Asal-usul Desa Teluk Awur di Jepara, Jawa Tengah

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Asal-usul Desa Teluk Awur di Jepara, Provinsi Jawa Tengah, menarik untuk diketahui karena menghadirkan berbagai pesan penting untuk diterapkan dalam kehidupan.
Desa Teluk Awur adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Kurang lebih 1706 orang tinggal di desa tersebut dengan mayoritas pekerjaannya adalah nelayan dan petani.
Asal-usul Desa Teluk Awur
Dikutip dari jurnal Analisis Nilai Sosial Alam Kumpulan Cerita Rakyat Teluk Awur di Kota Jepara, Selfiana Kurnia Sari, Vebby Meilia Roja, dan Siska Veronica Marta, (229-231), asal-usul Desa Teluk Awur berasal dari kisah Den Ayu Roro Kuning dan suaminya, Syeikh Abdul Aziz, yang tinggal di sebuah desa.
Syeikh bekerja di ladang setiap harinya tetapi dia selalu pulang lebih awal ke rumahnya karena merasa rindu pada istrinya.
Karena hal itu, Den Ayu Roro Kuning kemudian meminta suaminya untuk melukis wajahnya untuk dibawa ke ladang dan segera setelah lukisan itu selesai, Syeikh Abdul Aziz membawanya ke ladang.
Pada suatu pagi, dia pergi ke ladang dan membawa lukisan itu seperti biasa tetapi tiba-tiba ada angin kencang yang menerjang pohon dan membawa lukisan itu terbang. Meski berusaha untuk mengejarnya, upaya itu sia-sia.
Di kerajaan lain, Joko Wongso yang memimpin kerajaan tersebut melihat lukisan tersebut yang jatuh di halaman kerajaan. Terkejut, dia juga merasa tertarik dengan wanita yang digambarkan pada lukisan tersebut dan ingin menikahinya.
Dalam asal-usul Desa Teluk Awur, Joko Wongso meminta para prajurit untuk mencarinya dan membawanya ke kerajaan jika menemukannya. Para prajurit tersebut kemudian menemukan apa yang dicari dan membawa Den Ayu Roro Kuning ke kerajaan.
Saat tiba di rumahnya, Syeikh Abdul Aziz terkejut istrinya tidak ada di rumah. Dia akhirnya menemukan istrinya dibawa ke Kerajaan Joko Wongso untuk dijadikan ratu. Untuk dapat masuk ke kerajaan, dia menyamar sebagai pengamen dan menyanyikan lagu.
Den Ayu Roro Kuning yang mendengarnya lalu meminta para abdinya untuk memanggil pengamen itu. Akhirnya, pasangan suami istri itu bertemu dan mencari cara untuk keluar dari kerajaan tersebut.
Den Ayu Roro Kuning berpura-pura menerima keinginan untuk menjadi istri raja tetapi Raja Joko Wongso harus menerima permintaannya berupa kerang yang dapat bergoyang-goyang di laut.
Dia kemudian mengenakan pakaian nelayan agar tidak ada yang mengetahui identitas dirinya. Saat raja tidak berada di tempat, Syeikh Abdul Aziz mengenakan pakaian raja yang biasanya dipakai oleh Joko Wongso sehingga penampilannya mirip dengan raja yang sebenarnya.
Dia memerintahkan para prajurit untuk menyisir kawasan pantai karena di daerah tersebut terdapat mata-mata yang memiliki ciri-ciri seperti nelayan. Para prajurit kemudian menghajarnya beramai-ramai.
Saat itu, Raja Joko Wongso berteriak ‘teluk, teluk, teluk….’. Kata tersebut sebenarnya berarti ‘takluk’ tetapi sayangnya para prajurit tidak mendengarkannya. Wilayah tempat pantai Jepara tempat terjadinya peristiwa itu kemudian dikenal sebagai ‘Telukawur’.
Asal-usul Desa Teluk Awur memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia yang senantiasa diperkaya dari generasi ke generasi lainnya. (Mey)
Baca juga: Asal-usul Desa dan Jejak Sejarah di Balik Kehidupan Pedesaan
