SAHABAT SESUNGGUHNYA

Jurnalistik, PNJ
Tulisan dari Sausan Sudarjat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kehidupan ini banyak orang yang bisa ku jadikan teman, tapi tidak semua teman bisa memahami dan menyayangiku dengan tulus. Sampai akhirnya ku temukan orang yang memahami dan memiliki ikatan yang kuat denganku.
Sahabat, itulah sebutannya. Seseorang yang sangat ku percaya di antara teman-teman lainnya. Orang yang selalu ada saat aku membutuhkannya dalam keadaan suka maupun duka. Tempatku mencurahkan segala rasa sedih, marah, kesal, senang, hingga saat aku merasa kebingungan. Seringkali aku dengannya berdiskusi, curhat, juga berbagi pengalaman. Bersamanya aku menemukan rasa tenang dan semangat baru.
Dia adalah sahabatku, Bintang namanya. Gadis cantik, berkulit kuning langsat, bermata sipit, bibir tipis, dan memiliki tahi lalat dipipi. Aku bertemu gadis periang ini saat masa orientasi siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA). Aku dan Bintang berada di ruangan yang sama, tetapi bangku yang berbeda. Tidak disangka, ternyata orang tua kami saling mengenal. Aku dan Bintang dikenalkan oleh orang tua kami, “Ini Bintang, tolong temenin ya,” ucap Ibunya kepadaku sambil aku mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Bintang. Itulah bagaimana awal aku dengannya saling mengenal.
Selama masa orientasi di sekolah, kami hanya saling menyapa dan memberikan senyum. Dan saat pembagian kelas, Bintang menjadi teman kelasku. Saat kelas 10, Bintang duduk tepat di bangku depanku. Jarak yang dekat membuat kami sering mengobrol bersama. Semakin lama aku mengenalnya, ternyata ia adalah seorang gadis yang pintar, pandai berbicara di depan kelas, dan dia selalu mendapatkan peringkat 3 besar di kelas. Semangatnya belajar membuatku termotivasi dan ingin terus berteman dengannya.
Semenjak kelas 11 hingga kelas 12, aku dan Bintang selalu duduk bersebelahan dan ke mana-mana pun kami selalu bersama. Aura positif yang ia pancarkan memberikan pengaruh besar kepadaku. Kami belajar, mengerjakan tugas, berbagi bekal, hingga beradu argumen bersama. Semua orang di sekolah tahu kalau kami tidak bisa dipisahkan. Saat kami sedang kesal satu sama lain kata kasar dan menyindir tetap muncul dari mulut kami. Tapi semua itu tidak membuat kami berpisah. Justru hal tersebut menjadi candaan bagi kami di kemudian hari.
Tak terasa tahun terakhir kami berada di bangku Sekolah Menengah Atas. Ia selalu menjadi orang terdepan yang memberiku semangat untuk belajar. Tidak hanya memberikanku semangat, dengan sabar ia juga mengajariku materi pelajaran yang kurang aku mengerti. Setelah ujian sekolah selesai, ia sangat mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Jurusan dan perguruan tinggi selalu menjadi bahan obrolan kami. Tak lupa doa selalu kami ucapkan agar apa yang kami inginkan tercapai.
Kabar gembira kudengar dari sahabatku. Ia diterima salah satu perguruan negeri di Semarang. Aku merasa sangat senang mendengarnya, tapi di sisi lain aku juga merasa sedih karena aku belum seberuntung sahabatku ini. Melalui pesan suara ia terus memberikan kata-kata positif dan motivasi supaya aku tidak sedih dan tetap semangat.
Sudah tak terhitung berapa panggilan masuk telepon, dan pesan yang ia terima hanya untuk mendengarkan keluh kesahku. Dengan sabar dan penuh pengertian, dia memberikan solusi untuk masalahku. Diselingi canda dan tawa dia bisa membuatku terhibur dan semangat kembali.
Walaupun kami sudah dipisahkan oleh jarak dan kesibukan masing-masing, pesan singkat dan dering telepon sering kuterima darinya. Entah untuk menanyakan kabar atau menceritakan bagaimana hari-hari yang ia jalani dan rasakan.
Bintang sahabatku, terima kasih sudah memberikan arti apa itu persahabatan. Berbagi kasih sayang dalam suka dan duka. Hadirmu memberikan banyak arti bagiku. Hanya rasa sayang yang tulus kuberikan padamu dengan sepenuh hati. Aku harap persahabatan ini bisa kita jaga hingga tua nanti. Tanpa henti kudoakan berharap kebahagian selalu menyertaimu sahabatku.
Begitulah persahabatan, mungkin persahabatan yang kumiliki bukanlah sebuah persahabatan yang sempurna. Sahabat yang sesungguhnya adalah ia yang bisa memberikan pelajaran hidup yang bisa dipetik. Dan tidak sedikit pula orang bisa terjerumus ke lubang kemaksiatan dan kesesatan karena seorang teman. Maka, pilihlah lingkungan yang tepat agar mendapatkan teman yang baik.
(Sausan Sudarjat/Politeknik Negeri Jakarta).
