Konten dari Pengguna

3 Langkah Terapkan "Strict No Contact Policy" Biar Kamu Gak Gampang Balikan

Bima Pakusadewa

Bima Pakusadewa

Sedang menempuh studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Konsentrasi Konseling Islam) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bima Pakusadewa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Gemini AI

Pernahkah Anda mendengar pepatah Arab kuno yang berbunyi: "Jangan minum air setelah makan ikan, karena ada kemungkinan ikan itu hidup kembali"? Secara literal, ini mungkin terdengar seperti lelucon atau mitos kesehatan lama.

Namun, jika ditarik ke dalam konteks hubungan interpersonal, kalimat ini menyimpan makna filosofis yang sangat dalam. Terutama bagi kita yang sedang berjuang melakukan cut off atau memutus hubungan dengan mantan, teman penghianat, atau orang-orang yang selama ini menguras energi kita.

Makna 'Ikan' dan 'Air' dalam Hubungan

Dalam metafora ini, ikan adalah masalah, trauma, atau sosok yang sebenarnya sudah kita "selesaikan" atau kita putuskan untuk ditinggalkan. Sementara air adalah celah komunikasi, rasa tidak tega, atau momen nostalgia yang kita berikan setelah perpisahan.

Banyak dari kita yang sudah berhasil "memakan" atau mengakhiri hubungan tersebut, tapi kemudian kita memberikan "air" berupa:

• Mengecek media sosial mereka secara berkala.

• Merespons pesan singkat karena merasa kasihan.

• Membiarkan mereka masuk kembali ke lingkaran hidup dengan alasan "menjaga silaturahmi" padahal diri sendiri belum pulih.

Inilah yang membuat "ikan" tersebut hidup kembali. Trauma yang harusnya sudah mati, mendadak berenang lagi di pikiran dan menghisap energi kita sampai habis.

3 Langkah Tegas Berhenti Memberi 'Air' pada Masa Lalu

Untuk memastikan "ikan" itu tidak hidup kembali dan mengganggu kesehatan mental Anda, berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:

  1. Terapkan Strict No Contact Policy Cut off. Tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Menghapus nomor, memblokir akses media sosial, dan menghindari tempat yang memicu memori adalah langkah preventif agar Anda tidak punya celah untuk memberikan "air" pada masa lalu.

  2. Pahami Bahwa Kasihan Bukanlah Cinta. Banyak orang terjebak karena rasa tidak tega. Ingatlah bahwa Anda bukan "pusat rehabilitasi" bagi orang-orang yang tidak mau berubah. Mempertahankan mereka hanya karena rasa kasihan adalah bentuk pengkhianatan terhadap diri sendiri.

  3. Fokus pada Katarsis Diri. Alih-alih memikirkan bagaimana keadaan mereka setelah Anda tinggalkan, fokuslah pada penyaluran emosi Anda sendiri. Temukan ruang ketiga (seperti hobi atau komunitas baru) untuk melepaskan beban emosional yang selama ini terpendam.

Sumber : Gemini AI

Mengapa Kita Sering Mengalami Relapse?

Dalam studi psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai Trauma Bonding. Kita merasa kasihan atau tidak tega meninggalkan orang yang menyakiti kita karena ada keterikatan emosional yang intens.

Kita merasa seolah-olah tanpa kita, mereka akan hancur. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya: kitalah yang tersedot habis (emotional drainage) sementara mereka tetap hidup dari energi yang kita berikan.

Memutus hubungan dengan orang yang menyakiti memang tidak mudah. Namun, memberikan kesempatan kedua pada orang yang terus-menerus mengkhianati kepercayaan Anda sama saja dengan memberi air pada ikan yang seharusnya sudah Anda lepaskan.

Pilihlah untuk menyelamatkan diri sendiri sebelum Anda benar-benar tenggelam dalam kolam penderitaan yang sama.