Konten dari Pengguna

7 Pantangan ke Gunung Lawu yang Masih Dipercaya hingga Sekarang

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pantangan ke Gunung Lawu. Foto: Unsplash/ Ibnu Al Rasyid
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pantangan ke Gunung Lawu. Foto: Unsplash/ Ibnu Al Rasyid

Pantangan ke Gunung Lawu bukan sekadar mitos yang berkembang di masyarakat, melainkan bagian dari kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Gunung yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini dikenal tidak hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena aura mistis dan nilai spiritual yang kuat.

Para pendaki yang datang ke sini sering kali tidak hanya berniat menaklukkan puncak, melainkan juga menjalani perjalanan batin yang dipenuhi dengan rasa hormat dan tata krama.

Pantangan ke Gunung Lawu

ILustrasi pantangan ke Gunung Lawu. Foto: Unsplash/ JULIUS DETERALA

Pantangan ke Gunung Lawu dipercaya sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, serta bentuk penghormatan kepada kekuatan tak kasat mata yang dipercaya menjaga kawasan tersebut.

Berbagai aturan tak tertulis ini masih banyak dijalankan oleh para pendaki dan masyarakat sekitar demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Dikutip dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, Gunung Lawu juga dikenal sebagai situs yang memiliki nilai budaya dan spiritual tinggi, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap berbagai pantangan bukan tanpa dasar.

Kepercayaan ini menciptakan suasana sakral yang menjadikan pendakian Gunung Lawu lebih dari sekadar petualangan fisik, tetapi juga pengalaman spiritual yang mendalam.

Gunung Lawu bukan hanya dikenal sebagai salah satu gunung favorit para pendaki di Pulau Jawa, tetapi juga sebagai tempat yang sarat nilai spiritual dan adat istiadat yang masih dijaga hingga kini.

Terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Gunung Lawu menyimpan berbagai mitos dan kepercayaan yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat sekitar.

Dalam tradisi masyarakat sekitar, terdapat sejumlah pantangan yang dipercaya harus dipatuhi oleh para pendaki jika ingin selamat dan tidak mengalami gangguan selama berada di kawasan Gunung Lawu.

Beberapa pantangan ini bahkan diyakini dapat membawa malapetaka jika dilanggar. Berikut ini adalah tujuh pantangan ke Gunung Lawu yang masih dipercaya hingga sekarang:

1. Dilarang Mendaki pada Hari Anggara Kasih

Hari Anggara Kasih dalam penanggalan Jawa dianggap sebagai hari keramat. Banyak orang percaya bahwa mendaki Gunung Lawu pada hari ini dapat mengundang hal-hal buruk, bahkan kesialan sepanjang perjalanan.

2. Tidak Boleh Berucap Sembarangan

Kata-kata kasar, sombong, atau meremehkan gunung adalah pantangan keras. Gunung Lawu dipercaya memiliki "penjaga gaib" yang sensitif terhadap ucapan manusia. Sopan santun menjadi kunci keselamatan.

3. Jangan Membawa atau Menyebut Makanan Berjenis Daging Sapi

Dalam mitos lokal, daging sapi sangat pantang disebut atau dibawa ke area Gunung Lawu karena dipercaya bisa menimbulkan gangguan dari makhluk halus.

4. Dilarang Memakai Pakaian Serba Hijau

Warna hijau dipercaya sebagai warna kesukaan makhluk gaib tertentu yang bersemayam di Gunung Lawu. Oleh karena itu, mengenakan pakaian serba hijau dianggap bisa menarik perhatian mereka.

5. Pantang Mengambil Apa Pun dari Alam Lawu

Batu, daun, atau benda kecil sekalipun sebaiknya tidak dibawa turun. Masyarakat percaya bahwa mengambil barang dari gunung dapat menyebabkan penyakit atau gangguan spiritual.

6. Jangan Mendaki Sendirian

Meski secara teknis memungkinkan, mendaki seorang diri ke Gunung Lawu dianggap sangat berisiko secara spiritual. Pendaki sendirian lebih rentan mengalami hal mistis atau hilang arah.

7. Tidak Boleh Bersikap Ceroboh di Puncak Hargo Dalem

Hargo Dalem adalah salah satu titik spiritual di Gunung Lawu. Di tempat ini, pendaki harus menjaga sikap, tidak berisik, dan tidak sembarangan membuka area tertentu karena diyakini sebagai tempat petilasan tokoh legendaris.

Menjaga pantangan ini bukan sekadar soal percaya atau tidak percaya, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap budaya lokal dan kelestarian alam. Gunung Lawu bukan hanya milik pendaki, tapi juga warisan spiritual yang dijaga oleh banyak generasi. (Arf)

Baca juga: Apakah Gunung Lawu Cocok untuk Pemula? Ini Rekomendasi Jalurnya