Konten dari Pengguna

Filosofi Nagasari sebagai Panganan Tradisional yang Tak Habis Dimakan Zaman

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Iliustrasi filosofi nagasari, Foto: Pixabay/luckyhand2010
zoom-in-whitePerbesar
Iliustrasi filosofi nagasari, Foto: Pixabay/luckyhand2010

Kue tradisional Indonesia memiliki ciri ragam khas yang berbeda dan cita rasa yang nikmat, seperti adanya kue nagasari. Terdapat filosofi nagasari yang dapat diketahui masyarakat secara umum.

Kue nagasari biasanya dibuat dengan cita rasa khas nikmat tentunya sangat cocok untuk lidah masyarakat Indonesia. Kue nagasari menjadi tradisi makanan tradisional yang tak habis oleh zaman.

Filosofi Nagasari

Iliustrasi filosofi nagasari, Foto: Pixabay/Daria-Yakovleva

Dikutip dari buku Filosofi dan Histori Budaya dan Makanan Tradisional Nusantara, Dr. Saeful Kurniawan, (2024: 42-42) filosofi nagasari memiliki makna tersembunyi yang tak habis oleh zaman.

Konon kue basah nagasari berasal dari daerah penghasil beras terbesar di Jawa Barat, yaitu Indramayu. Namun kue nagasari banyak ditemui di beberapa wilayah di Jawa.

Rupanya kue nagasari ini memiliki makna yang tidak sembarangan, biasanya kue nagasari dibuat untuk acara kematian dan kehadirannya seakan membawa sial.

Kue nagasari terbuat dari tepung beras, tepung sagu, santan, dan gula, kemudian diisi dengan daun pisang, atau ada yang membungkusnya menggunakan daun pandan.

Filosofi nagasari ternyata bukan dari bahan bakunya, namun dari namanya tersendiri.

Naga yang berarti hewan legenda yang menjadi lambang hewan kehormatan di Cina dan Sari diibaratkan sebagai isi dari suatu benda.

Apabila digabungkan penamaannya memiliki arti yang melambangkan kehormatan dan isi dari suatu benda. Maksudnya dari apa yang dilakukan oleh seseorang yang terpenting adalah isi utamanya yang dianggap terhormat.

Artinya saat seseorang melakukan suatu kebaikan maka harus diiringi dengan ketulusan hati supaya diberkahi oleh Tuhan.

Bahkan konon nagasari memiliki sejarahnya tersendiri, yang berasal dari Kerajaan Pajang pada abad ke 16 M.

Di mana makanan kue nagasari disuguhkan oleh Adipati Hadiwijaya atau Jaka Tingkir saat sosok pendeta Mahawiku Astapaka sedang melakukan perjalanan ke Candi Borobudur Yogyakarta.

Dari asal sejarahnya kue nagasari memiliki lambang ketulusan hati dan berupaya mendoakan kebaikan kemurahan Tuhan yang Maha Esa agar dijauhkan dari segala macam keburukan.

Hal tersebut merupakan filosofi nagasari yang dapat diketahui oleh masyarakat sehingga adanya kue tradisional tersebut memiliki makna yang baik.

Baca juga: Filosofi Onde-Onde yang Tersembunyi dalam Kue Tradisional