam proses Grammy dan bahwa institusi tersebut ingin memberikan pengakuan yang lebih sesuai dengan skala dan pengaruhnya.

Namun, dari sudut pandang Teori Kritis, sebuah kebijakan tidak cukup dinilai berdasarkan tujuan formalnya. Kebijakan juga harus dilihat berdasarkan struktur kekuasaan yang melatarbelakanginya. Di sinilah muncul paradoks. Sebuah kategori khusus dapat menjadi instrumen inklusi sekaligus berpotensi memperkuat kategorisasi.

Jika musik Asia memperoleh ruang karena telah dianggap cukup besar untuk memiliki kategori tersendiri, hal tersebut merupakan pengakuan terhadap perkembangan budaya Asia. Tetapi pada saat yang sama, kategorisasi berdasarkan kawasan dapat menimbulkan pertanyaan mengenai mengapa musik tertentu perlu diberi label geografis agar memperoleh pengakuan.

Dengan kata lain, persoalannya bukan apakah kategori Asian Pop “baik” atau “buruk”. Persoalannya adalah bagaimana geografi, bahasa, genre, dan identitas budaya digunakan dalam mekanisme produksi legitimasi musik global.

BTS: Soft Power yang Berhadapan dengan Institutional Power

Fenomena BTS menjadi sangat menarik jika ditempatkan dalam perspektif Hubungan Internasional. Selama lebih dari satu dekade, BTS telah menjadi salah satu representasi paling kuat dari keberhasilan Hallyu atau Korean Wave. Musik mereka tidak hanya menghasilkan popularitas komersial, tetapi juga memperluas daya tarik budaya Korea Selatan di berbagai wilayah dunia.

Dalam kerangka Joseph Nye, fenomena tersebut dapat dibaca sebagai bentuk soft power. Korea Selatan memperoleh kemampuan untuk memengaruhi persepsi dan preferensi publik global melalui daya tarik budaya, bukan melalui paksaan.

BTS bahkan telah berfungsi sebagai aktor diplomasi budaya. Kehadiran mereka dalam forum internasional, termasuk keterlibatan dalam kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa, memperlihatkan bahwa aktor budaya non-negara dapat memainkan peran dalam pembentukan citra dan daya tarik suatu negara.

Namun, di sinilah terdapat perbedaan penting antara soft power dan institutional power. BTS dapat memiliki jutaan penggemar. BTS dapat mendominasi berbagai tangga musik. BTS dapat menghasilkan dampak ekonomi dan budaya yang besar. BTS dapat menjadi instrumen diplomasi budaya Korea Selatan.

Tetapi semua itu tidak otomatis memberikan BTS kekuasaan untuk menentukan bagaimana institusi musik global mengategorikan mereka. Dengan kata lain Cultural influence does not necessarily produce institutional authority.

BTS dapat memiliki pengaruh besar terhadap publik global, tetapi tetap berhadapan dengan institusi yang memiliki otoritas untuk menentukan mekanisme pengakuan formal.

Di sinilah paradoks kekuasaan budaya kontemporer muncul. Kekuatan budaya dapat berpindah dari Barat ke Asia lebih cepat daripada kekuasaan institusional. Ketika Popularitas Tidak Otomatis Menjadi Legitimasi. BTS merupakan contoh ekstrem mengenai ketidakseimbangan antara popularitas global dan legitimasi institusional.

Ketika Popularitas Tidak Otomatis Menjadi Legitimasi

BTS merupakan contoh ekstrem mengenai ketidakseimbangan antara popularitas global dan legitimasi institusional. Grup tersebut telah memperoleh nominasi Grammy dalam beberapa kesempatan, tetapi belum memenangkan penghargaan tersebut. Pada 2026, misalnya, BTS tetap menjadi salah satu nama terbesar dalam musik global, sementara industri musik Asia secara keseluruhan semakin memperoleh pengakuan internasional.

Namun, perspektif kritis tidak seharusnya menyederhanakan fakta tersebut menjadi: “BTS tidak menang karena mereka orang Asia.” Hubungan sebab akibat seperti itu tidak dapat dibuktikan hanya dari hasil penghargaan. Sebaliknya, yang dapat dipertanyakan adalah mekanisme produksi legitimasi.

