Green Boots Everest dan Misteri Pendaki yang Membeku di Jalur Summit

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Green Boots Everest telah menjadi bagian tak terpisahkan dari jalur pendakian timur laut yang dilalui banyak ekspedisi dan pendaki menuju puncak tertinggi dunia.
Keberadaannya selama bertahun-tahun menimbulkan beragam spekulasi, baik dari sesama pendaki maupun peneliti dunia pendakian ekstrem.
Sosok ini kemudian dikenal luas bukan hanya karena posisinya yang mencolok, tetapi juga karena kisah tragis yang menyertainya.
Green Boots Everest
Green Boots Everest telah menjadi simbol tragis yang tak terelakkan bagi siapapun yang melintasi jalur timur laut menuju puncak Gunung Everest.
Dikutip dari laman ultimatekilimanjaro.com, sosok ini diyakini sebagai Tsewang Paljor, seorang pendaki asal Sakti, Ladakh, India, yang tergabung dalam satuan Indo-Tibetan Border Police.
Ia lahir pada 10 April 1968 dan tumbuh di tengah medan pegunungan yang keras, yang membentuk semangat serta keterampilannya sebagai pendaki.
Bergabung dengan ITBP tidak hanya menjadi tugas kenegaraan, tapi juga jalan untuk menggapai impiannya sebagai penakluk ketinggian Himalaya.
Pada musim semi 1996, Paljor menjadi bagian dari ekspedisi resmi ITBP yang bertujuan menaklukkan Gunung Everest dari sisi timur laut, tanpa bantuan Sherpa.
Ekspedisi itu dipimpin oleh Komandan Mohinder Singh, dan terdiri dari enam pendaki yang terlatih.
Saat badai mulai menerjang puncak Everest, tiga anggota tim termasuk Paljor tetap melanjutkan perjalanan ke atas, sementara tiga lainnya mundur ke kamp.
Sekitar pukul 15.45 waktu Nepal, Paljor dan dua rekannya mengabarkan bahwa mereka telah mencapai puncak, namun kabar itu kemudian diragukan karena kondisi cuaca membuat orientasi lokasi sangat terbatas.
Setelah transmisi terakhir itu, tidak satu pun dari ketiganya kembali. Cahaya samar dari headlamp terlihat oleh tim yang menunggu di bawah, namun sosoknya menghilang di balik Second Step, bagian curam di ketinggian 8.570 meter.
Beberapa waktu setelahnya, jasad seorang pendaki ditemukan terbaring di bawah ceruk batu di ketinggian 8.500 meter dengan sepatu hijau terang yang mencolok.
Jasad itu tidak pernah dipindahkan dan dikenal luas sebagai Green Boots, menjadi penanda jalan bagi para pendaki yang melewati jalur tersebut selama bertahun-tahun.
Namun, identitas pastinya masih diperdebatkan karena minimnya bukti fisik yang bisa mengonfirmasi siapa sebenarnya jasad itu.
Wakil pemimpin ekspedisi, P.M. Das, menyampaikan pendapat berbeda lewat sebuah tulisan pada tahun 1997 yang memicu kontroversi soal identitas Green Boots Everest.
Menurutnya, jasad yang ada di ceruk batu itu kemungkinan besar bukan Tsewang Paljor, melainkan Dorje Morup, rekan satu tim Paljor.
Pendapat itu muncul setelah tim Jepang yang juga mendaki saat itu mengaku melihat Morup dalam keadaan sangat lelah, mengalami frostbite, dan mengalami kendala teknis dengan tali pengaman saat berada antara First dan Second Step.
Salah satu Sherpa dari tim Jepang bahkan mengaku melihat Paljor dalam kondisi linglung di jalur yang sama, tetapi tak lama kemudian ia pun menghilang dari pandangan.
Saat turun dari puncak, tim Jepang kembali melihat Morup berada di bawah First Step, berjalan dengan sangat lambat dan tampak kesulitan.
Jasad Smanla, pendaki ketiga dalam tim Paljor, ditemukan di atas Second Step, memperkuat dugaan bahwa satu per satu anggota tim tersebut terhenti di titik yang berbeda.
Karena lokasi penemuan Green Boots sangat dekat dengan jalur turun dan ditemukan dengan perlengkapan lengkap, P.M. Das menduga Morup adalah jasad yang selama ini dijuluki Green Boots.
Sementara Paljor kemungkinan besar jatuh ke sisi Kangshung Face dan jasadnya tidak pernah ditemukan.
Green Boots Everest tidak hanya menjadi simbol kehilangan, tetapi juga gambaran nyata betapa keras dan tak kenalnya alam terhadap siapa pun yang berani menantangnya.
Upaya untuk memindahkan jasad tersebut hampir tidak pernah dilakukan karena risiko keselamatan yang tinggi dan medan ekstrem di zona kematian.
Suhu minus, oksigen tipis, dan medan terjal membuat proses evakuasi dari ketinggian 8.500 meter hampir mustahil tanpa mengorbankan nyawa lainnya.
Banyak jasad lain yang juga dibiarkan di tempat karena dianggap lebih aman dan lebih menghormati keinginan terakhir pendaki.
Meskipun sempat dikabarkan menghilang pada tahun 2014, jasad Green Boots Everest terlihat kembali oleh beberapa pendaki pada 2017, meskipun dengan kondisi lebih tertutup bebatuan.
Tidak diketahui apakah tubuh itu dipindahkan oleh tim ekspedisi lain atau tertutup oleh longsoran salju dan batu secara alami. Namun, keberadaannya tetap menjadi salah satu kisah paling terkenal sekaligus paling menyedihkan dalam sejarah pendakian Everest.
Ia menjadi pengingat sunyi bahwa tidak semua orang yang naik ke puncak, akan kembali menuruni gunung dengan selamat.
Secara keseluruhan, Green Boots Everest tetap menjadi ikon sunyi yang menyuarakan kisah kegigihan, kehilangan, dan batas ekstrem dari ambisi manusia di hadapan alam yang tak terbendung. (Shofia)
Baca Juga: Kenapa Gunung Everest Bersalju Sepanjang Tahun? Ini Alasannya
