8 Contoh Konflik Disfungsional yang Diabaikan Masyarakat

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak contoh konflik disfungsional yang kerap diabaikan masyarakat. Padalah dampaknya bisa jangka panjang karena konflik disfungsional bisa menghambat pencapaian tujuan kelompok.
Sejatinya, disfungsional memiliki sifat merusak yang bisa menurunkan kinerja organisasi. Jika dibiarkan, organisasi tersebut bisa rusak dan terpecah belah.
8 Contoh Konflik Disfungsional
Dikutip dari buku Manajemen Konflik dan Stres yang ditulis oleh Prof. Dr. Drs, H. Ekawarna, M.Psi. (2021), konflik disfungsional tidak bisa dihindari dan diinginkan dalam organisasi. Tetapi, saat konflik sudah parah harus diatasi secepatnya sehingga tidak menimbulkan kekacauan lebih parah.
Berikut ada contoh konflik disfungsional yang bisa dijadikan pengetahuan, dengan begitu masyarakat tidak mengabaikan dampak konflik disfungsional.
Organisasi yang membuat janji palsu pada karyawannya untuk meningkatkan produktivitas. Misalnya, pemimpin organisasi berjanji akan membuat kebijakan dan kenaikan gaji jika karyawan mampu mencapai target. Sayangnya itu hanyalah taktik perusahaan.
Seorang manajer perusahaan yang membuat ancaman verbal terhadap karyawan untuk memenuhi agenda sang manajer secara pribadi.
Permasalahan perebutan posisi ketua satu organisasi yang berujung perpecahan pengurus. Mirisnya, konflik ini bisa memicu bentrok hingga kekerasan.
Dua orang karyawan atau lebih sedang berselisih paham akibat kepentingan pekerjaan maupun pribadi yang berujung menghambatnya pekerjaan.
Karyawan satu dengan karyawan lainnya mmemiliki perbedaan pendapat dan mengedepankan kepentingan pribadi dalam kelompok. Hal tersebut memicu kepentingan kelompok berantakan karena tidak ada yang ingin mengalah.
Seorang kepala desa yang meminta bawahannya untuk mengumumkan mengenai kebijakan desa yang baru. Tetapi, kepala desa tidak bisa menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik dan menyalahkan bawahannya.
Perbedaan yang mengedepankan kepentingan kelompok dengan tujuan terselubung agar mendapat kenikan pangkat. Tetapi, setelah jabatannya naik perbedaan tersebut ditunjukkan dan menimbulkan kekacauan pada organisasinya.
Seorang pemimpin partai yang membuat janji memberikan berbagai bantuan dengan jaminan nama partainya. Tetapi, setelah menjadi pemimpin melanggar janji tersebut dengan melemparkan kesalahan pada anggota partai.
Contoh konflik disfungsional tidak bisa dianggap remeh masyarakat karena bisa memicu permasalahan lebih besar. Untuk itulah masyarakat harus memahami seperti apa konflik disfungsional sehingga bisa mengetahui saat konflik tersebut terjadi. (ASP)
