Konten dari Pengguna
10 Pantangan Naik Gunung Prau Menurut Mitos dan Etika Pendaki
7 Juli 2025 19:31 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
10 Pantangan Naik Gunung Prau Menurut Mitos dan Etika Pendaki
Inilah deretan pantangan naik Gunung Prau menurut mitos dan etika pendaki.Sejarah dan Sosial
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Gunung Prau di Dataran Tinggi Dieng dikenal sebagai tempat terbaik menikmati sunrise. Namun, di balik pesonanya, tersimpan sejumlah pantangan naik Gunung Prau yang diyakini membawa akibat buruk jika dilanggar.
ADVERTISEMENT
Gunung ini terletak di perbatasan Kabupaten Wonosobo, Temanggung, dan Batang dengan ketinggian sekitar 2.565 mdpl. Meski jalurnya cukup ramah, mitos serta aturan tak tertulis tetap jadi bagian penting pendakian.
Beberapa pendaki mengaku dihantui perasaan aneh, tersesat di jalur resmi, hingga melihat hal tak masuk akal. Cerita-cerita itu menyebar, memperingatkan bahwa Gunung Prau bukan sekadar soal fisik, tapi juga sikap batin.
Pantangan Naik Gunung Prau
Mengutip jurnal Konstruksi Nilai Sosial Pendaki Gunung Melalui Mitos Pendakian (Studi Kasus: Gunung Prau) oleh Windy Lestari, berikut adalah daftar pantangan naik Gunung Prau menurut mitos dan etika pendaki:
1. Jangan Mengucap Kata Sembarangan
Gunung Prau, terutama puncaknya, dipercaya sebagai tempat sakral para dewa-dewi bersemayam. Mitos ini melahirkan etika pendaki terkait menjaga ucapan sebagai bentuk hormat terhadap alam dan makhluk tak kasatmata.
ADVERTISEMENT
2. Hindari Buang Air Sembarangan di Jalur
Pendaki dianjurkan tidak buang air kecil di sembarang tempat karena dipercaya bisa mengusik penunggu gunung dan kesucian Prau. Secara etika, ini juga mencerminkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan pendakian.
3. Jangan Mengambil Batu atau Tanaman
Konon, mengambil benda atau tanaman—misal Edelweis—dari Prau bisa membawa sial atau gangguan. Secara etika, tindakan ini merusak ekosistem dan menunjukkan kurangnya kesadaran terhadap pelestarian alam.
4. Tidak Mengabaikan Salam atau Permisi
Saat memasuki jalur Gunung Prau, pendaki dianjurkan mengucap salam atau permisi. Masyarakat Dieng percaya hutan dijaga makhluk halus, dan etika pendaki menekankan sikap hormat terhadap ruang hidup alam semesta.
5. Jangan Bersikap Sombong atau Menantang
Gunung Prau dipercaya dapat “menolak” dan membahayakan pendaki yang sombong. Mitos ini membentuk etika pendaki untuk rendah hati, karena gunung dianggap sebagai ruang spiritual yang tidak bisa ditaklukkan manusia.
ADVERTISEMENT
6. Jangan Membuat Keributan di Malam Hari
Mitos menyebutkan makhluk gaib aktif pada malam hari. Hal ini menuntut pendaki untuk bersikap lebih tenang, sejalan dengan etika menghargai malam sebagai waktu istirahat dan ketenangan alam maupun para pendaki lain.
7. Hindari Membuka Jalur Sendiri Tanpa Panduan
Masyarakat percaya jalur baru bisa memicu tersesat atau kesurupan. Pun, etika pendakian menyarankan untuk mengikuti jalur resmi yang ada di Gunung Prau demi keselamatan dan menghindari gangguan terhadap ekosistem liar.
8. Dilarang Membuat Api Sembarangan
Api dipercaya bisa mengusik penunggu gunung dan memicu malapetaka. Hal ini sejalan dengan etika pendaki yang melarang menyalakan api dari kayu hutan, demi mencegah kerusakan ekosistem dan risiko kebakaran alam.
9. Jangan Meninggalkan Sampah Sekecil Apa Pun
Selain karena Prau yang ‘suci,’ mitos menyebut pendaki kotor akan sulit turun atau "dijahili." Etika pendaki menekankan prinsip leave no trace, menjaga kelestarian gunung dan menghormati alam sebagai ruang bersama.
ADVERTISEMENT
10. Hindari Mendaki saat Sedang Haid
Gunung Prau dianggap suci dan sensitif terhadap energi kotor seperti darah haid. Selain diyakini memicu gangguan gaib, secara medis tubuh saat haid lebih rentan terhadap lelah, kedinginan, dan dehidrasi yang biasa terjadi saat mendaki.
Itulah deretan pantangan naik Gunung Prau yang penting untuk dipahami sebelum mendaki. Setiap larangan mengandung makna budaya yang bisa ditelusuri lebih jauh melalui sumber tertera dan sumber tepercaya lainnya. (NF)

