Konten dari Pengguna

Asal-usul Kota Pati Berdasarkan Kisah dalam Babad Pati

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Hanya Ilustrasi: Asal-usul Kota Pati. Sumber: Nuh Rizqi/Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Foto Hanya Ilustrasi: Asal-usul Kota Pati. Sumber: Nuh Rizqi/Pexels.com

Kota atau Kabupaten Pati adalah salah satu kabupaten yang berlokasi di Provinsi Jawa Tengah. Asal-usul kota Pati berdasarkan Babad Pati mengisahkan tentang Ruyung Wulan yang harus menikah dengan orang yang tidak dicintainya, yakni Menak Jasari.

Untuk mengetahui asal-usulnya, simak pembahasan berikut!

Asal-usul Kota Pati

Foto Hanya Ilustrasi: Asal-usul Kota Pati. Sumber: Tom Fisk/Pexels.com

Ahmad Suryadi, S.Pd. dalam buku berjudul Menapak Indonesia: Menelusuri Setiap Wilayah Provinsi, Kabupaten dan Kota Seluruh Indonesia Jilid 2 (Pulau Jawa) menjelaskan bahwa Pati yang luas wilayahnya mencapai 1.503,68 km persegi mempunyai kisah yang melegenda dan dipercaya masyarakat sekaligus diceritakan turun-temurun.

Kisahnya, pada zaman dahulu, ada seorang putri bernama Ruyung Wulan yang dipaksa orang tuanya menikah dengan putra dari Kadipaten Paranggaruda bernama R. Jaseri atau Menak Jasari.

Menak Jasari ini mempunyai wajah yang tidak tampan dan fisiknya cacat. Kondisi inilah yang membuat Ruyung Wulan menolaknya. Sebelum perhelatan acara pernikahan, Dewi Ruyung Wulan meminta diadakan wayang kulit dengan dalang Ki Soponyono.

Ketika hari pernikahan datang, Menak Jaseri sangat bahagia bisa bersanding dengan Dewi Ruyung Wulan. Namun, Dewi Ruyung Wulan malah melarikan diri dari pelaminan.

Ketika berlari itulah, Dewi Ruyung Wulan malah terjatuh di pangkuan dalang Soponyono. Hal ini langsung membuat Dewi Ruyung Wulan terpikat dengan wajah tampan dan kepandaiannya dalam memainkan cerita pewayangan Ki Soponyono.

Akhirnya, Ki Soponyono menyanggupi permintaan Dewi Ruyung Wulan. Ia pergi bersama Dewi Ruyung Wulan dan kedua adik Ruyung Wulan.

Ketika mereka sampai di Dukuh Bantengan (Trangkil) kawasan Panewon Majasemi, mereka malah ditangkap karena dianggap sebagai maling oleh Penewu Sukmoyono.

Pada penangkapan ini, Ki Soponyono menceritakan bagaimana mereka berempat bisa berada di dukuh tersebut. Setelah itu, Penewu Sukmoyono bersedia melindungi mereka.

Pada suatu hari, ada anak buah Paranggaruda bernama Yuyu Rumpung mengetahui di mana buruan mereka bersembunyi, yakni Ki Soponyono, Dewi Ruyung Wulan, dan kedua adiknya.

Maka terjadilah perang antara Paranggaruda dan Penewu Sukmayono yang mengakibatkan Penewu Sukmayono gugur dan perang ini memakan banyak korban lainnya. Namun, atas bantuan Raden Kembangjoyo, akhirnya Adipati Paranggaruda bisa dikalahkan.

Kemudian, Raden Kembangjoyo dan Raden Soponyono menuju hutan Kemiri dan membuka hutan di lokasi tersebut. Pada saat pembabatan hutan, Raden Kembangjoyo bertemu seorang pemikul dawet bernama Ki Saloga.

Dawet tersebut rasanya segar, manis, dan terbuat dari Pati Aren dicampurkan gula aren dan santan kelapa. Kemudian, Raden Kembangjoyo terinspirasi untuk menamai hutan yang sedang ia babat tersebut dengan nama Kadipaten Pati Pesantenan.

Demikianlah penjelasan tentang asal-usul Pati menurut Babad Pati yang dipercaya masyarakat sekitar. (eK)