Konten dari Pengguna

Seberapa Istimewa Domba? Membaca "The Sheep Detectives" dari Perspektif Sains

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ignatius Fridolin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Melihat domba dari kacamata sains dalam narasi film The Sheep Detectives

Sejak film The Sheep Detectives resmi tayang di bioskop pada 8 Mei 2026, film tersebut mendapatkan apresiasi dan rating positif dan mengesankan di berbagai komunitas film. Film besutan sutradara Kyle Balda dan dibintangi Hugh Jackman ini disebut-sebut sebagai salah satu film komedi keluarga terbaik di dekade terakhir. Tidak tanggung-tanggung, beberapa situs kawakan ulasan film seperti IMDb dan Rotten Tomatoes menempatkan film ini dengan rating tinggi. Terlepas dari kesuksesannya memikat penonton, film berdurasi hampir 2 jam ini, menampilkan fakta menarik tentang domba dari perspektif sains serentak dengan kejeniusan bagaimana fakta tersebut dikemas dalam narasi cerita.

Visualisasi film film The Sheep Detectives (Foto: penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Visualisasi film film The Sheep Detectives (Foto: penulis)

Kemampuan mengingat yang mumpuni

Dalam beberapa scene film, Lily, sang domba betina yang cerdas kerap mengajak kawanan domba lain untuk melupakan setiap momen memilukan yang terjadi, seperti kematian gembala mereka, George (Hugh Jackman) atau pertengkaran George dan Caleb (Tosin Cole), seoerang gembala muda yang berencana membeli kawanan domba George. Di scene lain pun, para kawanan domba tersebut dengan cepat mengenali wajah sejumlah karakter dan mengidentifikasi mereka masing-masing sesusai aktivitas mereka. Beberapa scene tersebut tentu didramatisasi demi kepentingan hiburan tetapi tidak menapik fakta bahwa domba adalah kawanan yang mempunyai kemampuan memori yang mumpuni, jauh dari anggapan publik bahwa domba adalah hewan polos.

Penelitian Keith M. Kendrick dan beberapa rekan peneliti dari Laboratory of Cognitive and Developmental Neuroscience, Babraham Institute, mengemukakan bahwa domba (Ovis aries) memiliki kemampuan mengingat yang luar biasa selayaknya mamalia. Kendrick et al. pada 2001, melakukan observasi dan uji terhadap 20 ekor domba dengan menunjukan foto domba lain. Riset tersebut menunjukan bahwa domba mampu merekognisi 50 wajah domba lain yang berbeda serta terikat secara emosional terhadap manusia meskipun telah berpisah dalam waktu yang cukup lama. Penelitian tersebut juga mengindikasikan bahwa domba, layaknya mamalia jenius seperti manusia, memiliki aktivitas sel di korteks temporal dan korteks prefrontal yang secara selektif menyeleksi wajah. Meskipun tidak serta merta membuktikan kemampuan memori mereka serupa manusia, paling tidak fakta ini menunjukan bahwa domba mampu mempelajari dan mempertahankan representasi visual yang memungkinkan mereka membedakan individu.

Emosional dan sensitif

The Sheep Detectives mengemas sifat domba yang emosional dan sensitif dengan sangat apik dalam narasinya. Kesedihan sepeninggal sang gembala satu-satunya, George dan kekhawatiran menyangkut nasib kawanan domba, membuat Lily dan sahabat dombanya, Mopple, bertekad mengungkap pelaku di balik kematian George. Meskipun pada awalnya berniat melupakan peristiwa kematian George yang menurut Lily sangat menyakitkan, Lily mengesampingkan kehendaknya demi memori bahagia dan kenangan indah kala George hidup dan merawatnya. Keterikatan secara emosional itulah yang menguatkan Lily serta kawanan lain untuk terus bekerja sama membongkar pelaku pembunuhan George.

Penelitian seputar kecerdasan domba tidak gamblang membenarkan kemampuan domba dalam memecahkan hal-hal kompleks dan rumit seperti yang dilakukan Lily dan Mopple dalam The Sheep Detectives. Namun, fakta bahwa domba adalah hewan yang sensitif dan emosional telah banyak dibuktikan dalam banyak kajian ilmiah. Selain oleh Keith M. Kendrick dan kawan-kawan, riset tentang kemampuan emosional dan sensitifitas domba telah pun ditelaah oleh Paulo V. Steagall dan rekan-rekannya pada 2021 dalam artikel jurnal Animals, berjudul Pain management in Farm animals: Focus on cattle, Ssheep, and pigs. Dalam riset tersebut, peneliti menemukan fakta bahwa domba memiliki kemampuan emosional dan sensitivitas terhadap rasa sakit yang nyata. Mereka mampu mengalami affective state (keadaan emosional) negatif seperti kecemasan dan depresi. Domba pun adalah mamalia sentien yang memiliki kesadaran dan kemampuan untuk merasakan penderitaan.

