Asal-usul Tradisi Ma'Nene di Toraja

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi Ma’Nene di Toraja termasuk salah satu tradisi yang sakral. Tradisi ini dikenal sebagai ritual yang berlangsung turun-temurun. Bagaimana asal-usul Tradisi Ma'Nene?
Dikutip dari Buku Tradisi Mappaenre Bunge Dalam Perspektif Agama & Kesehatan, Mutmainna dkk, (2024: 79), tradisi adalah suatu norma adat istiadat, kaidah-kaidah. Tradisi perpaduan dengan berbagai perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya.
Asal-usul Tradisi Ma’Nene
Asal usul tradisi Ma’Nene merupakan salah satu tradisi suku Toraja, yaitu ritual membersihkan mayat leluhur atau yang dituakan yang sudah berusia puluhan sampai ratusan tahun.
Di balik tradisi ini, ternyata ada cerita rakyat yang diyakini sebagai awal dilakukannya, yaitu oleh suku Toraja terdahulu.
Adapun tradisi Ma’Nene adalah salah satu tradisi warisan nenek moyang Suku Toraja yang sampai saat ini masih dilestarikan dan menjadi salah satu kebanggaan yang sudah ada dari dulu sampai sekarang.
Konon, tradisi diturunkan dari kisah seorang pemburu Toraja bernama Pong Rumase. Cerita asal-usul tradisi ini, adalah warga Lepong Bulan, wilayahnya meliputi Gowa, Luwu Bastem, Makassar, Toraja, Mamasa, dan sekitarnya sebelum Sulawesi dipetakan.
Pong Rumase meninggal dunia di dalam hutan saat melakukan perjalanan, tulang belulang dari jasadnya lalu ditemukan seorang pemuda asal Baruppu yang juga merupakan saudara Seregading (Sawerigading) yang hendak mengadu ayam yang lalu dikubur di dekat tebing atau gunung.
Ritual ini biasanya dilakukan setiap tahun pada Agustus, saat musim kemarau tiba. Namun, karena biaya yang cukup mahal dan kesulitan koordinasi antara anggota keluarga yang berada di luar Toraja, ritual ini juga bisa dilakukan tiga tahun sekali atau sesuai kesepakatan keluarga.
Tahapan Ritual Ma’Nene
Ritual ini meliputi beberapa tahapan, yaitu:
Mengorbankan hewan seperti kerbau atau babi sebagai tanda penghormatan kepada leluhur atau permohonan supaya ritual berjalan lancar.
Membuka ilang kubur, yaitu tempat penyimpanan jenazah yang berbentuk seperti rumah atau batu.
Mengeluarkan jenazah dari peti mati dan membersihkannya dengan air atau daun sirih
Mengganti pakaian dan kain kafan jenazah yang baru sesuai jenis kelamin, status sosial, dan selera jenazah saat masih hidup.
Memberikan barang-barang yang disukai jenazah seperti kopi, roko, perhiasan sebagai tanda kasih sayang.
Mengajak jenazah berbincang-bincang, mengabarkan kabar terbarunya, atau meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan.
Mengembalikan jenazah ke dalam peti mati dan menutup kembali ilang kuburnya.
Demikian asal-usul Tradisi Ma’Nene di Toraja. Tradisi ini dianggap penting bagi masyarakat Toraja untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia dan leluhurnya. (NOV)
Baca juga: Kasta Orang Toraja: Tradisi dan Maknanya
