Alasan Perbedaan Strategi di Antara Pemimpin Indonesia saat Menghadapi Jepang

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kedatangan Jepang di Indonesia pada tahun 1942 memicu perbedaan strategi di antara para pemimpin. Mengapa terdapat perbedaan strategi di antara pemimpin Indonesia dalam menghadapi Jepang?
Salah satu alasan utama terjadinya perbedaan strategi tersebut adalah tokoh kooperatif dan nonkooperatif mempunyai pendapat berbeda. Tokoh kooperatif memilih bekerja sama dengan Jepang, sedangkan tokoh nonkooperatif tidak.
Mengapa Terdapat Perbedaan Strategi di Antara Pemimpin Indonesia dalam Menghadapi Jepang?
Jepang datang ke Indonesia pada tahun 1942, yakni saat Indonesia telah mengalami penjajahan Belanda selama ratusan tahun. Ketika datang ke Indonesia, Jepang menggunakan banyak siasat.
Beberapa contoh adalah menggunakan siasat Saudara Tua serta Gerakan 3A. Jepang melakukan hal itu agar menarik simpati dari bangsa Indonesia yang sudah sangat geram terhadap penjajahan Belanda.
Bukan hanya membuat siasat, kedatangan Jepang ke Indonesia juga memicu perbedaan strategi di antara pemimpin Indonesia. Mengapa terdapat perbedaan strategi di antara pemimpin Indonesia dalam menghadapi Jepang?
Kondisi itu dapat terjadi karena tokoh kooperatif mempunyai pendapat yang berbeda dengan tokoh nonkooperatif. Tokoh kooperatif memilih untuk bekerja sama dengan Jepang, sedangkan nonkooperatif tidak memilih hal tersebut.
Pergerakan Tokoh Kooperatif dan Nonkooperatif Melawan Jepang
Walaupun berbeda pendapat, tokoh kooperatif dan nonkooperatif sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Perbedaan di antara keduanya terletak pada cara untuk melawan Jepang.
Tokoh kooperatif memilih untuk berjuang dengan sifat yang lunak. Tokoh tersebut memilih untuk bekerja sama dengan Jepang sembari memanfaatkan organisasi bentukan Jepang guna mempersiapkan kemerdekaan.
Tokoh kooperatif pada masa pendudukan Jepang, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K. H. Mas Mansyur. Berbeda dengan tokoh kooperatif, tokoh nonkooperatif memilih untuk tidak bekerja sama dengan Jepang.
Tokoh yang melakukan taktik nonkooperatif adalah Sukarni, Chaerul Saleh, Adam Malik, A. A. Maramis, Armunanto, dan Achmad Subardjo. Salah satu upaya dari tokoh nonkooperatif adalah gerakan bawah tanah.
Mengutip dari buku IPS Terpadu 3A untuk SMP dan MTs Kelas IX Semester 1, Pujiastuti, dkk. (2007: 31), gerakan bawah tanah muncul setelah Jepang membubarkan semua partai politik yang ada di Indonesia.
Jadi, apa jawaban dari Mengapa terdapat perbedaan strategi di antara pemimpin Indonesia dalam menghadapi Jepang? Jawabannya adalah karena ada perbedaan pendapat di antara tokoh kooperatif dan nonkooperatif. (AA)
