7 Kebijakan Sultan Ageng Tirtayasa saat Memerintah Kerajaan Banten

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sultan Ageng Tirtayasa terkenal sebagai pemimpin kerajaan Banten yang sangat visioner, seorang ahli perencanaan wilayah, serta tata kelola air. Selama menjabat, kebijakan Sultan Ageng Tirtayasa sangat beragam, hal ini dilakukan demi memajukan Kerajaan Banten.
Penjelasan selengkapnya, simak di sini!
Kebijakan Sultan Ageng Tirtayasa
Ikot Sholehat, M.Hum. dalam buku berjudul Perdagangan Internasional Kesultanan Banten Akhir Abad XVI-XVII menjelaskan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa adalah putra dari Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad yang menjadi sultan Banteng pada periode 1640-1650 dengan Ratu Martakusuma.
Selama menjabat inilah beberapa kebijakan yang beliau buat, yakni:
Memulihkan perniagaan di Banten dengan membuat saluran antara Pontang dan Tanara supaya bisa di layari kapal dan mengairi daerah di sekitarnya. Dengan demikian, kawasan Banten bisa menjadi daerah penghasil pangan yang tinggi.
Meningkatkan hasil bumi dan memperkuat armada untuk menjamin keamanan para pedagang di perairan Banten.
Memerintahkan rakyat Banten agar membuka huma untuk ditanami kelapa.
Menerapkan kebijakan transmigrasi dengan memindahkan puluhan ribu pendudukan Banten ke kawasan lainnya yang masih belum dihuni.
Meningkatkan pendidikan dengan mendatangkan guru agama dari Arab, Aceh, dan kawasan yang lainnya menuju Banten. Beberapa guru tersebut adalah Abdunnabi, Sayid Ali, dan Haji Salim.
Meningkatkan keamanan Banten dengan memerintahkan para anggota Dewan Agung untuk dipindakan ke Istana yang lokasinya dekat pantai telur Banten.
Menjalin relasi yang kuat dengan negara asing. Misalnya, para pedagang dari China, Peranis, Arab, India, Denmark, Jepang, dan lainnya.
Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa Melawan VOC
Dr. Ayang Utriza Yakin, DEA. dalam buku berjudul Islam Praktis menjelaskan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa langsung memimpin perlawanan kepada Belanda.
Kala itu, VOC menerapkan monopoli perdagangan uang dan bisa merugikan Kesultanan Banten. Tirtayasa menolak perjanjian tersebut dan menjadikan kerajan Banten sebagai pelabuhan terbuka.
Kala itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin menjadikan Banten menjadi suatu kerajaan Islam paling besar di Nusantara. Bahkan, kejayaan Kerajaan Banten berhasil menjadi ancaman bagi VOC di Batavia.
Namun, VOC berhasil meruntuhkan kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa, di mana VOC menghasut dan mengajak Sultan Haji, yakni putra dari Sultan Ageng Tirtayasa untuk menghancurkan tahta ayahnya.
Demikianlah penjelasan tentang kebijakan Sultan Ageng Tirtayasa selama memerintah kerajaan Banten. (eK)
