Konten dari Pengguna

5 Pantangan Calon Pengantin Berdasarkan Suku yang Ada di Indonesia

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pantangan Calon Pengantin, Pexels/Danu Hidayatur Rahman
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pantangan Calon Pengantin, Pexels/Danu Hidayatur Rahman

Pantangan calon pengantin di Indonesia beragam, mencerminkan tradisi dan kearifan lokal dalam mempersiapkan pasangan menuju kehidupan baru.

Dikutip dari situs repository.iainkudus.ac.id, sebagai tradisi sosial dan budaya yang telah lahir dan berkembang dalam kehidupan masyarakat, pantangan tidak hanya berupa larangan tanpa nilai, melainkan mengandung pesan penting di setiap pantangan itu.

Pantangan Calon Pengantin

Ilustrasi Pantangan Calon Pengantin, Pexels/abh vlog

Pantangan calon pengantin diyakini sebagai bentuk perlindungan dari berbagai hal buruk yang bisa mengganggu jalannya acara pernikahan dan masa depan pasangan. Berikut adalah berbagai pantangan untuk calon pengantin.

1. Tidak Boleh Bertemu sebelum Hari Pernikahan

Pantangan ini berdasarkan budaya dari Suku Jawa. Dalam tradisi Jawa, calon pengantin dilarang bertemu selama beberapa hari sebelum akad atau resepsi.

Ini disebut pingitan dan tujuannya adalah agar energi positif tetap terjaga, serta memperkuat rasa rindu dan kebahagiaan saat hari pernikahan tiba. Pingitan juga dipercaya sebagai bentuk pensucian diri secara batin.

2. Tidak Boleh Menjahit Pakaian Sendiri

Pantangan ini berasal dari Suku Sunda. Calon pengantin dilarang untuk menjahit pakaian sendiri, termasuk baju pengantin, karena dipercaya bisa membuat pernikahan ‘tersangkut’ masalah atau penuh hambatan.

3. Tidak Boleh Menyanyi Sembarangan

Pantangan calon pengantin yang satu ini diketahui berasal dari budaya Suku Bali.

Dalam budaya Bali, calon pengantin, terutama perempuan, dilarang menyanyi sembarangan saat masa persiapan pernikahan.

Hal ini dikarenakan suara nyanyian dipercaya bisa mengundang roh-roh yang tidak diinginkan dan mengganggu kelancaran upacara suci pernikahan.

4. Tidak Boleh Menangis Berlebihan

Pantangan ini berasal dari budaya Suku Betawi. Dalam budaya Betawi, calon pengantin, terutama perempuan, sebaiknya tidak menangis berlebihan menjelang hari pernikahan.

Menangis dianggap sebagai pertanda kesedihan yang dapat membawa energi negatif ke dalam rumah tangga nanti.

5. Tidak Boleh Memakan Daging Hewan yang sedang Hamil

Ini merupakan pantangan yang berasal dari budaya Suku Madura. Di sana, calon pengantin dilarang untuk makan daging hewan yang sedang hamil atau menyusui karena dipercaya bisa berdampak buruk pada keharmonisan rumah tangga dan kesuburan setelah menikah.

Pantangan calon pengantin merupakan cerminan betapa pentingnya persiapan mental, fisik, dan spiritual dalam tradisi pernikahan di berbagai daerah di Indonesia. (Mey)

Baca juga: 3 Mitos Kucing Punya 9 Nyawa yang Berkembang di Masyarakat