3 Alat Musik Tradisional NTT yang Jarang Diketahui

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alat musik tradisional NTT memiliki kekayaan budaya yang unik dan mencerminkan keberagaman etnis di Nusa Tenggara Timur.
Setiap instrumen tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam berbagai upacara adat dan tradisi lokal. Meskipun beberapa alat musik cukup dikenal, masih ada beberapa yang jarang diketahui di luar daerah asalnya.
Alat Musik Tradisional NTT
Berikut ini merupakan tiga alat musik tradisional NTT yang sangat jarang diketahui.
1. Sasando, Alat Musik Khas Pulau Rote
Dikutip dari buku Sasando: Musik Petik Tradisional Nusa Tenggara Timur, Frans Seda, 2010:78, sasando adalah alat musik tradisional NTT yang berasal dari Pulau Rote.
Terbuat dari bahan dasar daun lontar, alat musik ini menghasilkan nada-nada merdu dengan sentuhan harmoni yang khas.
Sasando biasanya dimainkan dalam acara adat, penyambutan tamu penting, hingga pertunjukan seni budaya. Meskipun menjadi ikon musik dari NTT, sasando masih jarang dikenal luas di luar wilayah timur Indonesia.
Keindahan suara sasando mencerminkan keharmonisan antara manusia dan alam.
2. Foy Doa, Seruling Bambu dari Flores
Foy doa merupakan alat musik tradisional NTT yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara ditiup.
Dikutip dari buku Musik Tradisional Indonesia, Wayan Sadra, 2012:143, foy doa digunakan oleh masyarakat Flores dalam upacara adat dan ritual keagamaan.
Suara yang dihasilkan memiliki nuansa magis dan biasanya dipakai untuk mengiringi doa atau upacara penyembuhan.
Foy doa juga sering dimainkan dalam momen refleksi, mencerminkan hubungan spiritual masyarakat Flores dengan leluhur mereka. Hingga saat ini, alat musik ini masih lestari sebagai bagian dari warisan budaya lokal.
3. Knobe Oh, Gendang Sakral dari Sumba
Knobe oh adalah alat musik tradisional NTT berupa gendang yang berasal dari Sumba. Berdasarkan buku Warisan Budaya Sumba, Albertus Lede, 2015:95, knobe oh digunakan dalam berbagai upacara adat, seperti penyambutan tamu kehormatan atau perayaan panen.
Alat musik ini dimainkan dengan pukulan berirama cepat, menciptakan suasana semangat dan kebersamaan dalam sebuah perayaan. Knobe oh juga menjadi simbol kekuatan dan kebersamaan masyarakat Sumba dalam menjaga tradisi leluhur mereka.
Alat musik tradisional NTT seperti sasando, foy doa, dan knobe oh menjadi bukti nyata kekayaan budaya yang harus dilestarikan. Melalui upaya pelestarian, alat musik ini tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin dikenal di tingkat nasional dan internasional. (Phonna)
Baca Juga: 3 Tari Tradisional Jambi, Warisan Budaya yang Penuh Makna
