Konten dari Pengguna

Alasan Kelompok Komunis Amir Syarifuddin Menolak Program ReRa Kabinet Hatta

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Alasan Kelompok Komunis Amir Syarifuddin Menolak Program ReRa Kabinet Hatta, Foto: Unsplash/Samantha Sophia
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Alasan Kelompok Komunis Amir Syarifuddin Menolak Program ReRa Kabinet Hatta, Foto: Unsplash/Samantha Sophia

Pada awal kemerdekaan Indonesia, perbedaan pandangan politik di pemerintahan menimbulkan ketegangan, misalnya ketika adanya program ReRa yang mendapat penolakan. Terdapat alasan kelompok komunis Amir Syarifuddin menolak program ReRa Kabinet Hatta.

Mengutip jurnal Sejarah dan Budaya, Ari Sapto (2013: 31), perbedaan pandangan menguat ketika Moh. Hatta menggantikan Amir Syarifuddin sebagai Perdana Menteri. Hal ini menimbulkan kerusuhan, salah satunya adalah peristiwa Madiun.

Alasan Kelompok Komunis Amir Syarifuddin Menolak Program ReRa Kabinet Hatta

Ilustrasi Alasan Kelompok Komunis Amir Syarifuddin Menolak Program ReRa Kabinet Hatta, Foto: Unsplash/Marco Oriolesi

Mengapa kelompok komunis pimpinan Amir Syarifuddin menolak program ReRa Kabinet Hatta? Kelompok komunis menolak program tersebut karena merasa adanya perbedaan ideologi dan kepentingan.

ReRa sebenarnya diterapkan karena tentara yang tidak lagi produktif dianggap akan menjadi beban di masa depan. Jika tidak dilaksanakan, diperkirakan Indonesia akan mengalami inflasi yang parah.

Kabinet Hatta berpendapat bahwa tentara dengan jumlah kecil namun efektif lebih mudah dibiayai dan dilengkapi oleh negara. Dalam kondisi seperti itu, semangat dan disiplin tetap terjaga.

Program Rera (reorganisasi militer dan rasionalisasi ekonomi) bertujuan untuk mengimbangkan antara pendapatan dan pengeluaran negara. Berikut adalah 3 bentuk program ReRa yang diberlakukan.

  1. Memberikan kesempatan bagi tentara yang secara sukarela ingin keluar, termasuk yang ingin kembali ke profesi lama seperti guru, pekerja swasta, dan lainnya.

  2. Menyerahkan beberapa tentara kepada Kementerian Pembangunan dan Pemuda yang menyediakan peluang kerja bagi mereka.

  3. Mengembalikan seratus ribu ke masyarakat desa.

Kelompok Amir Syarifuddin berpegang pada prinsip perjuangan dan revolusi rakyat. Mereka merasa program ReRa yang mengurangi jumlah tentara akan mengancam kekuatan rakyat terutama buruh tani dan menguatkan dominasi militer elit.

Selain itu, mereka juga khawatir jika program ini dilaksanakan akan mengurangi pengaruh politik komunis serta bertentangan dengan visi mereka tentang redistribusi kekayaan dan perjuangan kelas.

Demikianlah pembahasan mengenai alasan kelompok komunis Amir Syarifuddin menolak program ReRa Kabinet Hatta. Konflik ini menjadi bagian dari dinamika politik Indonesia, yang dipengaruhi oleh pertarungan antara kelompok nasionalis dan kelompok komunis.

Baca Juga: Sejarah Pergantian Kabinet pada Masa Demokrasi Liberal