Konten dari Pengguna

Mengembalikan Marwah Ondel-Ondel: Ruang Tampil Bagi Seniman Tradisi di Ibu Kota

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sari Rahayu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: Pexels.com / Jeffry Surianto
zoom-in-whitePerbesar
sumber: Pexels.com / Jeffry Surianto

Pernahkah kalian dihampiri dua sosok raksasa, wajahnya berwarna merah dan putih, bergerak kaku sambil diiringi alunan musik yang nyaring? Itu adalah ondel-ondel. Bagi warga Betawi, ondel-ondel adalah salah satu simbol budaya, penolak bala, dan representasi leluhur. Namun, saat ini, di jalanan ibu kota bahkan di berbagai daerah lain, ia telah bertransformasi-dari penjaga marwah budaya menjadi komoditas budaya yang sering dipandang sebagai alat mengamen, bukan lagi warisan leluhur yang dijunjung tinggi. Fenomena ini bukan sekedar persoalan ekonomi semata, tetapi juga persoalan pemaknaan budaya yang kian memudar di tengah masyarakat.

Filosofi di balik wajah merah yang artinya keberanian dan putih: kesucian serta ukurannya yang besar adalah simbol perlindungan, kehormatan dan kejayaan budaya. Ia seharusnya ditampilkan dalam acara adat, penyambutan tamu penting, perayaan seperti pernikahan dan khitanan, hingga festival budaya, bukan turun ke jalan untuk meminta sisa uang receh.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mengambil langkah, salah satunya melalui larangan mengamen menggunakan ondel-ondel di ruang publik. Namun, pada kenyataannya masih banyak pihak yang memanfaatkan ondel-ondel tanpa memperdulikan makna dan pelestariannya.

Larangan akan lebih tepat apabila dibarengi dengan alternatif yang mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat. Penyediaan pilihan baru dapat menjadi langkah positif untuk menjaga keseimbangan antara penataan budaya dan kesejahteraan. Lalu, strategi seperti apa yang dapat dirancang agar penataan budaya tetap selaras dengan keberlangsungan ekonomi masyarakat?

Langkah pertama yang bisa dijalankan adalah menyediakan ruang publik yang strategis, seperti taman kota, alun-alun, kawasan wisata, atau titik kegiatan budaya tertentu, sebagai lokasi resmi penampilan ondel-ondel pada waktu yang telah diatur. Melalui cara ini, para pemain tampil secara profesional dengan kotak kontribusi atau tips yang ditempatkan secara pantas, sehingga kegiatan mereka dihargai sebagai pertunjukan seni, bukan bentuk mengemis. Seperti yang diberitakan Detik.com (03 Oktober 2025) keberadaan sepasang ondel-ondel lengkap dengan musik tradisionalnya menari untuk menyambut kedatangan Mariah Carey. Hal ini menjadi contoh bagaimana ondel-ondel dapat tampil secara profesional ketika diberi ruang dan panggung yang jelas, bukan sekedar dianggap sebagai pengamen jalanan.

Selain itu pemerintah bisa melakukan pendataan ulang dan memberikan “kartu Seniman Betawi” kepada pelaku budaya asli sebagai bentuk afirmasi. Kartu ini bisa digunakan untuk mendapatkan berbagai bantuan, mulai dari kesehatan, pendidikan hingga kesempatan kerja.

Tak cukup sampai di situ, wajibkan setiap event pariwisata atau hotel di Jakarta untuk mengundang setidaknya satu penampilan seni tradisional setiap bulannya. Langkah ini bisa menciptakan pasar kerja yang stabil bagi seniman.

Namun, aturan saja tidak cukup untuk membangun lingkungan seni yang sehat. Seniman juga harus mengambil inisiatif dengan memperluas jangkauan penontonnya sendiri. Caranya bisa memanfaatkan media digital, seperti membuat konten kreatif di TikTok, Instagram, atau Youtube-mulai dari dokumentasi pembuatan kostum, sesi latihan, hingga potongan pertunjukan yang dikemas dengan cerita. Pemerintah Daerah dapat mendukung melalui penyediaan pelatihan pembuatan konten dan strategi promosi. Dengan begitu, kesenian tradisional tak hanya tampil lebih relevan bagi generasi muda, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru lewat dunia digital.

Langkah-langkah itu semua saling melengkapi, mulai dari pembuatan ruang dan pasar kerja yang layak, pengakuan identitas seniman, sampai inovasi promosi secara digital. Semua ini bertujuan untuk meningkatkan kedudukan ondel-ondel dan kesenian betawi dari posisi yang dikesampingkan menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan budaya masyarakat betawi.

Fenomena ondel-ondel mengamen adalah peringatan penting buat kita semua. Ini bukan hanya urusan Dinas Sosial atau petugas di lapangan. Ini adalah bukti bahwa kita, sebagai warga kota yang bangga dengan budaya sendiri, belum maksimal dalam memberi dukungan. Kalau kita mau ondel-ondel kembali dihargai, kita harus berhenti melihat mereka sebagai pengemis. Kita harus segera minta pemerintah menyediakan panggung yang layak, bukan malah menyuruh mereka minggir dari jalanan. Mari kita pastikan simbol kebanggaan jakarta ini kembali punya tempat terhormat, bukan sekedar boneka raksasa yang membuat kita prihatin di muka umum.

sumber:

Detik.com. (03 Oktober 2025). Saat Ondel-ondel Sambut Mariah Carey di Jakarta

Kumparan.com (10 September 2024). Asal-usul Ondel-Ondel, Fungsi dan Makna Filosofisnya

https://www.detik.com/pop/music/d-8143118/saat-ondel-ondel-sambut-mariah-carey-di-jakarta

https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/asal-usul-ondel-ondel-fungsi-dan-makna-filosofisnya-23UeUZrFZMZ/full

Ditulis oleh: Azkia Mufidah, Sari Rahayu, Shofy Yohana, Suherni-Mahasiswa Universitas Pamulang