Faktor Pendorong Tokoh Nasionalis Bersikap Kooperatif terhadap Jepang

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Para tokoh nasionalis Indonesia pernah melakukan berbagai macam upaya untuk meraih kemerdekaan, salah satunya bersikap kooperatif terhadap Jepang. Apakah yang mendorong para tokoh nasionalis bersikap kooperatif terhadap Jepang?
Salah satu faktor pendorong sikap kooperatif tersebut adalah menanamkan paham nasionalisme kepada para pemuda melalui organisasi bentukan Jepang. Jadi, misi untuk mewujudkan rasa persatuan, kesatuan, dan nasionalisme dapat tercapai.
Apakah yang Mendorong Para Tokoh Nasionalis Bersikap Kooperatif terhadap Jepang?
Setelah ratusan tahun mengalami penjajahan oleh bangsa Belanda, Indonesia belum juga memperoleh kemerdekaan. Padahal, perlawanan terhadap Belanda sudah gencar terjadi di banyak wilayah Indonesia.
Namun, perlawanan masih bersifat kedaerahan dan persenjataannya masih kalah dengan penjajah. Kondisi itu akhirnya membuat banyak perlawanan yang berakhir gagal.
Walaupun demikian, bangsa Indonesia termasuk para tokoh nasionalis tidak gentar untuk memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Salah satu bukti ketidakgentaran tersebut adalah tokoh nasionalis melakukan berbagai upaya untuk merdeka.
Tokoh nasionalis bahkan memilih untuk bersikap kooperatif terhadap Jepang yang juga merupakan penjajah Indonesia. Apakah yang mendorong para tokoh nasionalis bersikap kooperatif terhadap Jepang?
Faktor yang mendorong para tokoh nasionalis mengambil sikap tersebut ada banyak. Beberapa di antaranya, yaitu:
Jepang masuk ke Indonesia dengan menanamkan nilai-nilai militer sehingga perlawanan dengan menggunakan tenaga atau secara fisik bisa berakhir kalah.
Jepang tidak mengakui organisasi selain organisasi yang bertujuan memenangkan Perang Asia Pasifik.
Kondisi itu kemudian membuat tokoh nasionalis mengambil siasat untuk berjuang secara moderat atau lunak. Jadi, Jepang tidak semakin keras atau menghancurkan bangsa Indonesia.
Tujuan Tokoh Nasionalis Bersikap Kooperatif terhadap Jepang
Sebelum Jepang datang, Indonesia mengenal Ramalan Jayabaya. Mengutip dari buku Demi Bangsaku, Alam (2003: 141), ramalan tersebut adalah bangsa kulit kuning akan membebaskan rakyat Indonesia dari orang kulit putih.
Ramalan tersebut merupakan salah satu penyebab Jepang mendapat sambutan hangat dari Indonesia. Pada masa itu, Bung Karno memanfaatkan Ramalan Jayabaya sebagai upaya pendekatan dialogis terhadap rakyat.
Ketika datang, Jepang pun mengambil hati rakyat Indonesia dengan membebaskan tokoh pergerakan yang ditawan oleh Hindia Belanda. Mengutip dari buku Sejarah 3 SMP Kelas IX karya Prawoto (2007: 10), Jepang menawarkan kerja sama terhadap tokoh pergerakan Indonesia, antara lain:
Ir. Soekarno;
Drs. Moh. Hatta;
K. H. Mas Mansyur; dan
Ki Hadjar Dewantara.
Namun, Jepang tidak secara serta-merta melakukan kebaikan itu. Jepang melakukannya hanya untuk mengambil hati rakyat, artinya ada misi lain di balik tindakan tersebut.
Selain Jepang, Tokoh nasionalis Indonesia juga memiliki misi lain. Pada masa itu, Jepang hanya seolah-olah baik agar dapat memanfaatkan potensi Indonesia untuk membantunya perang melawan sekutu.
Jepang bahkan hanya mengakui organisasi yang dibentuk dengan tujuan memenangkan Perang Asia Pasifik. Melihat kondisi tersebut, para tokoh nasionalis memanfaatkan peluang.
Para tokoh tersebut memanfaatkan organisasi bentukan Jepang untuk menanamkan paham nasionalisme kepada para pemuda. Jadi, kekuatan internal berupa rasa persatuan, kesatuan, dan cinta tanah air pun dapat menguat dalam diri pemuda Indonesia.
Jadi, apakah yang mendorong para tokoh nasionalis bersikap kooperatif terhadap Jepang? Para tokoh Nasionalis, seperti Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, K. H. Mas Mansyur; Ki Hadjar Dewantara memiliki misi untuk melawan penjajah dengan taktik kooperatif. (AA)
