Konten dari Pengguna

Asal-usul Betawi, Perjalanan Panjang Masyarakat Asli Jakarta

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Jakarta. Foto: Unsplash/Eko Herwantoro
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Jakarta. Foto: Unsplash/Eko Herwantoro

Asal-usul Betawi adalah kisah panjang yang tak terpisahkan dari sejarah Jakarta, kota yang kini dikenal sebagai pusat pemerintahan dan denyut ekonomi Indonesia.

Di balik kemacetan, gedung-gedung pencakar langit, dan kehidupan modern yang serba cepat, tersimpan cerita tentang terbentuknya masyarakat asli yang menjadi penjaga identitas kota ini.

Proses lahirnya Betawi tidak terjadi secara instan, melainkan melalui perjalanan sejarah dan perpaduan budaya dari berbagai penjuru dunia.

Asal-usul Betawi

Ilustrasi Jakarta. Foto: Unsplash/Muhammad Syafi Al - adam

Asal-usul Betawi diyakini berawal dari kata Batavia yang perlahan mengalami perubahan menjadi Batavi, lalu Batawi, dan akhirnya menyesuaikan dengan lidah masyarakat setempat menjadi Betawi.

Dikutip dari laman p2k.stekom.ac.id, mengungkapkan bahwa secara historis, suku Betawi muncul sebagai hasil percampuran berbagai kelompok etnis yang tinggal di Batavia, sehingga melalui proses panjang akulturasi budaya, adat-istiadat, tradisi, bahasa, dan unsur sosial lainnya, terbentuklah sebuah komunitas besar yang kemudian melebur menjadi identitas baru bernama Betawi.

Penggunaan kata Betawi sebagai sebutan untuk sebuah suku mulai dikenal setelah berdirinya organisasi Pemoeda Kaoem Betawi pada tahun 1923, yang menjadi salah satu tonggak pengakuan terhadap keberadaan masyarakat ini.

Sejarawan Betawi Ridwan Saidi mengemukakan beberapa pandangan tentang kemungkinan asal penamaan Betawi.

Pertama, berasal dari kata Pitawi dalam bahasa Melayu-Polinesia Purba yang berarti larangan, yang merujuk pada kompleks bangunan yang dihormati di Candi Batujaya.

Menurutnya, kompleks tersebut dahulu merupakan kota suci yang tertutup, sedangkan Karawang di sekitarnya bersifat terbuka.

Kedua, kata Betawi dalam bahasa Melayu Brunei berarti giwang. Istilah ini dikaitkan dengan temuan giwang dari abad ke-11 M di situs ekskavasi Babelan, Kabupaten Bekasi, sehingga memberikan dugaan bahwa nama ini memiliki keterkaitan dengan benda berharga tersebut.

Ketiga, nama Betawi juga diduga berasal dari flora guling Betawi (cassia glauca), yaitu tanaman perdu berbatang bulat menyerupai guling, mudah diraut namun kuat.

Dahulu, kayunya banyak digunakan untuk gagang keris atau pisau, sedangkan tanaman ini tumbuh di Nusa Kelapa, wilayah Jawa, dan Kalimantan.

Di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tanaman tersebut disebut Kayu Bekawi, dan perbedaan pelafalan huruf k dan t antara Bekawi dan Betawi dianggap wajar dalam dialek Melayu.

Kemungkinan penamaan Betawi dari jenis tanaman ini dinilai masuk akal, sebab banyak nama tempat di Jakarta berasal dari flora, seperti Gambir, Krukut, Bintaro, dan Grogol.

Bahkan, nama Kecamatan Makassar tidak berkaitan dengan etnis Makassar di Sulawesi Selatan, melainkan dari jenis rerumputan yang tumbuh di wilayah tersebut.

Oleh karena itu, asal-usul Betawi mencerminkan perpaduan jejak bahasa, budaya, dan lingkungan yang membentuk identitas masyarakatnya hingga kini. (DANI)

Baca juga: Asal Usul Panjat Pinang yang Kerap Meramaikan Perayaan 17an