Apa yang terjadi ketika seorang artis memiliki popularitas global yang sangat besar tetapi masih harus memperoleh validasi dari institusi tertentu yang memiliki standar, kategori, dan mekanisme pengakuannya sendiri? Pertanyaan ini membawa kita pada konsep glass ceiling.

Glass ceiling dalam konteks ini tidak harus dipahami sebagai kebijakan eksplisit yang menyatakan bahwa artis Asia tidak boleh menang. Ia dapat dipahami sebagai hambatan struktural yang tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi dapat memengaruhi posisi aktor tertentu dalam memperoleh legitimasi.

Dinding tersebut bersifat "kaca” karena secara formal pintu kompetisi terbuka. Tidak ada aturan yang secara eksplisit mengatakan bahwa BTS tidak boleh memperoleh Album of the Year atau Record of the Year karena mereka berasal dari Korea Selatan.

Namun, keterbukaan formal tidak otomatis menghapus persoalan mengenai bagaimana musik dikategorikan, bagaimana selera institusional dibentuk, dan bagaimana standar universal dikonstruksi.

Keputusan BTS sebagai Counter-Hegemony

Pada 29 Juli 2026, BTS menyatakan tidak akan mengajukan karya mereka untuk Grammy 2027. Yang menarik adalah cara mereka membingkai keputusan tersebut. Mereka tidak mengeluarkan pernyataan panjang yang secara eksplisit menuduh Recording Academy melakukan diskriminasi rasial. Mereka justru menggunakan bahasa yang lebih universal, musik seharusnya didengar dan dicintai sebagai musik, bukan dibedakan berdasarkan wilayah atau bahasa.

Secara politis, kesederhanaan pernyataan tersebut justru membuatnya signifikan. BTS tidak mengatakan bahwa mereka tidak mampu memenangkan Grammy. Sebaliknya, tindakan mereka dapat dibaca sebagai pertanyaan terhadap nilai validasi Grammy itu sendiri. Jika selama ini Grammy diposisikan sebagai salah satu puncak legitimasi musik global, maka keputusan untuk tidak berpartisipasi dalam proses tersebut dapat mengurangi posisi Grammy sebagai satu-satunya pusat legitimasi.

Dalam perspektif Gramscian, tindakan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk counter-hegemony. Counter-hegemony tidak selalu berarti menghancurkan institusi dominan secara langsung. Ia juga dapat berlangsung melalui penolakan terhadap common sense yang membuat institusi tersebut tampak sebagai satu-satunya sumber legitimasi.

Dengan tidak mengajukan karya mereka, BTS secara simbolik menyampaikan bahwa popularitas, kualitas, dan makna musik tidak harus ditentukan oleh satu institusi penghargaan Barat. Tindakan ini menjadi semakin penting karena BTS tidak kehilangan audiensnya ketika mereka menolak Grammy. Justru sebaliknya, mereka memiliki ekosistem budaya dan ekonomi yang memungkinkan mereka tetap memperoleh legitimasi melalui streaming, platform digital, tangga musik internasional, konser, komunitas penggemar, media sosial, industri hiburan Korea, serta jaringan budaya global yang tidak sepenuhnya bergantung pada institusi penghargaan Amerika. Dengan demikian, kekuasaan budaya pada abad ke-21 tidak lagi sepenuhnya bergerak dari pusat menuju perifer.

Sejarah Grammy sendiri juga menunjukkan bahwa penghargaan tersebut bukan institusi yang sepenuhnya bebas dari kritik. Sejumlah artis besar pernah mengkritik atau menolak Grammy karena persoalan transparansi, proses nominasi, dan representasi. The Weeknd, misalnya, secara terbuka mengecam proses Grammy setelah albumnya After Hours dan lagu Blinding Lighs tidak memperoleh nominasi pada 2021. Keputusan BTS dapat ditempatkan dalam sejarah yang lebih luas mengenai kontestasi terhadap otoritas institusi musik.

Hegemoni Tidak Selalu Berarti Konspirasi

Penting untuk menegaskan bahwa membaca fenomena Grammy melalui Teori Kritis tidak berarti harus menyimpulkan bahwa seluruh pengurus Recording Academy secara sadar melakukan konspirasi untuk mempertahankan dominasi Barat. Justru di sinilah kekuatan pendekatan Cox. Hegemoni dapat berlangsung melalui institusi dan gagasan yang tampak normal, bukan semata-mata melalui niat diskriminatif individu.