Visualisasi kemampuan kognitif domba (Foto: Penulis)

Indra sensorik yang mengesankan

Domba ternyata memiliki kemampuan sensorik yang mengesankan. Dalam film, Lily dan kawananya gemar memakan bunga randa tapak atau dandelion yang tumbuh liar di sekitar karavan George yang menurut mereka mampu membuat bulu mereka indah dan lebat. Adagen sederhana tersebut ternyata memiliki kaitan dengan perilaku makan domba di dunia nyata. Domba bukanlah herbivora yang mengonsumsi tumbuhan secara acak. Mereka menggunakan berbagai informasi sensorik untuk mengevaluasi makanan, termasuk penglihatan, penciuman, dan pengecapan.

Riset terkini memang tidak lugas menunjukan adanya hubungan antara dandelion dan lebatnya bulu pada domba, tetapi justru menunjukan bahwa indra perasa memiliki peranan penting bagi domba dalam menentukan preferensi terhadap tanaman. Pada 2010, peneliti Angélique Favreau dan rekan penelitinya, menerbitkan riset ilmiah, Do sheep use umami dan bitter as cues of post-ingestive consequences when selecting their diet?. Favreau et al. melakukan 4 eksperimen berbeda pada domba betina Romane di rentang usia 5-7 bulan. Mereka menyimpulkan bahwa domba tampaknya menggunakan rasa umami dan pahit sebagai isyarat untuk mengantisipasi konsekuensi pasca konsumsi. Misalnya, rasa tertentu diasosiasikan dengan kandungan nutrisi atau senyawa tertentu. Kemampuan ini membantu mereka untuk mencari pakan yang lebih efisien dan aman di lingkungan sekitar.

Selain perasa, bau tanaman pun menentukan preferensi makan domba. Penelitian relevan juga dilakukan oleh H. Narjisse dan peneliti lain dalam jurnal Small Ruminant Research, berjudul Influence of odor and taste of monoterpenoids on food selection by anosmic and intact sheep and goats pada 1997. Mereka menguji apakah bau dan rasa tumbuhan bersenyawa monoterpenoid memengaruhi preferensi makan pada domba dan kambing. Hasilnya, domba dan kambing tampaknya mampu mendeteksi dan menolak tumbuhan bersenyawa tersebut. Semua sistem sensorik tersebut membantu domba dalam menentukan tanaman mana yang lebih layak dikonsumsi dan mana yang sebaiknya dihindari.

Adegan Lily dan kawan-kawannya memakan dandelion dapat dilihat bukan hanya sebagai selipan domba mencari makanan, tetapi sebagai perilaku menyeleksi makanan. Meskipun belum ada cukup bukti bahwa domba secara khusus menyukai dandelion karena karakteristik atau aromanya, tetapi secara gamblang mengisyaratkan bahwa pemilihan makanan domba melibatkan sistem sensorik yang kompleks.

Visualisasi kemampuan domba ketika menyeleksi makanan (Foto: Penulis)

Kemampuan komunikasi spesial

Salah satu fakta menarik lain tentang domba adalah kemampuan komunikasinya yang unik terlebih di antara induk (ewe) dan anaknya (lamb). Fakta ini ditemukan C.M Dwyer dan rekan-rekan penelitinya pada 1998, dan diterbitkan sebagai artikel jurnal berjudul, Vocalisations between mother and young in sheep: Effects of breed and maternal experience, dalam Jurnal Applied Animal Behaviour Science. Faktanya, domba memiliki suara frekuensi rendah (low-pitched bleat) yang hampir hanya dikeluarkan induk kepada anaknya yang baru lahir. Suara ini berfungsi sebagai sinyal care-giver untuk memperkuat ikatan induk-anak serta memberikan rasa aman. Meskipun fakta kemampuan komunikasi unik ini tidak dijumpai dalam The Sheep Detectives, tidak menapik bahwasannya domba memiliki kemampuan komunikasi yang spesial.

Pada akhirnya, film ini mungkin tidak sepenuhnya menggambarkan kemampuan domba sebagaimana adanya di dunia nyata. Namun, The Sheep Detectives menawarkan perspektif yang menarik soal kehidupan kognitif, emosional, dan sosial domba yang kompleks daripada anggapan umum tentangnya.