Hasil Akulturasi Budaya Masa Hindu-Budha di Indonesia dalam Bidang Sastra

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hasil akulturasi budaya masa Hindu-Budha di Indonesia dalam bidang sastra sangat beragam dan hasil akulturasi ini menjadi salah satu faktor pembentuk identitas nasional. Bahkan akulturasi budaya tersebut masih dapat dinikmati generasi sekarang.
Untuk mengetahui lebih lanjut, simak penjelasan di bawah ini!
Hasil Akulturasi Hindu-Budha dalam Bidang Sastra
Drs. Sardiman A.M, M.Pd. dalam buku berjudul Sejarah 2 Program Ilmu Sosial SMA Kelas XI menjelaskan bahwa akulturasi adalah proses perpaduan dua kebudayaan atau lebih yang selanjutnya melahirkan bentuk kebudayaan baru, namun unsur-unsur penting dari masing-masing kebudayaan (baik kebudayaan yang lama maupun yang baru) masih lestari.
Inilah beberapa hasil akulturasi budaya Hindu-Budha dalam bidang sastra:
1. Hikayat
Hikayat merupakan karya sastra yang isinya cerita sejarah menarik, penuh dengan keajaiban, maupun hal-hal yang kadang tidak masuk akal. Penulisan hikayat dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh dari hikayat adalah:
Hikayat Iskandar Zulkarnain
Hikayat Raja-Raja Pasai
Hikayat Bayan Budiman
Hikayat Panji Wilakusuma
2. Suluk
Suluk merupakan karya sastra berupa kitab-kitab yang isinya menjelaskan soal-soal tasawuf. Contoh suluk adalah:
Suluk Sukarsa, berisi kisah perjalanan hidup Ki Sukarsa dalam mencari ilmu demi mendapatkan kesempurnaan dalam hidup.
Suluk Wujil, isinya tentang wejangan maupun ajaran Sunan Bonang kepada Wujil, yaitu seseorang kerdil yang pernah menjadi abdi Kerajaan Majapahit.
Suluk Malang Sumirang, isinya penghormatan dan pujian kepada seseorang yang sudah mencapai kesempurnaan, mendekatkan diri, serta menyatu dengan Tuhan.
3. Babad
Babat berisikan tentang cerita sejarah, namun isinya tidak semua berdasarkan fakta. Penulisan babad isinya campuran antara sejarah dan fakta, serta kepercayaan.
Hal itulah, kenapa babad sering dimiripkan dengan hikayat. Contoh babad adalah:
Babad tanah Jawi
Babad Mataram
Babad Cirebon
4. Tiga Jenis Kesusastraan
Nur Hasanah dalam buku berjudul BPCS : Ilmu Pengetahuan Sosial SD/MI Kelas VI menjelaskan bahwa pengaruh Hindu-Buddha terhadap seni sastra di Indonesia berdasarkan kesusastraannya bisa dikelompokkan menjadi tiga jenis, yakni tutur (pitutur kitab keagamaan), kitab hukum, serta Wiracarita (Kepahlawanan).
Bentuk wiracarita sangat terkenal di Indonesia, utamanya kitab Ramayana dan Mahabarata. Selanjutnya muncul wiracarita yang berasal dari gubahan para pujangga Indonesia. Contohnya, Baratayuda yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.
Karya sastra yang berkembang ini, utamanya dari Mahabarata dan Ramayana melahirkan seni pertunjukkan wayang kulit. Cerita dalam pewayangan yang memunculkan tokoh-tokoh punakawan, Semar, Gareng, dan petruk dan tokoh ini tidak ada di India.
Itulah penjelasan tentang hasil budaya Hindu-Budha di Indonesia dalam bidang sastra yang masih lestari hingga sekarang. (eK)
