Konten dari Pengguna

3 Mitos Atap Rumah di Indonesia dan Faktanya

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mitos Atap Rumah, Foto: Pexels/Miguel Á. Padriñán
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mitos Atap Rumah, Foto: Pexels/Miguel Á. Padriñán

Indonesia telah mengalami modernisasi yang cukup signifikan, kecuali persoalan mitos. Hal tersebut masih banyak yang membalasnya. Salah satunya adalah mitos atap rumah di Indonesia.

Mengutip dari Mitos-mitos dalam Kepercayaan Masyarakat, oleh Nasrimi, (2021), dalam situs ojs.serambimekkah.ac.id, mitos-mitos di Indonesia biasanya menceritakan tentang terjadinya alam semesta.

Tak hanya itu saja, mitos yang beredar di Indonesia juga seringkali membahas tentang terjadinya susunan para dewa, terjadinya manusia pertama, dunia dewata, hingga terjadinya makanan pokok.

Mitos Atap Rumah

Ilustrasi Mitos Atap Rumah, Foto: Pexels/Adrien Olichon

Mitos atap rumah di Indonesia menjadi salah satu mitos yang masih sering dibahas oleh sebagian besar masyarakat. Berikut adalah deretan mitos atap rumah di Indonesia dan faktanya:

1. Mitos Atap Metal atau Seng

Mitos atap metal yang beredar di masyarakat yaitu atap metal akan mudah tersambar petir dan akan mendatangkan bahaya.

Mengutip dari situs jd-metals.com, faktanya sambaran petir lebih mungkin terjadi berdasarkan posisi bangunan, sementara konduktivitas dan sifat metal yang tidak mudah terbakar membuat bangunan lebih kecil kemungkinannya.

Ada juga yang mengatakan bahwa atap metal akan mempengaruhi Wi-Fi dan ponsel. Ini adalah mitos lain yang kedengarannya sangat masuk akal, tetapi tidak berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Masih dikutip dari situs jd-metals.com, pikirkan berapa banyak bangunan yang digunakan orang untuk perangkat ini, banyak diantaranya memiliki atap atau dinding metal.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi penerimaan Wi-Fi dan ponsel, dan atap metal atau seng ini kemungkinan besar bukan penyebab utamanya.

2. Mitos Suara Benda Jatuh di Atap

Mitos tentang suara benda jatuh di atap rumah pertanda bahwa suara-suara tertentu di atap adalah sesuatu yang supranatural atau peringatan dari roh-roh.

Dalam beberapa budaya, suara-suara seperti derit, bunyi benda jatuh, atau suara goresan di atap ditafsirkan sebagai pesan dari dunia lain.

Namun, kenyataannya berbeda. Mengutip dari situs flick.com.au, mendengar suara-suara aneh seperti suara gesekan atau desisan di atap rumah memang meresahkan.

Suara-suara ini sering kali merupakan tanda bahwa ada hama di dalam rumah. Hama yang berbeda memerlukan strategi pembasmian yang berbeda, dan bertindak cepat dapat mencegah kerusakan lebih lanjut pada atap.

3. Mitos Kuda-kuda di Atap Rumah Ganjil

Jumlah kuda-kuda rumah yang ganjil diyakini dapat mendatangkan nasib buruk atau menarik energi negatif. Kepercayaan mengenai jumlah kuda-kuda rumah yang ganjil berasal dari tradisi feng shui.

Dalam tradisi feng shui meyakini bahwa struktur rangka atap dapat memengaruhi keseimbangan aliran energi atau chi dalam hunian.

Dikutip dari Fungsi Mitos, Etika Lingkungan dan Integrasi pada Aktivitas Mendaki Gunung Lawu, oleh Melyani et al, (2023), dalam situs journal.unnes.ac.id, masyarakat Jawa percaya bahwa angka ganjil merupakan angka kurang baik atau angka keramat.

Faktanya, rangka atap yang ganjil mungkin saja tidak akan menjadi masalah. Namun, hal ini kembali lagi pada beberapa faktor seperti desain atap, beban yang ditanggung, dan jenis rangka atap yang digunakan.

Itulah dia mitos atap rumah di Indonesia dan faktanya. Meskipun beberapa mitos tidak sesuai dengan fakta yang ada, tetapi ada juga mitos yang sebenarnya mengandung pesan moral atau simbolis. (IF)

Baca juga: 10 Mitos di Indonesia yang Masih Dipercaya hingga Kini