Misalnya, jika sebuah institusi menentukan bahwa musik berdasarkan wilayah geografis membutuhkan kategori tersendiri, keputusan tersebut dapat dibuat dengan tujuan meningkatkan representasi. Namun, pada saat yang sama, keputusan tersebut tetap menghasilkan klasifikasi tertentu tentang apa yang disebut “Asian Pop”. Dengan kata lain, niat dan struktur tidak selalu identik.

Recording Academy dapat secara tulus ingin memperluas representasi Asia, tetapi struktur kategorisasi tersebut tetap dapat dianalisis secara kritis karena memperlihatkan bahwa institusi memiliki kekuasaan untuk menentukan bagaimana musik Asia harus didefinisikan. Inilah perbedaan antara pendekatan normatif sederhana dan Teori Kritis.

Pertanyaannya bukan apakah Recording Academy berniat baik? Melainkan struktur kekuasaan seperti apa yang memungkinkan Recording Academy memiliki otoritas untuk mendefinisikan dan mengklasifikasikan musik global.

Ketika Validasi Barat Bukan Lagi Menjadi Tujuan

Grammy masih memiliki pengaruh besar dalam industri musik global, sehingga terlalu dini jika keputusan BTS dianggap sebagai tanda runtuhnya hegemoni penghargaan tersebut. Namun, langkah BTS menunjukkan bahwa monopoli Grammy sebagai sumber legitimasi musik global mulai dipertanyakan. Keputusan tersebut tidak tepat jika langsung disebut sebagai bukti rasisme terhadap musisi Asia, karena BTS sendiri tidak secara eksplisit menyatakan hal demikian.

Meski begitu, kehadiran kategori Best Asian Pop Music Performance sekaligus membuka pertanyaan tentang bagaimana musik non-Barat ditempatkan dalam industri musik global, apakah kategori tersebut merupakan bentuk pengakuan, atau justru mempertegas batas antara musik yang dianggap universal dan musik yang dilabeli berdasarkan asal geografisnya? Dengan soft power yang besar dan ekosistem penggemar yang kuat, BTS menunjukkan bahwa legitimasi budaya tidak harus sepenuhnya bergantung pada institusi Barat.

Keputusan untuk tidak mengajukan karya ke Grammy 2027 dapat dibaca sebagai bentuk counter-hegemony bukan karena BTS tidak mampu memasuki sistem, melainkan karena mereka mulai mempertanyakan mengapa sistem tersebut harus menjadi ukuran utama keberhasilan mereka.

Pada akhirnya, persoalannya bukan lagi sekadar apakah BTS akan memenangkan Grammy, tetapi mengapa sebuah institusi penghargaan yang berbasis di satu negara memiliki kewenangan sedemikian besar untuk menentukan siapa yang layak disebut sebagai musisi global? Dinding kaca itu mungkin belum runtuh, tetapi semakin banyak aktor budaya di luar pusat kekuasaan yang mulai menyadari bahwa mereka tidak harus menunggu izin untuk melewatinya.

Referensi Kunci

Cox, Robert W. (1981). “Social Forces, States and World Orders: Beyond International Relations Theory.” Millennium: Journal of International Studies, 10(2), 126–155.

Cox, Robert W. & Timothy J. Sinclair (eds.). (1996). Approaches to World Order. Cambridge: Cambridge University Press.

Gramsci, Antonio. Selections from the Prison Notebooks. New York: International Publishers.

Nye, Joseph S. (2004). Soft Power: The Means to Success in World Politics. New York: PublicAffairs.

Said, Edward W. (1978). Orientalism. New York: Pantheon Books.

Recording Academy. (2026). “Five New Categories And Rule Updates Take Effect For 2027 Grammys.”

Recording Academy. (2026). “The Grammy Award Update Center.”

Recording Academy. (2026). “Grammys CEO Harvey Mason Jr. Talks New Grammy Categories Debuting At The 2027 Grammys.”

Yonhap News Agency. (2026). “BTS says it will not submit music for next year's Grammys.” 29 July 2026.