Konten dari Pengguna

7 Ciri-Ciri Sosialisasi Partisipatoris beserta Contohnya

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Ciri-Ciri Sosialisasi Partisipatoris. Sumber: Nicole Michalou/Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Ciri-Ciri Sosialisasi Partisipatoris. Sumber: Nicole Michalou/Pexels.com

Sosialisasi partisipatoris atau partisipatif adalah salah satu bentuk sosialisasi yang ada di masyarakat dengan menekankan penghargaan. Ciri-ciri sosialisasi partisipatoris adalah menekankan kebebasan dan independensi.

Misalnya, tidak melakukan pemaksaan atau kekerasan kepada anak, baik dalam bentuk fisik maupun verbal. Lewat pola satu ini bisa membentuk kepribadian anak menjadi lebih mandiri, mempunyai jiwa kepemimpinan, dan bisa bekerja sama dengan baik.

Untuk mengetahui penjelasan lebih lengkapnya, simak ulasan berikut!

Ciri-Ciri Sosialisasi Partisipatoris

Ilustrasi: Ciri-Ciri Sosialisasi Partisipatoris. Sumber: Nicole Michalou/Pexels.com

Kun Maryati dan Juju Suryawati dalam buku berjudul Sosiologi menjelaskan bahwa pola sosialisasi menurut Jaeger dibedakan menjadi dua, salah satunya adalah pola sosialisasi partisipatoris.

Sosialisasi partisipatoris merupakan pola di mana anak diberikan imbalan saat berperilaku atau menjalankan hal-hal baik. Bukan hanya itu, hukuman juga imbalan yang sifatnya simbolik.

Pada sosialisasi ini yang menjadi pusat sosialisasi adalah anak dan kebutuhan anak. Penekanan pun dilakukan terhadap interaksi serta komunikasi yang sifatnya lebih ke lisan.

Adapun ciri-ciri sosialisasi partisipatif, yaitu:

  1. Memberikan keleluasan dan kemandirian kepada anak.

  2. Sosialisasi yang sifatnya dua arah. Tidak hanya berpusat pada orang tua, tetapi juga kepada anak.

  3. Orang tua memperhatikan keinginan dan kebutuhan anak.

  4. Sosialisasi yang berpusat kepada anak.

  5. Komunikasi yang sifatnya verbal, yakni secara lisan atau tulisan.

  6. Keluarga sendiri menjadi generalized others atau memberikan pemahaman kepada anak tentang tata aturan, peran, hingga norma yang berlaku dalam masyarakat.

  7. Keperluan anak adalah hal yang penting.

Contoh Sosialisasi Partisipatoris

Berikut beberapa contoh dari sosialisasi partisipatoris yang ada di lingkungan sekitar, yaitu:

  • Anak mendapatkan nilai ujian yang kurang baik, namun orang tua tidak memberi hukuman melainkan memberikan motivasi serta pengarahan kepada anak.

  • Orang tua mengajak anak berdiskusi dalam pemilihan sekolah lanjutan tanpa memaksakan kehendak orang tua agar anak ikut apa yang diminta orang tua.

  • Saat orang tua memberi kepercayaan serta kebebasan kepada anak untuk memilih jurusan kuliah sesuai bakat dan minat anak.

  • Anak mendapatkan imbalan ketika melakukan kebaikan. Misalnya, anak mau mengucapkan minta tolong ketika meminta bantuan kepada orang tua atau orang di sekitarnya.

  • Orang tua mengambil gadget anaknya sebab anak mendapatkan nilai ujian jelek.

  • Orang tua tidak mengizinkan anaknya main dengan temannya dengan alasan anak sedang menghadapi ujian dan harus belajar.

Itulah penjelasan ciri-ciri sosialisasi partisipatoris dan contohnya. Semoga membantu! (Ek)