Konten dari Pengguna

5 Pantangan ke Gunung Sumbing yang Harus Dipatuhi Para Pendaki

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pantangan ke Gunung Sumbing, Foto:Unsplash/Michael
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pantangan ke Gunung Sumbing, Foto:Unsplash/Michael

Pantangan ke Gunung Sumbing menjadi salah satu hal penting yang kerap luput dari perhatian para pendaki, terutama mereka yang baru pertama kali menjejakkan kaki di gunung yang dikenal dengan medan terjal namun menyimpan keindahan luar biasa ini.

Banyak yang terlalu fokus pada persiapan fisik dan perlengkapan, tetapi lupa bahwa mendaki juga berkaitan erat dengan etika dan tata krama terhadap alam serta budaya lokal.

Gunung bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang yang diyakini memiliki sisi sakral dan dihormati oleh masyarakat sekitar.

Pantangan ke Gunung Sumbing

Ilustrasi Pantangan ke Gunung Sumbing, Foto:Unsplash/Kalen Emsley

Pantangan ke Gunung Sumbing menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi dan kepercayaan masyarakat sekitar yang masih dijunjung hingga kini.

Bagi para pendaki, memahami pantangan-pantangan ini bukan hanya soal mengikuti aturan tak tertulis, tetapi juga tentang menghormati alam dan budaya lokal yang melekat kuat di gunung tersebut.

Berikut ini adalah pantangan dan mitos yang sering dikaitkan dengan pendakian Gunung Sumbing:

1. Tidak Mengucapkan Kata Dingin

Mitos yang cukup dikenal menyebutkan bahwa kata dingin sebaiknya tidak diucapkan selama mendaki.

Konon, menyebut kata ini dipercaya bisa memicu datangnya angin besar, cuaca memburuk, atau bahkan badai yang dapat mengganggu keselamatan pendaki.

Oleh sebab itu, banyak orang mengganti kata tersebut dengan istilah lain seperti sejuk atau adem.

2. Menghindari Pakaian Berwarna Hijau

Pendaki disarankan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau. Warna ini dipercaya tidak disukai oleh penunggu Gunung Sumbing.

Dalam kepercayaan masyarakat setempat, warna hijau bisa menarik perhatian makhluk tak kasatmata dan menimbulkan gangguan selama perjalanan.

3. Tidak Mendaki dalam Jumlah Ganjil, Terutama Bertiga

Dikutip dari laman p2k.stekom.ac.id, jumlah ganjil saat mendaki, khususnya tiga orang, dianggap membawa nasib buruk.

Kepercayaan ini menyebutkan bahwa jika ada tiga orang dalam satu kelompok, salah satu bisa diambil atau mengalami kejadian janggal. Untuk itu, pendakian lebih aman dilakukan dalam jumlah genap.

4. Larangan Membawa dan Menyalakan Kembang Api

Penggunaan kembang api dilarang keras selama berada di kawasan Gunung Sumbing. Selain alasan keselamatan, hal ini bertujuan untuk menjaga ketenangan dan keaslian alam.

Pelanggaran atas larangan ini dikenai sanksi berupa kewajiban menanam 10 bibit pohon sebagai bentuk tanggung jawab.

5. Dilarang Merusak atau Mencoret Papan Petunjuk

Papan petunjuk pendakian dibuat untuk memudahkan navigasi dan menjaga keselamatan. Merusaknya dianggap sebagai tindakan tidak bertanggung jawab. Siapa pun yang melanggar akan dikenai sanksi berupa penanaman 5 bibit pohon.

Dengan memahami dan menghormati pantangan ke Gunung Sumbing, pendakian tidak hanya menjadi aman secara fisik, tetapi juga terasa lebih damai dan bermakna secara spiritual. (KIKI)

Baca juga: Mitos Gunung Arjuno yang Populer di Kalangan Pendaki