Konten dari Pengguna

Sebelum Ada Pagar Tinggi, Kampung Pernah Mengajarkan Arti Bertetangga

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Amira Virginia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Gemini AI

Suatu sore saya mengunjungi rumah seorang teman yang baru saja pindah ke sebuah kompleks perumahan. Lingkungannya bersih, jalannya lebar, taman tertata rapi, dan setiap rumah memiliki pagar yang cukup tinggi. Di pintu masuk, petugas keamanan berjaga, sementara portal hanya terbuka ketika penghuni atau tamu datang.

Namun, ada satu hal yang justru menarik perhatian saya.

Selama hampir satu jam kami duduk di teras rumah, beberapa mobil keluar masuk kompleks. Ada kurir yang mengantar paket, warga yang pulang bekerja, hingga anak muda yang berlari kecil mengelilingi lingkungan. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang berhenti untuk menyapa. Bahkan teman saya bercerita bahwa ia belum mengenal nama tetangga yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter.

Padahal, mereka sudah tinggal berdampingan hampir setahun.

Awalnya saya mengira itu hal yang biasa. Mungkin semua orang sedang sibuk. Mungkin mereka memang lebih menghargai privasi.

Namun, semakin lama saya memikirkannya, penjelasan itu terasa belum cukup.

Yang menarik bukanlah pagar rumahnya.

Yang menarik adalah cara kita membangun hubungan dengan orang di sekitar.

Ketika rumah semakin aman, hubungan sosial justru semakin jauh

Saya kemudian membayangkan suasana yang berbeda.

Dulu, di banyak kampung, pagar rumah tidak selalu tinggi. Bahkan ada rumah yang halaman depannya terbuka begitu saja. Anak-anak bebas keluar masuk rumah tetangga. Jika seseorang kehabisan gula, ia cukup mengetuk pintu sebelah. Ketika ada hajatan, warga datang membantu tanpa menunggu undangan. Saat ada kabar duka, orang-orang berkumpul dengan sendirinya.

Apakah kehidupan saat itu lebih sederhana?

Mungkin.

Namun saya yakin ada satu hal yang lebih penting daripada kesederhanaannya.

Kampung menyediakan ruang bagi orang untuk saling mengenal.

Di sinilah saya mulai menyadari bahwa pagar sebenarnya bukan sekadar pembatas rumah. Ia menjadi simbol dari perubahan cara masyarakat berinteraksi.

Semakin modern lingkungan tempat tinggal kita, semakin sedikit ruang yang tersedia untuk bertemu secara alami.

Ketika perubahan sosial terjadi di depan rumah kita

Fenomena ini sebenarnya sangat dekat dengan kajian Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Dalam IPS, perubahan sosial tidak selalu ditandai oleh peristiwa besar seperti revolusi atau pergantian pemerintahan. Perubahan juga dapat muncul melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan bergeser dari kehidupan sehari-hari.

Dulu, anak-anak belajar bekerja sama saat bermain di gang. Mereka belajar menyelesaikan konflik tanpa disadari. Mereka mengenal perbedaan usia, latar belakang keluarga, hingga kebiasaan setiap tetangga.

Kini, banyak pengalaman sosial itu perlahan berkurang.

Anak-anak lebih banyak bermain di dalam rumah. Orang dewasa lebih sering berinteraksi melalui grup WhatsApp daripada berbincang di teras. Bahkan, tidak sedikit warga yang tinggal bertahun-tahun tanpa benar-benar mengenal siapa yang tinggal di sebelah rumahnya.

Yang berubah ternyata bukan hanya lingkungan tempat tinggal.

Yang berubah adalah cara masyarakat belajar hidup bersama.

Ketika Pendidikan IPS tidak cukup hanya mengajarkan teori

Ada satu hal yang menurut saya lebih menarik lagi.

Sering kali siswa belajar tentang interaksi sosial, perubahan sosial, atau gotong royong melalui buku pelajaran. Mereka menghafal definisi, mengerjakan soal, lalu berpindah ke materi berikutnya.

Padahal, contoh nyata dari semua konsep itu sebenarnya ada di lingkungan tempat mereka tinggal.

Mengapa anak-anak tidak lagi bermain di gang?

Mengapa kerja bakti semakin jarang dilakukan?

Mengapa banyak orang mengenal nama pengguna media sosial tetangganya, tetapi tidak mengenal nama orangnya?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti inilah yang seharusnya menjadi bagian dari pembelajaran IPS.

Sebab, IPS bukan hanya mengajarkan bagaimana masyarakat bekerja.

IPS juga mengajarkan bagaimana masyarakat berubah.

Pelajaran kecil dari sebuah pagar

Bagi saya, pagar rumah bukan sekadar bagian dari bangunan. Ia adalah gambaran kecil tentang perubahan kehidupan sosial masyarakat.

Kita sering menganggap kemajuan hanya diukur dari rumah yang semakin nyaman, lingkungan yang semakin tertata, atau teknologi yang semakin canggih. Padahal, kemajuan juga seharusnya diukur dari kemampuan masyarakat menjaga hubungan antarsesama.

Di sinilah Pendidikan IPS menjadi sangat penting. Mata pelajaran ini tidak hanya membantu siswa memahami konsep-konsep sosial, tetapi juga mengajak mereka membaca perubahan yang sedang terjadi di depan mata.

Mungkin itulah sebabnya kampung terasa begitu berharga untuk dikenang.

Bukan karena rumahnya lebih sederhana.

Bukan karena jalannya lebih sempit.

Melainkan karena di sanalah banyak orang pertama kali belajar menyapa, berbagi, bekerja sama, dan merasa menjadi bagian dari sebuah masyarakat.

Dan mungkin, di tengah semakin tingginya pagar yang mengelilingi rumah-rumah kita, pelajaran tentang menjadi tetangga justru menjadi pelajaran sosial yang paling perlu dihidupkan kembali melalui Pendidikan IPS.